Sabtu, 4 April 2026, menjadi momen penting bagi para pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se-Indonesia. Dalam rangka memperkuat ekosistem literasi nasional serta meningkatkan sinergi antara pemerintah dan komunitas literasi, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyelenggarakan kegiatan bertajuk Kepala Badan Bahasa Menyapa TBM Se-Indonesia.
Kegiatan virtual ini dilaksanakan sebagai upaya menyosialisasikan Program Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Kesastraan: Fasilitasi bagi Komunitas Literasi Tahun 2026.
Dalam laporan pengantarnya, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Iman Budi Utomo, menegaskan beberapa latar belakang penting kegiatan ini. Pertama, Forum TBM memiliki peran strategis dalam peningkatan dan penguatan literasi di masyarakat. Kedua, Forum TBM memiliki akses informasi dalam mengidentifikasi permasalahan literasi di lingkungannya. Ketiga, diperlukan sinergi antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan Forum TBM se-Indonesia dalam upaya memperkuat literasi nasional.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum TBM, Opik, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ruang silaturahmi, dialog, sekaligus penguatan sinergi antara Badan Bahasa dan para pegiat literasi, khususnya pengelola TBM di seluruh Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat 4.214 TBM yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan ratusan lainnya masih dalam proses verifikasi oleh pengurus pusat. Menariknya, terdapat lima provinsi dengan jumlah TBM terbanyak, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Data ini menjadi penting sebagai dasar pemetaan komunitas literasi nasional dan rujukan dalam penyusunan kebijakan ke depan.
Ketua Forum TBM yang memasuki periode kepemimpinan kedua ini juga memaparkan bahwa layanan TBM sangat beragam. Mulai dari layanan baca sederhana di beranda rumah, hingga TBM yang telah berkembang dengan fasilitas representatif, tidak hanya menyediakan peminjaman buku, tetapi juga memproduksi bahan pustaka secara mandiri. Bahkan, beberapa TBM telah memiliki unit usaha komunitas untuk mendukung keberlangsungan kegiatan mereka.
“Gerakan TBM bukan satuan pendidikan formal, sehingga para pengelolanya harus mampu memikirkan keberlanjutan hidup dan operasionalnya,” ujar Opik.
Ia juga mengapresiasi komitmen Badan Bahasa yang tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan, program bantuan pemerintah bagi komunitas literasi di tengah kebijakan efisiensi anggaran. “Jika tahun lalu terdapat 100 penerima bantuan, tahun ini meningkat menjadi 110 penerima,” tambahnya.
Opik pun mengajak para pegiat TBM untuk berpartisipasi aktif dalam mengajukan proposal bantuan tersebut. Ia menekankan pentingnya pelaksanaan program sesuai rencana serta pelaporan yang akuntabel kepada Badan Bahasa.
Di hadapan ratusan peserta yang hadir melalui Zoom, ia juga menyampaikan bahwa pengurus wilayah Forum TBM hampir seluruhnya telah menjalin komunikasi dengan balai dan kantor bahasa di masing-masing provinsi, sehingga mampu menjadi penggerak komunitas literasi di daerah.
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, secara filosofis menjelaskan bahwa dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, Badan Bahasa menghadirkan program bantuan pemerintah yang melibatkan partisipasi aktif para pegiat TBM di seluruh Indonesia.
Ia memaparkan tujuh program utama yang dijalankan, salah satunya adalah Wujudkan Partisipasi Semesta melalui Bantuan Pemerintah. Program ini menyasar tiga kelompok utama, yaitu komunitas literasi, komunitas sastra dan sastrawan, serta komunitas pelestari bahasa dan sastra daerah.
“Tiga elemen ini merupakan representasi gerakan literasi yang bekerja langsung di tengah masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa bantuan fasilitasi ini bertujuan untuk mendorong berkembangnya komunitas sastra, meningkatkan peran komunitas sebagai sarana pembelajaran, mengoptimalkan kegiatan kesastraan, meningkatkan apresiasi masyarakat, serta mendorong produksi, mutu, dan publikasi karya sastra melalui media digital.
Secara teknis, Herlina Bancin dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra memaparkan mekanisme Bantuan Pemerintah Tahun 2026. Ia menjelaskan bahwa dana bantuan tersebut bertujuan untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan literasi, meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan, mengembangkan kapasitas pengelolaan komunitas, serta mendorong kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk pemerintah, perpustakaan, dan lembaga lainnya.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling interaktif dalam kegiatan ini. Sekitar 470 peserta dari berbagai TBM di seluruh Indonesia mengikuti acara dengan antusias. Berbagai pertanyaan disampaikan dan ditanggapi langsung oleh Kepala Badan Bahasa. Antusiasme ini menunjukkan kesiapan para pegiat TBM dalam menyambut program bantuan pemerintah, sekaligus menghadirkan berbagai inovasi literasi di daerah masing-masing.
Partisipasi semesta ini diharapkan mampu mengangkat keberagaman sebagai identitas keindonesiaan.
Setelah kegiatan Kepala Badan Bahasa Menyapa TBM usai, saatnya para pegiat TBM menyapa Indonesia melalui karya.
Sukses untuk program bantuan pemerintah ini. Selamat berkarya bagi para pegiat TBM di seluruh Indonesia.
![]()












