Pembunuh Imajinasi dalam Diam

Oleh. Samudra Gemilang*

Setelah berhari – hari terjebak di jalan buntu, kuputuskan untuk tidak menulis hari ini. Mungkin saja otaku memang sedang lelah dan kehabisan energi kreatif untuk menyelesaikan cerita pendek ini. Padahal biasanya aku mampu menyelesaikan puluhan halaman dalam satu hari. Tapi untuk menulis satu kalimat saja, aku sudah menyerah. Aku benar-benar tidak menduga. Aktivitas yang menjadi sumber kesenanganku, bisa menjadi sebuah siksaan yang menggerogoti tubuhku secara perlahan.

Begitu layar laptop mati total, aku pun segera memasukkannya ke dalam tas. Walaupun tidak ada rencana untuk melanjutkan tulisan ini, aku tetap membawanya untuk berjaga-jaga. Karena siapa tahu aku bisa mendapatkan kembali api semangatku, untuk melanjutkan pekerjaan ini.

Beberapa awan putih keabuan mulai berkumpul di langit siang. Meskipun cuaca siang hari ini tidak menggugah perasaanku, setidaknya aku tidak perlu mengenakan topi untuk melindungi kepalaku,  dari panasnya terik matahari. Sambil berjalan tanpa arah di sepanjang trotoar, aku berusaha keras untuk mendapatkan kembali semangat dan inspirasi. Namun semakin keras aku mencoba, otaku semakin terasa panas. Seperti halnya sebutir telur yang direbus di dalam air mendidih.

Langkahku tiba-tiba saja terhenti dengan sendirinya di depan pintu kedai kopi langgananku. Sebuah tempat paling sempurna untuk menghabiskan waktu hingga berjam-jam, jika sedang kehabisan ide, atau mengalami kebuntuan dalam proses menulis. Karena seringkali ide cerita muncul di saat aku tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa pengunjung.

Seperti biasanya, aku duduk di salah satu meja yang berdempetan langsung dengan jendela. Selain posisinya yang tidak begitu mencolok, aku bisa menikmati segelas kopi sambil melihat keluar kedai dengan santai. Tepat di belakangku, terdengar suara beberapa orang pemuda yang tengah sibuk dengan laptop mereka masing – masing. Sepertinya mereka adalah sekelompok anak kuliahan, yang sedang mengerjakan tugas bersama disini. 

“Gila…, ini kapan beresnya sih??” Keluh salah seorang dari mereka, “Kalau kaya gini terus, gak akan kelar-kelar tugas kita.”

“Eh, emangnya tugas dari Pak Roni belum selesai juga??” Tanya pemuda lainnya.

“Belum lah! Orang kita disuruh buat rangkuman novel seminggu doang. Gimana caranya coba bisa selesai cepet?? Baca novelnya aja kayanya bisa sampai lima harian lebih.”

Kemudian pemuda tadi tertawa mengejek. “Ngapain repot-repot?? Mending pake Sagitarius aja lah! Aku aja ngerjain tugas essay-nya Pak Roni pake Sagitarius. Lima menit langsung kelar.”

“Maksudnya Sagitarius aplikasi AI yang bisa diajak ngobrol itu??”

“Yoi Cuy.”

Meskipun obrolan mereka tidak sengaja terdengar, nama ‘Sagitarius’ telah menarik perhatianku. Karena dari apa yang pemuda itu katakan memang ada benarnya. Selain bisa  mengobrol layaknya berkomunikasi dengan manusia, aplikasi Sagitarius juga bisa melakukan beberapa instruksi yang diberikan. Seperti membuat tulisan, membuat gambar, memperbaiki kode, hingga membuat lagu.

Sebenarnya aku sudah lama mengunduh aplikasi tersebut. Tapi jujur saja, tidak pernah terpikir satu hari pun untuk menggunakan kecerdasan buatan tersebut dalam menyelesaikan pekerjaanku sebagai penulis lepas. Karena penasaran untuk membuktikan perkataan pemuda tersebut, aku pun langsung menggunakan aplikasi tersebut. Dengan menyalin draft cerita yang tersimpan di ponselku, kemudian memberinya instruksi untuk menyelesaikan cerita tersebut.

Sagitarius : Tentu saja, berikut adalah versi cerpen yang sudah diselesaikan, dengan gaya bahasa yang disesuaikan dengan potongan cerita sebelumnya.

Aku benar-benar dibuat tercengan dengan apa yang ada di depan mataku. Pekerjaan menulis cerita pendek yang bisa memakan waktu hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari, bisa diselesaikan hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Pada awalnya aku berniat untuk menggunakan cerita dari Sagitarius sebagai acuan untuk menyelesaikannya. Namun setelah dipikir-pikir, aku rasa tidak ada salahnya menggunakan tulisan itu secara mentah-mentah. Nyatanya tulisan ini sudah terlihat cukup sempurna, tidak ada salah ketik, alurnya berjalan mulus, bahkan kecerdasan buatan itu mampu menyampaikan plot yang tidak terduga. Lagipula semua karya buatan kecerdasan buatan tidak dilindungi oleh hak cipta. Sehingga aku bisa menggunakan hasil tulisannya secara leluasa, tanpa melanggar plagiarisme atau pun undang-undang hak cipta.

Setelah beberapa kali mengirim cerita buatan Sagitarius, aku langsung mendapat banyak sekali respon positif dari beberapa klien. Mereka merasa puas dengan cerita ‘Tulisanku’ yang rapi, terstruktur, dan juga memiliki alur yang menarik. Oleh karenanya, banyak sekali penerbit atau perusahaan yang menghubungiku, untuk dibuatkan cerita pendek. Bahkan tidak jarang juga, aku mendapat tawaran kerja selama beberapa bulan dari beberapa perusahaan ternama.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menulis lebih dari sekedar sebuah cerita pendek. Mulai dari puisi, naskah untuk konten video pendek, hingga novel ringan yang tidak lebih dari 200 halaman. Dan seperti awal aku melangkah ke tangga kesuksesan ini, aku membuat semua tulisan itu dengan menggunakan Sagitarius. Sebuah kecerdasan buatan, yang kini menjadi mesin uang pribadiku.

Pada awalnya semua itu tidak berjalan baik-baik saja. Dimana beberapa klien nyatanya tidak sebodoh yang kukira. Secara diam-diam mereka memeriksa keaslian tulisanku, dengan konsultasi ke beberapa orang editor profesional, atau sekedar menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan lainnya.

Tapi dengan cepatnya, aku bisa menemukan sebuah titik terang untuk mengakali mereka. Setelah tulisan buatan Sagitarius sudah selesai, aku akan memintanya untuk merevisi tulisan tersebut, agar terlihat lebih manusiawi. Atau jika sedang tidak malas, biasanya aku mengubah tulisan itu dengan tanganku sendiri, supaya terasa lebih manusiawi. Namun pada akhirnya, aku menyerahkan 100% proses menulis kepada Sagitarius. Sehingga apa yang perlu kulakukan hanyalah memberikan instruksi mengenai tema utama yang diminta oleh para klien.

Beberapa bulan telah berlalu. Namaku dikenal cukup luas di antara para penulis dan perusahaan penerbit. Aku merasa sudah berada di atas awan, karena bisa menghasilkan puluhan juta rupiah kurang dari setahun, tanpa perlu melakukan apa – apa.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Setelah berulang kali mengirim cerita ke beberapa klien yang sama, mereka mulai merasa jenuh dengan tulisanku. Walaupun sudah memberi berbagai tulisan dengan ide segar, mereka selalu berpendapat tulisanku begitu-begitu saja. Aku sudah meminta Sagitarius untuk membuat tulisan dengan alur dan pola tulisan yang berbeda, namun hal tersebut tidak pernah memuaskan bagi mereka. Setelah berulang kali mengirim tulisan yang berbeda, mereka mulai lelah, dan pada akhirnya menyerah. Sebagian besar dari klien mulai tidak puas dengan performaku yang tidak ada peningkatan. Tidak sedikit dari mereka yang langsung memutus kontrak sepihak, karena merasa diriku tidak berkompeten dalam bidang ini, dan cenderung terus berada di zona nyaman.

Karena tidak bisa menarik hati para klien, akhirnya mereka mulai meninggalkanku satu per satu. Hingga pada akhirnya, aku kembali menjadi diriku sebelum bertemu dengan Sagitarius. Bahkan kali ini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Jangankan menulis novel ringan atau pun puisi, untuk memikirkan sebuah tema cerita yang akan diinstruksikan kepada Sagitarius saja otaku tidak bisa berpikir.

Waktu demi waktu pun mulai berlalu, secara perlahan aku mulai kehilangan kemampuan untuk berimajinasi dan menulis. Aku tidak bisa lagi memikirkan plot yang menarik, menentukan masalah utama pada cerita, membuat karakter yang hidup dan menarik, hingga membuat judul cerita saja aku butuh waktu berhari-hari untuk memantapkannya. Sekarang aku menyesali perbuatanku di masa lalu, dimana meminta kecerdasan buatan untuk mengambil sesuatu yang menjadi jati diriku.

Sagitarius telah memang. Dia sudah berhasil mematikan imajinasiku untuk selamanya. Sekarang aku terpaksa meninggalkan dunia sastra, sesuatu yang aku idam-idamkan sejak kecil.

* * * * * * * * *

*Penulis adalah peserta tantangan menulis maret Sigupai Mambaco

Loading