Nalar  

Ketika Kata-Kata Dipenjarakan

Kata kunci di sini adalah blackwhite, “hitam-putih”. Sama dengan begitu banyak kata dalam bahasa Newspeak, kata ini memiliki dua arti yang berlawanan. Jika dialamatkan kepada musuh, kata itu berartii kebiasaan curang menyatakan bahwa hitam adalah putih, yang bertentangan dengan fakta yang gamblang dan lugas. Jika disematkan kepada anggota Partai, kata yang sama itu bermakna kerelaan yang loyal untuk mengatakan hitam adalah putih bila disiplin Partai menuntut demikian. Tetapi, kata ini juga berarti kemampuan orang untuk percaya bahwa hitam adalah putih, dan melupakan bahwa dia pernah meyakini yang sebaliknya. Ini membutuhkan penggubahan terus menerus terhadap masa silam, yang dimungkinkan oleh sistem pemikiran yang benar-benar mencakup segala sesuatu yang lain, dan yang dikenal dalam Bahasa Newspeak sebagai doublethink, “piker-ganda”.   (Penggalan Novel 1984 Hal 264 – 265, karya Gorge Orwel).

Saya seorang pegiat literasi. Dan karena saya seorang guru Bahasa Indonesia pula, bagian yang paling menyakitkan dari 1984 bukan penjara bawah tanahnya, bukan penyiksaan di Room 101, bukan pula wajah Big Brother (Bung Besar) yang memandang dari setiap sudut dinding. Yang paling menyakitkan adalah, sebuah bahasa yang sengaja dirancang untuk membunuh pikiran. Ini sedang terjadi. Sekarang. Bukan hanya di tahun 1984. Tapi di tahun 2026. Bukan di Oceania, tapi di Indonesia.

Bahasa yang Dikerdilkan

Newspeak bukan sekadar kosakata baru, melainkan adalah proyek penghancuran. Pemerintah Oceania memahami sesuatu yang sangat mendasar, bahwa untuk menguasai manusia sepenuhnya, tidak perlu selalu menggunakan kekerasan. Cukup kuasai bahasanya. Persempit ruang katanya. Karena ketika kata-kata habis, pikiran pun ikut habis.

Ungood menggantikan bad. Doubleplusgood menggantikan excellent atau magnificent atau sublime, kata-kata yang masing-masing membawa rasa berbeda, nuansa berbeda, kedalaman berbeda. Semua itu dilebur menjadi satu. Diratakan. Diseragamkan.

Saya membayangkan apa jadinya jika seorang anak tidak pernah mengenal kata rindu. Ia hanya tahu ingin bertemu. Apakah rasanya sama? Tidak. Sebab rindu menyimpan berat yang berbeda. Rindu adalah luka yang indah. Ingin bertemu hanyalah kalimat jadwal. Ketika kata hilang, pengalaman manusia ikut menyusut.

Bahasa adalah rumah pikiran. Di dalamnya manusia tinggal, berteduh, dan tumbuh. Anak yang kaya bahasanya adalah anak yang punya banyak ruang di dalam dirinya.  Ruang untuk marah dengan cara elegan, ruang untuk sedih tanpa menyakiti diri, ruang untuk mempertanyakan tanpa harus memberontak dengan kekerasan.

Sebaliknya, anak yang miskin bahasa akan mencari jalan lain. Jalan yang tidak selalu baik. Sebab apa yang tidak bisa dibahasakan, akan mencari cara sendiri untuk keluar. Mungkin secara fisik, atau semacamnya.

Orwell tahu ini. Justru karena itu Newspeak dirancang bukan untuk memudahkan komunikasi, melainkan untuk memustahilkan perlawanan. Tidak ada kata untuk kebebasan, maka tidak ada pikiran tentang kebebasan. Tidak ada pikiran tentang kebebasan, maka tidak ada keinginan untuk merdeka. Sederhana. Mengerikan. Sangat masuk akal.

Dalam Konteks yang Dekat dengan Kita

Saya tidak perlu pergi jauh ke Oceania untuk merasakan ini. Hanya perlu mengingat berapa banyak ruang kelas yang mengajarkan anak untuk menjawab, bukan untuk bertanya. Berapa banyak kurikulum yang mengukur kemampuan berbahasa dari benar-salahnya ejaan, bukan dari dalamnya ekspresi. Berapa banyak anak yang tumbuh fasih berbicara namun miskin dalam mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka rasakan.

Newspeak tidak selalu datang dalam bentuk kebijakan negara. Kadang ia datang dalam bentuk kebiasaan. Dalam bentuk sistem yang tidak kita pertanyakan. Dalam bentuk pembelajaran yang kita wariskan begitu saja tanpa sempat berhenti sejenak dan bertanya, apakah ini memperluas atau mempersempit makna?

Orwell tidak memberi kita akhir yang manis. Newspeak dalam novel ini berhasil. Winston pada akhirnya patah. Perlawanan melalui bahasa pun runtuh.

Namun saya tidak membaca ini sebagai keputusasaan. Saya membacanya sebagai peringatan.

Bahwa bahasa adalah medan pertempuran yang paling sunyi, sekaligus paling menentukan. Bahwa siapa yang menguasai kata, menguasai cara manusia memandang dunia. Dan bahwa tugas seorang pendidik, tugas saya, adalah menjaga agar ruang itu tetap luas. Tetap hidup. Tetap memungkinkan lahirnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman.

Sebab pikiran yang bebas selalu bermula dari kata yang tidak dipenjarakan.

Salam.

Penulis: Heri Maja Kelana
Exit mobile version