Nalar  

Seperti Bayi yang Baru Lahir

Di album Ibadah Puasa, penyanyi Ida Laila bersama grup Orkes Melayu Awara, pimpinan S. Achmadi, menghadirkan lagu yang menuntun pendengarnya memasuki nuansa Ramadhan melalui suara lembut mendayu-dayu. Dirilis oleh Indra Record, lagu berdurasi 3 menit 44 detik dan berjudul sama dengan albumnya itu menuturkan kerinduan pada kesucian dan harapan akan pengampunan dosa dalam bulan Ramadhan.

Karena dengan berpuasa diharapkan “Semoga terhapus semua noda dan dosa-dosamu, seperti bayi yang baru lahir ke atas dunia”

Secara puisi, petikan lirik tersebut menggunakan repetisi dan irama yang lambat, sehingga dapat dibaca sebagai penekanan terhadap kesakralan momen refleksi puasa. Kata “terhapus” memberi tekanan pada proses pembersihan spiritual, sedangkan frasa “seperti bayi yang baru lahir” menimbulkan metafora ihwal kesucian dan permulaan baru. Sebagai tanda, bayi menjadi simbol kemurnian serta harapan akan kehidupan yang lebih bersih dan suci setelah menjalani puasa.

Sebaliknya bagi yang tidak berpuasa, Ida Laila memberi pesan: “Bagi yang tiada puasa, menangislah dalam hati. Karena belum tentu dalam usiamu itu menjumpai bulan suci yang akan datang nanti”.

Di situ Ida menekankan pentingnya kesempatan berpuasa dengan mengingatkan bahwa bagi mereka yang tidak berpuasa entah karena sengaja atau tidak berarti hilangnya kesempatan spiritual sehingga patut disesali. Lalu frasa “belum tentu dalam usiamu itu menjumpai bulan suci yang akan datang nanti” menegaskan ketidakpastian hidup, bahwa kesempatan beribadah puasa di bulan Ramadhan tidak selalu tersedia setiap tahun, sehingga puasa menjadi momen yang sangat berharga. Lebih jauhnya, kalimat “menangislah dalam hati” adalah simbol dari introspeksi diri agar mengenali dosa dan kekurangan, sekaligus motivasi untuk menjadi lebih baik. Barangkali, di antara sahur dan berbuka, kita belajar bahwa puasa adalah proses lahir kembali, kesempatan setiap kita untuk menyingkirkan noda dan memulai hari baru dengan hati yang lebih ringan.

Loading

Penulis: Atep KurniaEditor: Heri