Oleh: Syaifuddin Gani
(Peneliti sastra di Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Divisi Infokom Forum TBM)
Dari manakah kita mengetahui pandangan hidup, realitas sosial, dan estetika berbasis bahasa yang dikreasikan oleh masyarakat? Salah satunya adalah puisi! Puisi adalah suara terdalam yang dilahirkan oleh penyair sebagai bentuk kepekaan atas realitas masyarakat tempat ia hidup dan mengecap segala dinamikanya. Antologi puisi Layang-layang Tak Memilih Tangan adalah karya penyair Nusantara yang tersebar di berbagai negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia. Para penyair yang—salah satunya—dipertautkan oleh akar yang sama, yakni bahasa Melayu, mengungkapkan suara zaman yang berdenyut di negaranya masing-masing.
Para penyair menafsir tema “Puisi untuk Perdamaian dan Persaudaraan” sebagai alas penciptaan karyanya. Perdamaian dan persaudaraan dianggap menjadi isu penting saat ini, ketika berbagai wilayah dunia berada dalam amuk perang yang menghancurkan manusia dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Perang, sepertinya tidak lagi mempertimbangkan kemanusiaan dan nyawa manusianya. Ancaman perang, dengan demikian retaknya persahabatan, tidak hanya mengemuka di luar sana, tetapi juga di dalam negeri, bahkan dalam skala kecil di wilayah lokal setiap penyair. Di sini, kita bisa mencerna suara paling sublim dan lirih yang diungkap penyair. Manusia mana pun yang terserak di muka bumi, tak pernah memilih untuk lahir sebagai bangsa apa dan di benua mana ia terlontar dari rahim sang bunda. Ia, sebagaimana puisi Layang-layang Tak Memilih Tangan karya Abdul Hamid Abdul Halim dari Malaysia yang sekaligus judul buku ini, ibarat layang-layang tak pernah memilih tali/ namun ia terbang bebas di langit tanpa sempadan. Buku ini, adalah potret perkembangan sastra di ASEAN diciptakan penyair yang mewakili berbagai era, dari generasi Baby Boomers sampai Gen Z. Membacanya, kita memasuki dunia batin penyair, dunia batin bangsa, dunia batin Nusantara.
Negara-negara di Asia Tenggara yang terhimpun di dalam organisasi ASEAN, semakin terhubung, melampaui batas geografi, yang dikerjakan para penyair melalui puisi yang diciptakannya. Puisi para penyair ini diluncurkan dan didiskusikan saat Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII yang dilangsungkan di Jakara. Jika hubungan antarnegara ASEAN, timbul-tenggelam akibat politik, militer, dan keamanan, maka para penyairnya justru merekatkan persaudaraan dan yang retak itu melalui puisi. Perkembangan kiwari, memang mengatakan demikian. Antarsesama ASEAN kini tak segan-segan saling mengirim bom dan peluru. Bahkan, perkembangan paling mutakhir, Indonesia akan segera menjadi negara pertama ASEAN yang memiliki kapal induk–walaupun bekas dari Italia. Ini seiring dengan strategi politik yang dimainkan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto sebagai presiden yang berlatar belakang militer. Ini tentu dapat ditafsir dalam perspektif keamanan dan pertahanan, juga pertimbangan negosiasi dalam lingkup ASEAN, maupun Asia.
Lalu, bagaimana para penyair ASEAN dalam membaca perdamaian, juga persaudaraan sebagai strategi budaya, di tengah negaranya masing-masing menyiapkan strategi yang lain? Mari kita lihat melalui puisinya!
Permainan Sederhana sebagai Cermin Dunia yang Retak
Pada buku ini, kita melihat bentangan karya yang indah sebagai buah dari kecanggihan penyair mengolah bahasa. Bahasa sebagai medium puisi itu digali dari kekayaan bahasa nasional dan juga dipengaruhi lokalitas masing-masing penyair. Kita akan melihat sebuah dunia yang bersahaja, sekaligus ganjil.
Hal yang menarik pada buku ini adalah, ditetapkannya puisi Abdul Hamid Abdul Halim dari Malaysia “Layang-Layang Tak Memilih Tangan” sebagai judul buku ini. Para kurator yang terdiri atas Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, Maman S. Mahayana (ketiganya dari Indonesia–sepertinya untuk pertama kalinya penyelenggaraan PPN, kurator dari negara yang sama), tentunya memiliki alasan khusus untuk memilih puisi ini untuk nampang sebagai identitas utama buku ini.
Untuk lebih jelasnya, mari baca puisi dimaksud.
Layang-Layang Tak Memilih Tangan
Di hujung sawah
anak-anak bermain langit
dengan layang-layang
dari kertas surat khabar kemarin
dan benang dari mesin jahit ibu.
Matahari tak memilih warna kulit
angin tak memilih bahasa untuk bertiup
layang-layang kertas dari tangan berlainan
berdansa di langit yang satu
di bumi, benang-benangnya
masih saling menegangkan arah.
Gelak tawa mereka menterjemah
bahasa tubuh yang belum dijajah huruf
bertengkar kecil demi sehelai angin
namun pantas berdamai kembali
dengan segenggam keropok
dan sebatang ais krim malaysia.
Layang-layang tak pernah memilih tali
namun ia terbang bebas di langit tanpa sempadan
biarpun mereka takpernah belajar sejarah
namun lebih mengerti erti merdeka
daripada pembaca naskah perjuangan
yang tak pernah turun ke medan tempur.
Namun takdir boleh berubah haluan
layang-layang yang tak pernah memilih tali
akhirnya dijatuhkan
oleh tangan yang ingin paling mengawalnya
Bandar Baru Bangi, 2025
Penyair mampu membawa pesan perdamaian dari sebuah “permainan” layang-layang saja. Pada mulanya, penyair mengawali puisinya dengan latar dunia kanak-kanak yang asik bermain layangan. Artinya kekuatan puisi adalah pada personifikasi dunia anak yang lugu. Dunia anak pada puisi adalah dunia merdeka, tidak ada perbedaan yang menyebabkan mereka bertengkar dan terpecah.
Penyair berhasil mengajak pembaca ke dunia domestik keluarga, khususnya pada ketekunan dan kesederhanaan seorang ibu, yang lewat tangannya menjahit layang-layang dari bahan surat khabar bekas. Puisi ini menganjurkan pula hidup sederhana yang mengajarkan kebersahajaan. Sebuah dunia domestik yang mahal, yang selalu terancam pada dunia eksternal yang banal.
Abdul Hamid Abdul Halim mengetengahkan perspektif yang sublim tentang matahari yang tak memilih warna kulit untuk ia sapa melalui cahayanya yang terang. Begitu juga dengan angin tak memandang asal-muasal bahasa manusia untuk menentukan arah tiupannya. Di sinilah letak kepiawaian sang penyair untuk mendulang dan menyiarkan makna yang jarang digali penyair lain, yakni kedalaman pesan yang dipetik dari “sekadar” permainan layang-layang dari kaum budak-budak ini.
Indahnya kepolosan sangat terasa pada puisi ini. Pada saat yang sama, dapat kita petik bahwa betapa sengkarutnya dunia kaum dewasa, yang akan kita ketahui di akhir puisi. Pembaca akan diarak ke belakang, jauh ke masa silam, ketika Gelak tawa mereka menterjemah/bahasa tubuh yang belum dijajah huruf. Sebagai puisi imajis, karya ini seakan mempertontonkan dunia visual yang penuh gelak tawa yang apa adanya, sebelum ia terbentur kekuasaan tangan orang dewasa. Keberhasilannya, menurut saya, adalah ketika kita seakan ada di dunia kanak itu dan tengah menarik sebuah layang-layang! Sebuah dunia imaji yang filmis, sebagai rekaan fiksional yang berhasil diciptakan pengarangnya. Sebuah dunia yang menjadi!
Larik bahasa tubuh yang belum dijajah huruf menjadi amsal tubuh manusia setelah menyejarah, yakni ketika ia sudah dinodai sengkarut sosial yang di dalamnya sudah berpilin antara politik, identitas, mungkin isu SARA, batas negara, korupsi, penyakit, pembunuhan, kegilaan perang, dan hasrat untuk saling menguasai. Betapa relevannya situasi itu dengan kekinian negara-negara ASEAN, asal-mula penyair Nusantara, ini. Relasi kuasa antarnegara ASEAN begitu terasa saat ini yang fondasinya mulai goyah untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, berpengaruh, dan menjadi pemimpin. Apalagi jika dihubungkan dengan polemik Laut Cina Selatan, perang ekonomi, kebijakan Trump, perang Gaza, dan proposal yang disebut Board of Peace yang terasa justru bertentangan dengan semangat kesetaraan dan perdamaian. Isu yang juga dimaknai ulang oleh para penyair. Bagaimana para penyair melihat ini, ketika Indonesia satu-satunya yang berasal dari ASEAN menjadi anggota Board of Peace, yang kemudian para penyair menerawangnya dalam kacamata romantis dalam perspektif kenusantaraan?
Apakah Indonesia telah meninggalkan sesama rumpunnya? Mungkin ia. Tetapi apakah ia atau tidak, para penyair ingin merekatkan hubungan yang kelak akan retak itu, sebagaimana yang diserukan penyair Goenawan Mohamad 53 tahun silam. Ketika sajak itu ia siarkan pertama kali di Horison tahun 1973.
Lanjut. Puisi Abdul Hamid Abdul Halim ini memang terikat dengan dunia Malaysia sebagai konteks penciptaannya, sebagaimana dalam dua larik dengan segenggam keropok/ dan sebatang ais krim malaysia. Di sini disebut langsung ais krim Malaysia sebagai penanda latar ruang. Ini adalah permakluman bahwa penyair tidak menulis dalam kertas kosong, tetapi menubuh bersama konteks sosial Malaysia itu sendiri, lewat makanan khasnya yang juga terkenal sampai di Indonesia melalui TikTok, ais krim Malaysia. Akan tetapi, justru di sini takdir puisi bekerja. Pesan puisi ini menjadi universal, menembus batas negara, termasuk Indonesia. Ketika kaum dewasa mengambil alih dunia, maka betapa terasa rapuh dan berharganya keriangan dan kepolosan dunia kanak itu!
Penyair rupanya tidak ingin berlama-lama dalam romantisisme dunia kanak. Ia menutup puisinya dengan memasukkan tangan orang dewasa, sebagaimana bait terakhir berikut.
Namun takdir boleh berubah haluan
layang-layang yang tak pernah memilih tali
akhirnya dijatuhkan
oleh tangan yang ingin paling mengawalnya
Masa kanak memang tidak begitu lama. Ia akan perlahan raib seiring pertumbuhannya menuju remaja. Dunianya akan begitu cepat rebak saat hadirnya campur-tangan orang dewasa yang sok kuasa, dan memperlihatkan dominasinya untuk “menunjukkan ke jalan yang benar.” Baris oleh tangan yang ingin paling mengawalnya mengisyaratkan hadirnya intervensi manusia dewasa yang memegang kendali kebenaran!
Selamat memasuki dunia orang dewasa. Lihatlah, manusia bergelimpangan satu-satu akibat perang Rusia-Ukraina. Anak-anak dan perempuan Gaza-Palestina setiap saat berguguran bersama runtuhnya bangunan-bangunannya di Gaza. Bahkan info terkini, puluhan nyawa menguap ke udara oleh bom tercanggih yang melantakkan daging-tubuh menjadi angin belaka. Berkat tangan orang dewasa jugalah Trump secara semena-mena menaikkan tarif pajak bagi negara lain yang ingin jualan di negaranya. Wajah kebenaran menjadi pucat. PBB tiba-tiba seperti tak bertaji. Bayang-bayang Perang Dunia III tiba-tiba mengental di udara. Bom sewaktu-waktu dikirim oleh drone yang langsung memasuki jendelamu, melalui remote control tangan orang dewasa.
Puisi Abdul Hamid Abdul Halim, tentulah secara tekstual, ia beresonansi dengan kenyataan di luarnya. Aprinus Salam (2025) telah mengkonfirmasi hal dimaksud. Katanya, pengarang tidak mungkin memiliki pandangan sendiri. Ia pasti menyuarakan pandangan dunia sosial (trans-individual-subject) yang disampaikan secara imajinatif dan konseptual dalam karya sastra.
Akan halnya dengan “Layang-layang Tak Memilih Tangan”, ia berdepan-depan dengan realitas yang mengitarinya, baik yang bergerak di negeri tempat ia mencipta, maupun yang bergema nun jauh di benua sana.
Ladang sebagai Kiblat: Damai yang Tumbuh dari Tanah Sabar
Puisi LK Ara seorang penyair senior dari Indonesia berjudul “Damai di Ladang Kopi” tidak kalah indahnya. Puisinya memadupadankan suara religiusitas yang digali dari lokalitas dunia petani kopi. Berikut ini puisinya.
Damai di Ladang Kopi
Matanya kabur,
Tapi ia menatap zaman
Seperti Nabi menatap umat
Yang lupa kiblat
Di ladang kopi,
Ia bukan hanya petani–
Tapi penjaga sunyi
Yang menanam damai
Seperti menanam doa
Dalam tanah sabar
“Jika damai tak turun dari langit,
Biar kutumbuhkan dari dada,
Dengan zikir,
Dengan maaf
Yang tak minta dibalas.”
Warisannyaa bukan emas,
Tapi ladang yang wangi
Dan kalimat:
“Jadilah pohon,
Yang tetap berbuah
Meski tak disembah manusia.”
Kalanareh, April 202
Penyair menggunakan sudut pandang ia sebagai suara yang ia sematkan pada puisinya, yang matanya kabur berdepan-depan dengan zaman. Vibes religiusitas segera membuncah sejak bait pertamanya.
Sebagai pembaca, kita bisa mencandra resonansi keilahian pada puisi LK Ara yang tidak lahir dari penyerahan diri di dalam masjid atau pencarian jauh ke kota-kota suci, tetapi justru dari dunia yang digeluti setiap masyarakat yang mencurahkan secara total hidupnya dari berladang. Puisi ini memaklumatkan bahwa petani pun memiliki sumbangsihnya sendiri terhadap elan perdamaian yang ia persembahkan dari ladang kopi yang sunyi. Dapatlah pula kita tarik ke dampak sosial ekonomi dari ladang kopi bahwa kemakmuran itu tumbuh dari pucuk harum kopi yang dapat menenangkan masyarakat secara lahir batin. Kebutuhan keseharian petani kopi sangat mungkin terpenuhi sampai titik tertentu yang dari padanya melahirkan rasa damai di dadanya. Kata penyair, menanam damai, seperti menanam doa, dalam tanah yang sabar. Penyair tidak mengatakan tanah subur, tetapi tanah sabar. Yah, tanah yang sabar tentu saja lahir dari kesabaran dan kesuburan hati petaninya.
Tentu saja, untuk melahirkan tanah sabar, tidak boleh ada senjata dan suara dentuman di antara tegak pohon dan hijau daunnya.
Kekuatan puisi terletak pada kemampuan unsur-unsur puitiknya untuk mengungkap bahwa lahirnya kedamaian itu tidak selalu berurusan dengan faktor eksternal, misal relasi dengan musuh dari luar, tetapi justru berkorelasi kuat dengan faktor dari dalam, katakanlah dengan ketahanan pangan yang dimulai dari ladang kopi. Sampai di sini, kita harus sepakat bahwa puisi pun dapat meneroka ihwal pertahanan keamanan dan ketahanan pangan, lewat gaya retoris yang sublim. Artinya, penyair–dalam hal ini LK Ara– memiliki kekuatan bahasa sebagai modal mendasar puisi untuk menyelenggarakan kerja sastra, kerja kata-kata.
Pada bait ketiga, terbuhul pesan bahwa damai tidak datang dari langit keilahian melalui doa yang digerakkan manusia, tetapi justru lahir dari keluasan dada yang berzikir dan memberi maaf tak berharap balasan. Kesejatian perdamaian menyeruak dari kesediaan untuk tidak berharap keuntungan materi, tetapi dari kesediaan merelakan.
Puncak kekuatan puisi LK Ara ada pada bait terakhir. Kemahiran mengoptimalkan bahasa, piranti puitik, dan kemasan pesan menyatu hanya dalam enam baris yang pendek-pendek.
Puisi ini dibangun dengan diksi sederhana, tetapi sangat simbolik. Inilah penegasan adanya antitesis antara nilai material (emas) dan nilai hidup yang digali dari dunia agraris, yakni ladang. Baris pendek ladang yang wangi bukan sekadar representasi dunia agraris, tetapi ia adalah metafora tentang kehidupan yang berkelanjutan, hasil kerja, dan kesuburan yang memberi manfaat jangka panjang. Dapat pula ditafsir secara jenaka dan kontekstual bahwa dari ladang yang wangi, buah dari pohon yang tak disembah, ia menjadi modal eknomi untuk keberlanjutan MBG–Makan Bergizi Gratis, sebuah program penting di Indonesia.
Usia boleh menua, tetapi kata-kata tetap bertenaga lahir dari tangan LK Ara, penyair Takengon, Aceh, 12 November 1937 ini. Ia begitu cekatan mengolah benda, misalnya pohon di ladang sebagai simbol etis. Pilihan bentuk imperatif jadilah memberi nuansa ajaran atau petuah bagi generasi, bagi pembaca. Penyair tidak langsung menyebut kopi sebagai hasil dari sepetak ladang. Puisi ini menyuarakan persoalan ekologis yang kuat dan bahkan akut. Pada satu sisi, ladang dimaknai sebagai ruang hidup yang dirawat, mula bagi definisi kedamaian di batin masyarakat, di lain sisi kini ladang-ladang di Indonesia semakin terdesak ke tepi oleh program pangan Negara, yakni sawit dan pembukaan lahan sawah yang baru. Selamat datang ladang yang baru!
Puisi ini juga memberi tafsir atas posisi manusia yang dominan dalam mengatur alam. Ia mengkritik antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya. Pohon adalah amsal bagi kesetiaan pengabdian yang tetap berbuah walau diabaikan, sebagaimana alam terus memberi meski sering dirusak. Ada seruan ekosentrisme di dalamnya untuk mempertimbangkan bahwa alam berhak menjadi faktor penentu bagi keberlangsungan hidup manusia dan bagi alam itu sendiri. Pohon yang berbiak di ladang bukan sekadar mengandung nilai komoditas, tetapi terutama memberi elan ekologis yang fundamental.
Dapatlah dijelaskan bahwa karya LK Ara ini merupakan pertemuan antara kemampuan mengolah potensi bahasa (Indonesia) menjadi puisi sederhana yang kuat, pesan perdamaian dan ekologis mendalam yang ditimba dari dunia agraris, dan sisi spiritulitas dunia ladang.
Jika di tangan Abdul Hamid Abdul Halim, orang dewasa datang mengganggu dunia kebersahajaan kaum anak, maka di kepala LK Ara, orang dewasa datang dalam sebuah pertaubatan dan kesadaran ekologis!
Dari dua puisi penyair ASEAN ini, sebuah jargon lama mengemuka lagi, yakni politik adalah panglima. Pesannya adalah sudah saatnya kita menimbang lagi politik sebagai panglima bagi kemajuan sebuah bangsa. Kebudayaan adalah panglima, menjadi terasa mendesak kehadirannya. Atau setidaknya, ada pertemuan antara politik dan budaya untuk bergandengan tangan merumuskan jalan terbaik bangsa.

Soal Kekitaan, Pengucapan Segar, dan Relasi Negara
Puisi-puisi pada antologi ini menjadi sebuah elan untuk menyuarakan perdamaian, sebagaimana tema utama yang diusung panitia. Herfanda dkk (2025) mengatakan bahwa puisi-puisi dalam antologi ini dipilih karena memiliki kesamaan tema, yaitu perdamaian. Namun, perdamaian yang dimaksud bukanlah istilah politik atau slogan besar. Perdamaian justru ditampilkan secara sederhana, melalui bahasa sehari-hari, kiasan yang mudah dipahami, serta cerita-cerita pribadi yang disampaikan dengan nada lembut dan menyentuh.
Tulisan ini, memang tidak mengulik puisi dari seluruh negara-negara penyumbang karya pada buku ini. Secara khusus, penulis mengulik puisi Abdul Hamid Abdul Halim dari Malaysia “Layang-Layang Tak Memilih Tangan” yang sekaligus menjadi judul buku, juga puisi “Damai di Ladang Kopi” LK Ara dari Indonesia. Tentu saja, upaya dan tafsir ini tidak bermaksud mewakili kecenderungan makna puisi lain dan kekayaan rancang bangunnya. Sebab bagaimana pun juga setiap puisi di sini memiliki keunikannya masing-masing yang diucapkan penyair dalam berbagai negara.
Salah satu catatan mendalam mengenai buku ini, yakni tulisan salah satu kuratornya, Ahmadun Yosi Herfanda berjudul ”Puisi Nusantara Makin Kita Saja’ di Tempo, 11 Oktober 2025. Penulis buku Sembahyang Rumputan tersebut mengatakan bahwa puisi penyair dari Asia Tenggara terkini terasa seperti karya “kita saja”. Berikut ini, kutipan langsung dari tulisan Ahmadun.
“Sekarang ini, terutama puisi-puisi para penyair Malaysia, tampak mulai mengejar ketertinggalannya. Mereka tampak semakin akrab dengan cita rasa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern. Memang sudah menjadi tujuan terpenting PPN sejak awal, yakni menjayakan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di kawasan Nusantara. Saya kira, antologi-antologi puisi PPN bisa menjadi objek penelitian yang menarik untuk menjelaskan asumsi puitik tersebut.”
Banyak hal yang perlu dibuka dari pernyataan Ahmadun, terutama soal “hilal” kemajuan puisi Nusantara yang kriterianya ada dua, yakni adalah “semakin akrab dengan cita rasa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern.” Pertanyaannya adalah seperti apakah cita rasa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern itu? Ahmadun menjawabnya lagi masih pada tulisan yang sama, yakni “sudah meninggalkan gaya pengucapan lama yang mengingatkan pada puisi-puisi Pujangga Baru. Mereka sudah masuk ke gaya pengucapan baru yang jauh lebih segar.”
Tanda kemajuan dan kesegaran berbahasa itu memang ditujukan Ahmadun bagi penyair Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand Selatan yang berupaya meninggalkan cita rasa lama (bahasa) yang ditandai dengan judul yang sloganistik dan keumuman, dan gaya. Sebaliknya, puisi-puisi mereka telah menampakkan “bahasa gaya pengucapan yang baru dan segar, dengan kebebasan tipografi, kurang memperhatikan rima, tapi tetap indah dan imajinatif. Gaya pengucapannya terasa kekinian, segar, dan bercita-rasa kontemporer.”
Apa yang ditangkap Ahmadun Yosi Herfanda menjadi sebuah temuan menarik dan dapat menjadi ancangan untuk penelitian selanjutnya, sebagaimana yang ia harapkan di akhir tulisannya. Mengapa? Sebab pandangan bahwa kemajuan puisi Nusantara ditandai dengan “cita rasa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern” dapat juga dianggap sebagai “penyeragaman” puisi Nusantara itu sendiri. Apakah “pengucapan lama Pujangga Baru” benar-benar sebuah ketertinggalan? Bilamana permainan bunyi sebagai kekhasan Pujangga Baru dapat diolah kembali sebagai alas untuk pengucapan baru bagi puisi Indonesia? Apakah keberhasilan puisi Melayu dari Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand dikatakan “semakin kita” dan “segar” di dalam antologi Layang-layang Tak Memilih Tangan ini, jika berhasil menggeser kosakata lama Melayu dan pengaruh kemelayuaan misalnya dalam baris “kerana derhaka”, “engkau bagai ratna manikam khatulistiwa”, dan “adat istiadat lestari warisan takkan sirna” menjadi bahasa atau baris-baris yang lebih modern?
Apa yang ditangkap Ahmadun, sekali lagi, bahwa “akan tetapi, dan ini yang menarik, puisi-puisi mereka belakangan ini, terutama yang lolos kurasi PPN XIII Jakarta, menunjukkan gaya pengucapan yang baru dan segar, dengan kebebasan tipografi, kurang memperhatikan rima, tapi tetap indah dan imajinatif” butuh tanggapan secara utuh. Sebab, dalam berbagai kasus puisi Indonesia misalnya, justru kehadiran rima sebagai pengaruh mantra, menjadi kekuatan magis puisi.
Saat menganalisis puisi Sutardji Calzoum Bahcri (SCB) yang berjudul “Malam Pengantin”, kritikus Maman S. Mahayana (2016) mengatakan hal yang penting. Katanya, SCB berhasil mengembalikan kata kepada mantra. Kekuatan mantra itu sendiri adalah permainan kata, permainan rima. Ia menjelaskan bahwa puisi Nusantara–sambil mengutip Sutan Takdir Alisyahbana–telah mati semati-matinya, nyatanya tidak terbukti. Lanjut Maman, SCB telah berhasil mengembalikan puisi mantra (pantun, syair, dan atau puisi tradisional) menjadi kata yang sehidup-hidupnya.
Lalu, sebagaimana kita ketahui, Sutardji Calzoum Bachri adalah salah satu pendobrak puisi Indonesia. Posisinya, dalam hal ini, setara dengan Chairil Anwar, dengan segala kelebihannya masing-masing. Lalu ada apa dengan “rima” dalam puisi Nusantara pada antologi Layang-layang Tak Memilih Tangan ini, sebagaimana yang ditangkap Ahmadun sebagai sesuatu yang ditinggalkan yang membuatnya melahirkan pengucapan segar?
Ini sepertinya dua hal yang berbeda, namun sama. Atau sama, tapi berbeda. Ini persoalan yang “sudah tapi belum.” Sutardji Calzoum Bachri mengoptimalkan bunyi dan rima untuk melahirkan puisi kontemporer dan atau modern. Bukan sekadar tetap menjadi puisi tradisi. Sementara beberapa puisi lain pada buku itu, rima dan bunyi tetap memosisikan puisinya sebagai puisi yang dikutuk oleh Sutan Takdir Alisyahbana beberapa dekade silam.
Dalam konteks pembicaraan pada tulisan ini, perspektif dari Ahmadun adalah sebuah pengingat tentang bahaya rima jika hadir apa adanya dan analitik dari Maman S. Mahayana adalah sebuah lonceng bahwa rima menjadi kekuatan menentukan jika diolah kembali secara kreatif oleh penyairnya!
Pandangan Ahmadun, menarik dalam perspektif diskursus kebahasaan dan kesusastraan, jika dikaitkan dengan nasionalisme, politik bahasa, sampai pada isu sastra regional di ASEAN atau Nusantara. Mengapa demikian? Sebab temuan “kekitaan” dalam puisi Nusantara yang merujuk pada digunakannya bahasa Indonesia dan Melayu modern, tentu akan berhadap-hadapan dengan upaya pemertahanan bahasa di negara serumpun, khususnya pengguna bahasa Melayu di luar Indonesia. Semakin kuatnya pengaruh bahasa Melayu (lama) dan pandangan dunia dalam puisi pengguna bahasa Melayu, dari perspektif politik bahasa justru dianggap sebagai bentuk “nasionalime” dalam ranah sastra. Berbeda halnya dengan di Indonesia yang memang sudah memaklumatkan dirinya sejak 28 Oktober 2028 silam yang memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, sekaligus bahasa sastranya. Walaupun tentu saja, akar bahasa Indonesia itu sendiri, adalah bahasa Melayu, yang kemudian mengalami perkembangan yang signifikan.
Puisi Nusantara adalah bagian yang disebut sebagai sastra regional. Menurut Budi Darma (2019), sastra regional adalah sastra dari kawasan geografi tertentu yang mencakup beberapa negara, baik yang mempergunakan bahasa yang sama, maupun yang mempergunakan bahasa yang berbeda. Penulis Olenka tersebut melanjutkan bahwa sastra ASEAN termasuk dalam kategori ini, satu kawasan geografi tetapi menggunakan bahasa nasional yang berbeda-beda dan sastra Nusantara yang menggunakan bahasa Melayu/Indonesia di Brunei, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Puisi Nusantara sebagai sebuah objek material yang sahih, baik secara konseptual maupun secara epistemologis.
Secara tekstual, puisi Nusantara memang dianggap menggunnakan bahasa yang “sama” sebagai medium ungkapnya, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, dengan segala macam keunikan di negara masing-masing. Di luar puisi, secara kontekstual, wabilkhusus dalam frame negara-bangsa, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, tidak semesra dalam pertemuannya di dunia puisi. Ada upaya untuk saling menyalip keduanya, baik dalam lingkup ASEAN bahkan global. Beberapa negara–khususnya Malaysia dan Indonesia–bahkan ingin menjadikan bahasa Melayu dan Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN, dengan argumentasinya masing-masing.
Maman S. Mahayana, kritikus yang banyak mencurahkan pandangannya mengenai puisi Nusantara, bahkan pernah mengemukakan gagasan brilian sebagai jalan tengah untuk menciptakan bahasa “baru” sebagai identitas bagi bahasa sastra di Nusantara, yakni bahasa Nusantara, itu sendiri (2022). Penulis buku Kitab Kritik Sastra tersebut menegaskan bahwa penciptaan nama (bahasa) baru itu yakni (misalnya) bahasa Nusantara, asal dan dasarnya dari bahasa Indonesia, Malaysia, Brunei, dengan tetap mempertimbangkan perluasan dan penambahan kosa kata baru sesuai tuntutan dan perkembangan zaman.
Gagasan Maman S. Mahayana itu, salah satunya didasari oleh sengkarut dan tarik-menarik antara bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, khususnya dalam perspektif politik bahasa, khususnya penamaan penggunaan bahasa resmi ASEAN. Meskipun saran itu terasa berat untuk dapat direalisasikan, mengingat politik bahasa yang diperjuangkan masing-masing negara.
Dari perspektif yang lain, Martin Suryajaya (2024) yang mempertegas pandangan Ki Hajar Dewantara, mengatakan bahwa ada hubungan kekerabatan antara kebudayaan dan kehancuran yang tampak pada sejarah kesusastraan Indonesia modern yang terus terulang. Pendapat ini dapat dikorelasikan dengan konsep “kekitaan” dari Ahmadun dan potensi kekuatan kata yang ditemukan Maman S. Mahayana pada puisi SCB yang selain menjadi alat untuk menghidupkan puisi, tetapi sekaligus dapat menjadi gulma jika tidak diolah secara kreatif dan hati-hati.
Apa yang disebut sebagai puisi Nusantara, puisi Indonesia termasuk di dalamnya, berada dalam tarik-menarik antara upaya untuk berkemajuan dan katakanlah, kehancurannya itu. Rima, pada akhirnya bukan soal permainan kata belaka. Di balik korespondensi bunyi, ada pandangan dunia pengarangnya, yang bisa jadi ia terikat dengan pandangan dunia yang menjadi anutan negara masing-masing. Pemberontakan makna pada kata, sebagaimana yang pernah dikerjakan SCB, bisa menjadi praktik menyejarah yang patut menjadi pelajaran berharga penyair kemudian, untuk dikerjakan kembali dalam bentuknya yang lain.
Hubungan dan perbandingan antara puisi Indonesia dan Malaysia juga pernah diulik oleh Sunu Wasono (2004) dan Rahman Saari (2005). Keduanya melihat secara mendalam dan bahkan mengeritik pandangan bahwa puisi Melayu-Malaysia terpengaruh oleh puisi Indonesia, meskipun pada sisi yang lain keduanya tidak menyangkalnya. Bagi saya, perbincangan pada dua tulisan ini justru menjadi referensi mengenai adanya intertekstualitas puisi Indonesia di dalam puisi-puisi Malaysia. Meskipun demikian, butuh kajian mendalam lagi untuk menguraikannya.
Apa yang mengemuka pada bagian di atas, adalah respons atas realitas dan dinamika mutakhir sastra dan bahasa di wilayah ASEAN atau yang disebut sebagai Nusantara itu, juga mengenai perjalanan historis kesusastraan dan kebudayaan antarbangsa. Melihat hubungan puisi Indonesia dengan sesama ASEAN lainnya, sepertinya tidaklah cukup menilik dari segi perbandingannya, tetapi akan terasa utuh jika dikaitkan dengan politik bahasa keduanya.
Sebab, pertanyaan penting akan lahir, apakah indikator kemajuan puisi Nusantara itu ditentukan oleh semakin menguatkan rasa “kekitaan” sebagai elan kenusantaraan? Mungkin saja dari tinjauan pengucapan puisi, saling pengaruh, khususnya dari Indonesia ke sesama jirannya akan terjadi, sebagaimana ditengarai Ahmadun. Akan tetapi, dari segi (politik) bahasa, selalu akan terjadi dinamika bahkan gesekan yang tak terhindarkan karena ia langsung beririsan dengan identitas nasional. Apatah lagi, ketika bahasa Indonesia (bukan bahasa Melayu) ditetapkan sebagai bahasa resmi atau official language oleh UNESCO-PBB, maka boleh saja puisi Nusantara semakin merekatkan “kekitaan”, tetapi dari perspektif politik bahasa-negara, justru mengakibatkan sang “kita” itu adalah kumpulan dari sang liyan yang saling meniadakan.
Apa boleh buat, di tengah upaya politik budaya yang diselenggarakan para sastrawan di satu sisi, budaya politik yang diterapkan negara di lain sisi, kadang tidak terelakkan bahkan menentukan! Salah satu faktanya yang dalam bahasa mahasiswa disebut contoh konkret adalah ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam sidang-sidang di UNESCO. Secara politik budaya, bahasa Indonesia telah menapak ke percakapan global. Di ranah sastra, sebagai agenda lanjutan dari ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi itu, diadakan pula perayaan 100 tahun sastrawan Indonesia A.A. Navis pada acara “Commemoration of the 100th Anniversary of A.A. Navis as a Part of Festival of the Archipelago” di House of UNESCO, Paris, November 2024, lalu. Para sastrawan ASEAN telah berjuang membuka ruang perjumpaan antarsesama sastrawan dalam tajuk “penyair Nusantara” untuk membuhul semangat kekitaan, di saat yang lain, negara masing-masing memiliki strategi untuk pemajuan bahasa dan sastranya. Pada titik, ini dinamika kebudayaan Nusantara menjadi sebuah keniscayaan.
Akan tetapi, mungkin justru di sinilah peran berharga dari sastra. Justru sastra menjadi alat diplomasi dan negosiasi di tengah dinamika politik sesama jiran. Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya, sebagaimana yang dikumandangkan John F. Kennedy, jauh di masa silam.
Puisi menjadikan manusia semakin “kita”, sebagaimana yang ditengarai Ahmadun di atas. Atau paling tidak, hubungan antara sastra dan politik, juga antara (bahasa) Indonesia dengan bahasa (Melayu) adalah “engkau cemburu, engkau ganas, mangsa aku dalam cakarmu, bertukar tangkap dengan lepas” meminjam bait puisi Amir Hamzah, penyair kenamaan Indonesia-Melayu. Di sini, akan lahir dinamika yang tak pernah usai, sebagaimana dinamika sastra, bahasa, dan politik di Nusantara! Jika politik mencakar dan menangkap, puisi melepas sekaligus merangkulnya!
Bisa jadi, dua puisi di atas, karya Abdul Hamid Abdul Halim dan LK Ara menunjukkan spirit itu, yakni mempertemukan Nusantara dalam puisi, yang dimulai dari pesan persaudaraan, perdamaian, spiritualitas, dan kemanusiaan!
Jakarta Selatan, antara Widya Candra-Kebalen, 22 Februari 2026
Sumber Bacaan
Ara, LK. (2025). Damai di Ladang Kopi. Antologi Puisi. Layang-layang Tak Memilih Tangan, Pertemuan Penyair Nusantara 2025, 176.
Darma, Budi. (2019). Teori Sastra. Jakarta: Kompas.
Halim, Abdul Hamid A. (2026). Layang-layang Tak Memilih Tangan. Antologi Puisi. Layang-layang Tak Memilih Tangan, Pertemuan Penyair Nusantara 2025, 12
Herfanda, Ahmadun Yosi (2025, 11 Oktober). Puisi Nusantara Makin Kita Saja. Diperoleh dari https://www.tempo.co/teroka/perkembangan-puisi-sastrawan-asia-tenggara-2078535.
Herfanda, Ahmadun Yosi., Aspahani, Hasan., & Mahayana, Maman S. (2025). Kata Pengantar. Dalam Simatupang, Sihar Ramses dkk. (penyusun.), Layang-layang Tak Memilih Tangan (hlm. iii-vi).
Mahayana, Maman S. (2022). Dunia Melayu: Tantangan dan Prospeknya di Masa Depan. Nura: Jurnal Nusantara Raya, 1 (1),12-27. Dipublikasikan kembali di Blog Pustaka Kabanti, 12 Juli 2022.
Mahayana, Maman S. (2016). Jalan Puisi dari Nusantara ke Negeri Poci. Jakarta: Kompas.
Shaari, Rahman. (2005). Puisi Melayu Malaysia di Tengah Puisi Nusantara. Jurnal Pengajian Media Malaysia, 7 (1), 59-65.
Salam, Aprinus. (2025). Pemikiran Sosial Kuntowijoyo, Sastra, dan Masyarakat (di) Jawa. Yogyakarta: Interlude.
Suryajaya, Martin. (2025). Kesusastraan Kehancuran. Jakarta: Velodrom.
Wasono, Sunu. (2004). Ide Kebangsaan dalam Puisi Antara Sajak-sajak M. Yamin dan Sejumlah Sajak Karya Penyair Malaysia. Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, 6 (2), 146-160.
![]()












