Pada 1 November 1872, penulis N.R. melayangkan surat singkat berbahasa Sunda halus kepada “djoeragan Padri” (tuan pendeta) atau “heer leeraar” (tuan guru). Alamat yang dituju si penulis selengkapnya adalah “Serat moegi kasanggakeun ka hing pajoenan djoeragan Padri, kang apilenggah ing boemi kampoeng Goedang, panagari Bogor” (Surat yang kiranya dapat disampaikan kepada Tuan Padri, yang bertempat tinggal di rumahnya di Kampung Goedang, Kota Bogor).
Surat ini merupakan salah satu surat dari puluhan surat berbahasa Sunda yang dikumpulkan oleh penginjil Sierk Coolsma (1840-1926) dalam tulisannya “Soendaneesche Brieven” (BKI, Deel 3, 1879: 115-116). Dari buku Biografisch lexicon voor de geschiedenis van het Nederlands protestantisme, Deel 4 (1998: 102), kita tahu Coolsma pernah menjadi pendeta Protestan di Cianjur (1865-1868), Bogor (1869-1873), dan penerjemah Injil di Sumedang (1873-1876).
Hal tersebut juga dikonfirmasi Coolsma dalam pengantar surat-surat itu. Katanya, “surat-surat yang saya sajikan di bawah ini sama sekali tidak ditulis untuk tujuan penerbitan. Kecuali nomor X dan XI, semuanya merupakan surat-surat pribadi yang saya kumpulkan di Cianjur, Bogor, dan Sumedang. Tidak perlu dilakukan perubahan apa pun; oleh karena itu saya sajikan sebagaimana adanya ketika saya menemukannya”.
Tapi surat yang dikirim oleh N.R. pada 1 November 1872 sangat menarik. Dalam surat itu, ia mengajukan permohonan pinjaman uang sebesar 20 gulden (“namboet artos doewa poeloeh roepijah”). Alasan permintaan itu disampaikan dengan jujur, yaitu kebutuhan untuk membayar utang, dan yang lebih mendesak, kebutuhan untuk membeli pakaian menjelang Lebaran sebulan mendatang (“Sapërkawis djisimkoering koe hajang majaran hoetang; kadoewa përkawis arek Lëbaran, ngan kantoen saboelan deui, hanteu atjan gadoeh pisan papakean”).
Pernyataan bahwa “hari Lebaran tinggal satu bulan lagi, sementara saya sama sekali belum mempunyai pakaian” menunjukkan kondisi ekonomi penulis surat dan mengindikasikan adanya tuntutan sosial yang lebih luas dalam masyarakat Muslim di Hindia Belanda pada masa itu. Dalam konteks ini, Lebaran yang merupakan perayaan religius penanda berakhirnya Ramadan tampil sebagai peristiwa sosial yang sarat makna. Lebaran menjelma ruang sosial di mana individu “dinilai” di hadapan komunitasnya, sehingga tubuh tampil tidak netral, karena selalu dibungkus oleh simbol, terutama pakaian.
Oleh karena itu, ketiadaan pakaian (baru) menjelang Lebaran, sebagaimana diungkapkan N.R., menunjukkan kekurangan material serta risiko kehilangan kehormatan sosial. Hal ini berkaitan dengan fungsi Lebaran sebagai momen pembaruan relasi sosial—melalui kunjungan, pertemuan, dan interaksi kolektif—yang secara tidak langsung menjadi arena evaluasi sosial.
Dalam konteks tersebut, pakaian berfungsi sebagai penanda visual dari kelayakan sosial. Maka, ketika N.R. menulis bahwa ia “tidak memiliki pakaian sama sekali,” yang dipertaruhkan adalah posisi simboliknya. Oleh karena itu, surat ini memberikan petunjuk bahwa praktik memiliki pakaian baru menjelang Lebaran sudah menjadi kecenderungan umum di kalangan orang Sunda pada paruh kedua abad ke-19.
Namun, dimensi paling menarik dari surat singkat ini, adalah relasi antara N.R. dan penerima surat, Coolsma. Ia memohon bantuan uang kepada “Padri,” sementara N.R. sendiri kemungkinan seorang muslim. Situasi ini memperlihatkan adanya relasi sosial lintas agama yang bersifat pragmatis, di mana seorang Muslim tidak ragu menggantungkan harapannya pada seorang Protestan Eropa dalam konteks kebutuhan ekonomi.
Ia menulis dengan bahasa Sunda halus yang penuh hormat, memposisikan dirinya dalam relasi hierarkis sebagai pihak yang bergantung. Ungkapan seperti “moegi-moegi djoeragan oelah djadi bëndoe manah” (semoga Tuan tidak menjadi marah) menunjukkan kesadaran akan posisi rendahnya. Relasi tersebut mencerminkan pola pekerja dan pemberi kerja dalam masyarakat kolonial. Dalam hal ini, zendeling seperti Coolsma berperan pula sebagai pemberi kerja dan sumber pinjaman uang secara informal bagi masyarakat bumiputra.
Ini tercermin dari cara bagaimana N.R. melunasi hutangnya, yaitu “Doepi pinjanggakeuneunana deui mah sae gadjih djisimkoering bae potong saban-saban boelan, potong saparo gadjih, karantën oepami dipotong sadajana mah djadi hanteu gadoeh teuing bade pitëdaeun djisimkoering koelanoen” (Adapun mengenai pengembaliannya, sebaiknya dipotong dari gaji saya setiap bulan, sebagian demi sebagian, karena apabila seluruh gaji saya dipotong, maka saya tidak akan memiliki apa-apa untuk makan).
Implikasi relasi ini terhadap hubungan Islam-Kristen di Tatar Sunda abad ke-19 menjadi lebih kompleks daripada narasi konflik atau konversi. Surat ini menunjukkan adanya ruang koeksistensi yang pragmatis. Seorang Muslim tetap menjalankan praktik keagamaannya—seperti menyambut Lebaran—tetapi pada saat yang sama terlibat dalam jaringan sosial dan ekonomi yang melibatkan aktor dari latar agama yang berbeda. Dengan kata lain, batas-batas tetap ada, tetapi menjadi lebih cair dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, surat N.R. dapat dibaca sebagai sebuah fragmen kecil yang membuka gambaran lebih luas tentang masyarakat Sunda kolonial, di mana simbol agama, tekanan sosial, dan relasi kuasa kolonial saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.
![]()












