Untuk menyambut Hari Raya Idulfitri tahun 1412 Hijriah/1992 Masehi, pemusik Doel Sumbang merilis album khusus bertajuk Paket Lebaran 1992. Secara total, album lagu berbahasa Sunda rilisan Doel’s Production ’92 melalui Wishnu Special dan Asmara Record ini menyajikan lagu “Ramadhan” (dua kali), “Lebaran 1 Syawal”, “Manusa Ahir Jaman” (dua kali), “Tina Al Fatihah”, “Dudunya”, dan “Taya Kaera”. Totalnya dari Side A dan Side B ada delapan lagu.
Salah satu yang menarik tentu saja lagu pertama. Lagu “Ramadhan”. Lagu berdurasi 4:52 menit itu dianggit secara berlapis menyerupai adegan teater musik berskala kecil. Bagian awalnya menyajikan dialog seorang ibu dan anak perempuan. Di antaranya terdengar, “Euleuh, Neneng, jam tilu saparapat. Neng, gugah, Neng. Ieuh, ieuh, saur tuh. Tingali, geulis, kabujeng imsak. Enggal.” Ini ucapan sang ibu yang membangunkan anak gadisnya untuk sahur. Karena di luar terdengar orang-orang berteriak “saur, saur”, membangunkan.
Sebagai tanggapannya, si gadis menjawab: “Lima menit deui atuh”. Maksudnya, ia meminta tenggang selama lima menit sebelum dapat bangun. Ibunya bilang, agar segera menghangatkan nasi (“Geura haneutkeun sangu!”).
Adegan tersebut nampak seperti prolog drama. Ucapan seorang ibu yang membangunkan anak untuk sahur, disertai jawaban sang anak yang masih mengantuk, menghadirkan situasi konkret waktu sahur dengan nuansa rumah yang akrab. Suara orang di luar rumah yang berteriak “saur, saur” memperkuat kesan tersebut, karena merepresentasikan tradisi kolektif membangunkan sahur.
Setelah prolog, lagu dibangun sahut-sahutan penyanyi laki-laki dengan perempuan yang isinya mengajak “barudak” (anak-anak) agar mengikuti rutinitas Ramadhan sebulan penuh. Teknik antarpenyanyi ini mengesankan suasana ramai ketika orang-orang bersiap sahur dan berbuka bersama, khususnya di kalangan anak-anak. Misalnya penyanyi laki-laki berlagu “Hey barudak geura harudang” (Hai anak-anak bangunlah) yang disambung penyanyi perempuan dengan kata-kata “Wanci saur geus datang” (waktu sahur sudah tiba). Atau kelompok laki-laki menyatakan “Lakonan puasa” (jalanilah puasa) disambung perempuan “Sing tahan gogoda” (semoga tahan godaan). Lirik lagunya memang bergerak mengikuti alur waktu harian selama Ramadhan. Dimulai dari sahur dan niat berpuasa dalam bahasa Arab, dilanjutkan penekanan agar dapat menahan godaan di siang hari dan jangan sampai bocor puasa (“Lakonan puasa//sing tahan gogoda//sabulan lilana//tong aya bocorna”). Lalu waktu buka saat magrib tiba dengan bunyi tabuhan bedug (“Sok barudak geura baruka//bedug maghrib geus sada”), doa buka puasa dalam bahasa Arab dan sajian makanan, dilanjutkan dengan tarawih (“Jung barudak geura taraweh//sing cacap rakaatna”), diberi arti bahwa puasa sebagai ajang tafakur dan ujian diri, dan diakhiri ucapan Hari Raya Idul Fitri.
![]()












