Aspek-Aspek Sastra Anak

Oleh. Atep Kurnia

Kimberley Reynolds adalah guru besar Sastra Anak di School of English Literature, Language and Linguistics, Newcastle University, Inggris. Ia pernah menjabat sebagai Presiden International Research Society for Children’s Literature (IRSCL) tahun 2003–2007. Karya-karyanya antara lain Radical Children’s Literature: Future Visions and Aesthetic Transformations, yang meraih Children’s Literature Association Book Award (2009), serta Children’s Literature Studies: A Research Handbook (2011).

Masih tahun 2011, karya pengantarnya untuk sastra anak diterbitkan oleh Oxford University Press, Children’s Literature: A Very Short Introduction. Buku pengantar singkat setebal 144 halaman ini terdiri atas enam bab utama dan satu bab pendahuluan.

Di dalam pendahuluan, “Introduction: What is children’s literature?”, Kimberley menyodorkan tentang batasan sastra anak. Katanya, secara umum, sastra anak mengandung arti sebagai bahan bacaan yang ditulis untuk dibaca oleh anak-anak dan remaja, diterbitkan oleh penerbit buku anak, serta disediakan dan dikelompokkan di bagian buku anak dan/atau remaja (young adult) di perpustakaan maupun toko buku.

Namun,  dalam kajian akademik Batasan tersebut tidak tegas karena sastra anak dan sastra dewasa berada dalam sistem penerbitan yang sama, sering berbagi penulis dan jalur distribusi, serta mencakup berbagai genre, media, periode sejarah, dan tradisi budaya, baik yang sejak awal ditujukan untuk anak maupun yang kemudian diadopsi oleh pembaca muda, sehingga tidak ada satu tradisi sastra anak yang bersifat universal melainkan beragam tradisi yang berkembang sesuai konteks ruang, waktu, tujuan, dan media.

Dari sisi sejarah, sastra anak bersifat dinamis sebagai proses perubahan dan kesinambungan, bukan berjalan secara linier, serta historiografinya masih didominasi perspektif Inggris, Eropa Barat, dan Amerika Serikat meskipun secara historis tradisi sastra anak di berbagai wilayah dunia saling memengaruhi melalui migrasi, kolonisasi, perdagangan, misi keagamaan, dan pertukaran budaya.

Yang lebih menarik, kata Kimberley, sastra anak memiliki nilai budaya penting karena menjadi media awal yang membentuk cara anak memahami dunia melalui cerita, bahasa, dan pola pikir, sekaligus berfungsi sebagai sarana pendidikan, penyebaran perubahan budaya, dan sumber sejarah tentang berbagai aspek kehidupan seperti masa kanak-kanak, agama, perang, migrasi, ilmu pengetahuan, penyakit, dan lingkungan. Ia juga menekankan bahwa sastra anak menghubungkan masa lalu dan masa kini melalui pelestarian maupun reinterpretasi cerita lama, berperan dalam mendorong perubahan sosial termasuk kesetaraan dan keberagaman, serta memiliki potensi membentuk generasi kritis terhadap cara berpikir mapan, sehingga sastra anak dipandang sebagai sumber budaya yang kaya sekaligus bagian penting dalam pembentukan kebudayaan.

Dengan demikian, Kimberley mau menyatakan bahwa tidak ada definisi tunggal untuk sastra anak. Karena perkembangan sastra anak selalu dipengaruhi oleh sejarah, budaya, penerbitan, pembaca, ideologi, dan perubahan masyarakat. Singkatnya, sastra anak adalah konstruksi budaya yang selalu berubah.

Dalam bab pertama, “An outline history of publishing for children in English”, Kimberley menelusuri proses pembentukan sastra anak, terutama dalam konteks negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris. Menurutnya, sejarah penerbitan sastra anak dalam bahasa Inggris berakar jauh sebelum abad ke-17 dan berkembang dari tradisi pendidikan, moral, serta hiburan yang terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan masyarakat, teknologi, dan cara pandang terhadap masa kanak-kanak. Sejak karya-karya awal seperti fable-fabel Aesop (terjemahan William Caxton, 1484) dan Orbis Sensualium Pictus (1658) karya John Amos Comenius hingga berkembangnya penerbitan komersial pada abad ke-18, masa keemasan sastra anak pada abad ke-19, munculnya sastra remaja dan keberagaman tema pada abad ke-20, serta transformasi digital pada era kontemporer, sastra anak terus memperluas bentuk, media, dan pembacanya. Dengan perkembangan demikian, Kimberley menegaskan bahwa batas-batas sastra anak semakin cair melalui berkembangnya crossover fiction, buku digital, dan partisipasi pembaca sebagai pencipta teks. Sehingga sastra anak tidak terutama ditentukan oleh ciri formalnya, melainkan oleh relasinya dengan pembaca serta oleh konsep masa kanak-kanak yang senantiasa berubah dan dibentuk oleh perspektif masyarakat, khususnya orang dewasa.

Dalam bab kedua, “Why and how are children’s books studied?”, Kimberley mengajukan berbagai cara untuk mengkaji sastra anak. Di sini, ia menjelaskan bahwa kajian sastra anak menggunakan pendekatan teoretis yang sama dengan kajian sastra pada umumnya, tetapi dikembangkan sesuai karakteristiknya melalui perhatian pada pembaca anak, konsep masa kanak-kanak, serta hubungan antara teks dan ilustrasinya. Oleh karena sastra anak dipahami sebagai cerminan sekaligus pembentuk budaya, ideologi, dan nilai-nilai sosial, sehingga kajiannya dapat dilakukan melalui beragam pendekatan, seperti sejarah, psikologi, linguistik, naratologi, gender, pascakolonial, tanggapan pembaca, kritik berorientasi anak, dan analisis visual.

Di masa yang akan datang, menurut Kimberley, kajian sastra anak masih merupakan bidang yang akan terus berkembang dan semakin beragam, dengan perdebatan mengenai apakah sebaiknya diintegrasikan ke dalam kajian sastra umum atau tetap dipertahankan sebagai disiplin tersendiri. Meskipun integrasi dinilai dapat memperkuat posisinya dalam dunia akademik, penulis berpendapat bahwa kekhasan sastra anak—terutama yang berkaitan dengan sejarah, media, bahasa, ilustrasi, dan konstruksi masa kanak-kanak—masih memerlukan pendekatan khusus, sehingga penggabungan penuh ke dalam kajian sastra umum dianggap masih terlalu dini.

Selanjutnya untuk bab ketiga, “Transforming the texts of childhood”, Kimberley membahas tentang perkembangan media yang mewadahi sastra anak. Di sini, ia menggarisbawahi bahwa tradisi sastra anak berkembang melalui proses berlapis dari cerita lisan, pembacaan nyaring, dan literasi tertulis yang selalu terkait dengan pendidikan dan nilai budaya. Sementara dalam konteks kontemporer, pengalaman naratif anak tidak lagi terbatas pada satu bentuk teks, melainkan hadir dalam berbagai media yang saling terhubung, sebagaimana terlihat dalam transformasi A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare menjadi berbagai bentuk adaptasi seperti televisi, komik, novel grafis, digital interaktif, hingga pertunjukan teater. Ini menunjukkan bahwa literasi budaya mencakup kemampuan memahami jaringan teks klasik dan kontemporer dalam proses adaptasi dan reinterpretasi yang terus berlangsung.

Selain itu, sastra anak dianggap sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, dari inovasi penerbitan abad ke-19 hingga buku interaktif, media audio-visual, permainan komputer, fan fiction, dan e-book, yang mengubah bentuk membaca dan menyajikan pergeseran cara bercerita melalui integrasi berbagai media, termasuk munculnya narasi lintas format dan waralaba yang menghubungkan buku, film, dan permainan dalam satu ekosistem cerita.

Dalam konteks ini, konsep literasi bergeser menjadi transliteracy yang menuntut kemampuan berpindah antarmedia, dengan proses remediation dan transmediation yang membuat media baru tetap merujuk pada bentuk lama seperti buku cetak, sekaligus memperluas pengalaman membaca melalui multimedia yang interaktif dan terhubung. Ini, misalnya, terlihat dalam adaptasi dongeng Disney dan perkembangan e-book serta CD-ROM. Dampaknya, perkembangan ini membentuk jaringan naratif (transmedia networks), yaitu satu cerita inti disebarkan melalui berbagai platform seperti buku, film, game, dan fan fiction yang saling melengkapi, sehingga pembaca tidak lagi pasif tetapi menjadi bagian dari komunitas yang aktif menelusuri dan memproduksi makna dalam ekosistem cerita, seperti pada Harry Potter.

Secara mendalam, pengalaman naratif baru ini ditandai oleh tiga unsur utama, yaitu interaktivitas, interpersonalitas, dan immersi. Ketiga unsur tersebut memungkinkan anak terlibat secara aktif melalui teknologi, berkolaborasi dengan orang lain, dan masuk ke dalam dunia cerita lintas media. Dengan demikian, batas antara bermain dan membaca menjadi semakin kabur, seperti terlihat pada Sesame Street atau game berbasis narasi seperti Harry Potter dan Assassin’s Creed. Sejumlah novel kontemporer seperti Hexwood, Luka and the Fire of Life, dan Epic, bahkan, menunjukkan bagaimana logika permainan seperti pengulangan, avatar, dan struktur level diadopsi dalam teks sastra, dapat menciptakan bentuk “transtexts” yang menggabungkan narasi literer dengan budaya digital dan logika game. Ini sudah pasti merupakan pertanda dari pergeseran penting dalam pemahaman narasi anak yang semakin bersifat interaktif, imersif, dan lintas media.

Dalam bab keempat, “Genres and generations- the case of the family story”, Kimberley membahas genre setelah mengalami perubahan media. Di sini, ia menyatakan sastra anak tidak dapat dipahami sebagai satu genre tunggal karena mencakup beragam genre dan subgenre yang berkembang sesuai konvensi, perubahan sosial, serta pengalaman pembacanya. Kimberley menunjukkan bahwa genre dalam sastra anak berfungsi sebagai sarana pembelajaran membaca sekaligus ruang inovasi, di mana konvensi genre membantu pembaca muda membangun ekspektasi, memahami intertekstualitas, dan mengenali pola naratif melalui berbagai media.

Seiring perubahan masyarakat, sejumlah genre mengalami transformasi, seperti cerita binatang, cerita sekolah, petualangan, dan religius, sementara family story atau cerita keluarga dipandang sebagai genre yang paling penting karena merefleksikan perubahan konsep keluarga sejak abad ke-18 hingga masa kini. Representasi keluarga berkembang dari keluarga inti tradisional yang menghadapi krisis menuju keluarga yang semakin beragam, termasuk keluarga tunggal, keluarga tiri, keluarga lintas ras, hingga chosen family atau framily, dengan perubahan yang juga dipengaruhi oleh perkembangan psikologi anak, perubahan perspektif terhadap masa kanak-kanak, serta kritik terhadap struktur keluarga patriarkal. Meskipun bentuk keluarga terus berubah, penulis menegaskan bahwa genre cerita keluarga tetap bertahan sebagai salah satu genre utama sastra anak karena terus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana untuk memahami hubungan antarmanusia, pertumbuhan anak, dan dinamika kehidupan keluarga.

Melalui bab kelima, “Visions of the future”, Kimberley menjelaskan tentang fungsi cerita dalam kerangka sastra anak, terutama berkaitan dengan persoalan masa depan yang dibayangkan sastra anak. Hal ini berangkat dari keyakinan Kimberley bahwa sastra anak berperan penting dalam membentuk cara generasi muda membayangkan masa depan, baik sebagai sarana pewarisan nilai dan tatanan sosial maupun sebagai ruang untuk menawarkan kemungkinan perubahan yang lebih baik. Ia menunjukkan bahwa pandangan tentang masa depan dalam sastra anak mengalami perubahan besar: dari orientasi religius pada kehidupan setelah kematian pada abad ke-17 dan ke-19, bergeser menjadi optimisme terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan keadilan sosial pada awal abad ke-20, sebelum berubah menjadi visi yang semakin pesimistis setelah Perang Dunia, ancaman nuklir, dan krisis lingkungan.

Pergeseran tersebut melahirkan dominasi narasi distopia dan eco-tragedy yang menggambarkan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, serta runtuhnya peradaban, tetapi umumnya gagal menawarkan alternatif yang konstruktif bagi generasi muda. Meski demikian, Kimberley mengidentifikasi munculnya karya-karya yang lebih visioner, seperti The Carbon Diaries 2017, yang tetap mengakui ancaman masa depan tetapi menekankan kerja sama, solidaritas, partisipasi politik kaum muda, dan kemampuan manusia untuk beradaptasi. Dengan contoh tersebut Kimberley membuka kembali kemungkinan sastra anak sebagai peringatan terhadap masa depan yang suram, sekaligus sebagai sarana untuk membayangkan dan menginspirasi terciptanya masa depan yang lebih baik.

Bab terakhir, bab enam, “Ethical debates in children’sliterature”. Sebagaimana tercermin di judulnya, bab ini merupakan muara dari bab sebelumnya yang menegaskan jika sastra anak membentuk cara berpikir anak, maka sastra anak selalu merupakan tindakan etis. Maksudnya, etika merupakan salah satu ciri paling mendasar yang membedakan sastra anak dari sastra dewasa karena menyangkut tanggung jawab penulis, hubungan kuasa antara orang dewasa dan anak, isi cerita, serta proses produksi buku. Dalam hal ini, Kimberley menunjukkan bahwa sepanjang sejarah sastra anak, karya-karya kerap digunakan sebagai sarana pendidikan moral, pembentukan ideologi, propaganda politik dan agama, dan ruang untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Berbagai contoh historis memperlihatkan bagaimana sastra anak mengangkat persoalan perbudakan, rasisme, keadilan, kekuasaan, perang, Holocaust, serta konflik moral melalui tokoh dan situasi yang mendorong pembaca mempertanyakan benar dan salah, tanggung jawab, empati, serta penyalahgunaan otoritas.

Dalam perkembangan terbaru, kata Kimberley, sastra anak semakin berani membahas isu-isu kompleks seperti kloning, perundungan siber, kekerasan seksual, pembunuhan, trauma, genosida, dan dilema bertahan hidup. Namun, umumnya, tetap disajikan dalam bentuk yang mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan pembaca muda. Oleh karena itu, Kimberley menegaskan bahwa sastra anak bisa dibaca sebagai media hiburan, media pengajaran moral, sekaligus arena perdebatan etis yang terus berkembang serta menjadi tempat bagi anak-anak untuk diajak mengeksplorasi persoalan-persoalan kemanusiaan, kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab secara kritis dalam batas-batas yang dianggap aman bagi mereka.

Penulis: Atep KurniaEditor: Heri
Exit mobile version