Kabar  

Selamat Hari Literasi Internasional 2026

Oleh. Heri Djuhaeri

Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memegang peranan yang sangat krusial ditengah masyarakat Indonesia. Terlepas dari rintangan-rintangan yang dihadapi oleh TBM itu sendiri. Saya tidak harus menjelaskan rintangan yang dihadapi oleh TBM di akar rumput. Yang jelas setiap daerah, permasalahan yang dihadapi TBM akan berbeda. Akan tetapi ada satu kesamaan setiap TBM di Indonesia, yaitu spirit berliterasi.

Dari ujung barat hingga ujung timur, teman-teman pegiat TBM bergerak di akar rumput. Bahkan tidak sedikit bergerak di jalur yang sangat senyap sekali (tidak mengabarkan kegiatannya melalui medsos dan lainnya), namun kegiatannya berdampak dan dirasakan oleh masyarakat di sekitar TBM.

Taman Bacaan Masyarakat sekarang berkembang, tidak hanya memberikan layanan baca tulis semata. Lebih dari itu, banyak program-program dari TBM lahir dari kebutuhan masyarakat sekitar. Hal ini menjadi transformasi yang sangat baik, terlebih banyak anak-anak muda yang kreatif menjadikan TBM sebagai ruang kolektif. Tempat berdiskusi, saling tukar pendapat, hingga menggodok sebuah gagasan yang berdampak nyata.

TBM Bukan Pelengkap Pendidikan Keluarga dan Masyarakat

Apabila ditelisik lebih dalam, taman bacaan masyarakat yang diinisiasi oleh dan untuk masyarakat ini memang memang memiliki embrio pendidikan keluarga dan masyarakat. Bagaimana tidak, kegiatannya terpusat di dua pendidikan tersebut. Dari Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dua karakteristik pendidikan tersebut ada di taman bacaan masyarakat. Artinya yang dilakukan oleh para pegiat TBM bukan pelengkap, melainkan pusat pendidikan keluarga dan masyarakat.

Selain itu, pendidikan formal (sekolah) sering kali memiliki batas usia, kurikulum yang kaku, serta formalitas yang seringkali orang tua atau anak prasekolah merasa malu atau enggan kembali untuk belajar. Lain halnya dengan taman bacaan masyarakat, siapapun dapat mengakses pendidikan dengan riang dan gembira tanpa batas usia dan waktu belajar yang ketat. Pada konteks lain, katakanlah wilayah 3 T, banyak para pegiat TBM memiliki praktik baik yang mengena di masyarakat langsung. Di wilayah perbatasan, bagaimana konteks nasionalisme ini ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik untuk setiap kalangan. Seperti di Kaltara misalnya yang berbatasan langsung dengan Malaysia.   

Lagi-lagi taman bacaan masyarakat bukan sebagai komunitas literasi yang kaku. Berbagai cara dilakukan oleh para pegiat untuk membudayakan literasi di Indonesia melalui pendekatan yang menyenangkan dan humanis. TBM menawarkan ruang belajar yang fleksibel, di mana pegiat biasanya adalah warga lokal yang memahami budaya setempat.        

Hari ini, 8 September 2026, dunia memperingati Hari Literasi Internasional (International Literacy Day) ke-60 yang mengusung tema “Literacy for People, Planet, and Prosperity”. Tema yang dicanangkan oleh UNESCO ini menegaskan bahwa cakupan literasi sangat luas meliputi dimensi kemanusiaan, kelestarian alam, hingga kesejahteraan masyarakat. Esensi nilai yang diangkat oleh dunia internasional tersebut sejatinya telah lama dihidupkan dan dipraktikkan oleh taman bacaan masyarakat di berbagai penjuru nusantara.

Bravo kepada seluruh pegiat TBM di Indonesia. Setiap tetes keringat, waktu, dan dedikasi yang dicurahkan demi membangun budaya literasi merupakan pengabdian tulus yang tidak dapat ternilai oleh materi.

Selamat Hari Literasi Internasional 2026. Teruslah melangkah lebih jauh dan jauh lagi, menyiapkan generasi yang akan datang menjadi masyarakat literat.  

Salam.  

Exit mobile version