Kabar  

Tiga Komunitas Literasi Sultra Terima Banpem Badan Bahasa 2026, Perkuat Ekosistem Sastra dan Budaya

Tiga komunitas literasi dan sastra di Sulawesi Tenggara menerima Bantuan Pemerintah (Banpem) Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketiga komunitas tersebut adalah IDEA Project di Kota Kendari, Pustaka Barakati di Kabupaten Muna Barat, dan TBM Diary di Kota Kendari.

Bantuan pemerintah tersebut diberikan kepada komunitas yang selama ini dinilai memiliki rekam jejak dalam mengembangkan gerakan literasi, sastra, dan kebudayaan di daerahnya masing-masing. Melalui berbagai program yang dijalankan secara konsisten, ketiganya telah menghadirkan ruang belajar, ruang berkesenian, hingga taman baca masyarakat yang menjangkau berbagai lapisan warga.

Program Banpem Badan Bahasa tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja-kerja komunitas yang selama ini tumbuh secara mandiri, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem sastra dan literasi di daerah melalui berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026.

Di Sulawesi Tenggara, ketiga komunitas penerima bantuan tersebut memiliki karakter dan fokus pengembangan yang berbeda. IDEA Project dikenal sebagai komunitas seni-budaya yang aktif membangun kolaborasi lintas sektor di Kota Kendari. Pustaka Barakati tumbuh sebagai taman baca masyarakat di Desa Marobea, Kabupaten Muna Barat, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis desa. Sementara itu, TBM Diary berkembang sebagai ruang literasi masyarakat yang berada di tengah kawasan permukiman padat di Perumnas Wuawua, Kota Kendari.

IDEA Project, Menghidupkan Ruang Kolaborasi Seni di Jantung Kota Kendari

IDEA Project merupakan komunitas literasi yang didirikan dan kini dikelola oleh Ashari Amrullah di Kota Kendari. Komunitas ini dikenal aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seni dan literasi, mulai dari diskusi buku, peluncuran dan bincang buku, pertunjukan teater, baca puisi, musik, tari, pemutaran film, workshop, hingga pameran kreativitas.

Tidak hanya melibatkan anggota komunitasnya sendiri, IDEA Project juga secara konsisten membuka ruang kolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman, akademisi, lembaga pemerintah, maupun lembaga kebudayaan internasional. Pola kerja kolaboratif inilah yang menjadikan IDEA Project sebagai salah satu simpul penting perkembangan seni dan literasi di Sulawesi Tenggara.

Komunitas ini didirikan pada tahun 2004 oleh Muh. Rustam Abadi, Asia Fatmawati, dan Ashari Amrullah dengan visi mendorong lahirnya masyarakat yang terdidik, berbudaya, dan mandiri. Visi tersebut diwujudkan melalui tiga misi utama, yakni mengembangkan pendidikan alternatif, memperkuat kebudayaan lokal, serta membangun kolaborasi dan kewirausahaan sosial (social enterprise).

Saat ini IDEA Project berkedudukan di Jalan Antero Hamra, Kompleks Ruko River View, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Lokasi tersebut berada di kawasan strategis pusat Kota Kendari yang dikelilingi kawasan perdagangan, hotel, pusat kuliner, perkantoran pemerintah, dan aliran Kali Kadia.

Di bawah kepemimpinan Ashari Amrullah, IDEA Project mengembangkan sejumlah program utama. Salah satunya adalah Rumah Pengetahuan, sebuah ruang pendidikan alternatif yang terbuka bagi masyarakat melalui kegiatan peluncuran buku, diskusi, pemutaran film, workshop, pameran, dialog tematik, hingga kelas inspirasi.

Selain itu, komunitas ini juga menjalankan program Forum Padamu Negeri, Wirausaha Sosial dan Pemberdayaan, serta Seni dan Budaya. Program terakhir diarahkan untuk mentransformasikan kekayaan budaya lokal menjadi ruang dialog lintas budaya melalui pertunjukan, pameran, festival, riset, workshop, hingga pemutaran film.

IDEA Project Kendari dengan aneka ragam kegiatannya, baik yang digelar di Kota Kendari, maupun di daerah lain di Sultra (Sumber Foto: Ashari Amrullah)

Pada masa berkegiatan di Museum Sulawesi Tenggara, IDEA Project pernah menjadi salah satu pusat aktivitas seni di Kota Kendari. Dalam perkembangannya, komunitas ini kemudian berpindah ke sebuah ruko dan mengembangkan kafe sebagai bagian dari visi ekonomi kreatif untuk menopang keberlanjutan komunitas.

Di dalam proses kreatifnya, IDEA Project telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi, antara lain Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Desa Lantawonua, Jurusan Sastra Lisan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar, serta Universitas Al Asyariah Mandar.

Kolaborasi juga dibangun bersama berbagai komunitas seperti Pustaka Kabanti, Pekamata, Da’de Studio, Kampung Pisang, Komunitas Teko, Komunitas Teras, Komunitas Membaca Nyaring, Lastra UHO, UKM Seni IAIN Kendari, Rumah Inspirasi Butur, hingga Kala Teater Makassar. Selain itu, IDEA Project bermitra dengan British Council, Japan Foundation, Yayasan Kelola, CKU Denmark, Yayasan Bali Purnati, dan Erasmus Huis.

Dihubungi mengenai Banpem yang diterimanya, Ashari Amrullah menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian negara terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan yang selama ini banyak digerakkan secara mandiri oleh komunitas.

“Kami mengapresiasi bantuan yang telah diberikan pemerintah kepada komunitas sastra. Dukungan ini menjadi bentuk perhatian terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan yang selama ini banyak digerakkan oleh komunitas secara mandiri. Kami sangat berharap bentuk dukungan seperti ini bisa direplikasi oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya,” ujarnya.

Ashari menilai penguatan ekosistem sastra tidak cukup hanya melalui bantuan jangka pendek, tetapi juga memerlukan dukungan yang lebih berkelanjutan. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan ruang berkegiatan bersama, meningkatkan kapasitas komunitas, mempermudah akses publikasi, serta membuka kolaborasi yang lebih intensif dengan para pegiat budaya.

Dengan dukungan seperti itu, menurutnya, komunitas sastra dan seni akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi komunitas yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Bantuan pemerintah juga diharapkan mampu mendorong lahirnya program-program baru yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Ari–sapaan akrab Ashari Amrullah–menegaskan bahwa IDEA Project berkomitmen memanfaatkan Banpem yang ia terima secara bertanggung jawab. Ia juga berharap hubungan antara pemerintah dan komunitas sastra terus dibangun melalui dialog yang terbuka sehingga setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan para pelaku sastra di lapangan.

 Pustaka Barakati, Menyalakan Literasi dari Pelosok Muna Barat

Di Kabupaten Muna Barat, semangat literasi tumbuh dari sebuah desa yang jauh dari pusat keramaian. Adalah Pustaka Barakati, taman baca masyarakat yang didirikan La Ode Abdul Wahid pada 2019 di Desa Marobea. Di tengah keterbatasan akses informasi, komunitas ini hadir sebagai ruang belajar bagi masyarakat sekaligus menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak selalu lahir dari kota-kota besar.

Tidak banyak anak muda yang memilih kembali ke kampung halaman untuk membangun taman baca. Namun, keputusan itulah yang diambil Wahid setelah menempuh pendidikannya di Universitas Halu Oleo. Ia meyakini bahwa masyarakat desa juga berhak memperoleh ruang belajar yang terbuka dan berkelanjutan.

Pustaka Barakati dibangun dengan visi menjadi ruang pembelajaran masyarakat demi menyemai kebermanfaatan. Visi tersebut diwujudkan melalui misi menjadikan taman baca sebagai pusat pembelajaran sekaligus ruang berkegiatan bagi masyarakat sekitar.

Nama Barakati sendiri diambil dari nama salah satu mata air yang berada di Desa Marobea. Layaknya mata air yang terus mengalir memberi kehidupan, Pustaka Barakati diharapkan mampu menghadirkan manfaat yang terus mengalir bagi masyarakat melalui kegiatan membaca, belajar, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan.

Perjalanan Pustaka Barakati dimulai dengan langkah yang sangat sederhana. Sepulang dari Kendari, Wahid mulai mengumpulkan buku sebanyak mungkin dan menggelarnya di halaman rumah. Tanpa diduga, setiap hari anak-anak usia sekolah mulai berdatangan untuk membaca, bermain, dan belajar bersama. Dari ruang sederhana itulah gerakan literasi Pustaka Barakati perlahan tumbuh dan dikenal masyarakat.

Tampak Pustaka Barakati di depan sekretariat dan tanaman jambu untuk mendukung kegiatan komunitasnya. (Foto: La Ode Wahid)

 

Seiring berkembangnya aktivitas komunitas, Wahid aktif memperluas jejaring dengan berbagai komunitas literasi di Sulawesi Tenggara maupun tingkat nasional. Ia rutin mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, serta berbagai organisasi pegiat literasi.

Pustaka Barakati juga menjalin kemitraan dengan Himawira ITBKM, TBM Zona Madani, Remaja Literasi Desa Kusambi, Forum TBM, Pustaka Kabanti Kendari, Pustaka Bergerak Indonesia, hingga Komunitas 1001 Buku. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam memperluas jaringan pembelajaran sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola komunitas.

Bagi Wahid, membangun komunitas literasi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan dari luar. Karena itu, ia berupaya menciptakan sumber pembiayaan yang mandiri agar aktivitas taman baca dapat terus berjalan.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, ia mengembangkan lahan miliknya menjadi kebun jambu air premium dan jambu biji premium. Hasil panen kemudian dipasarkan di wilayah Muna Barat dan sebagian keuntungannya digunakan untuk menopang operasional Pustaka Barakati.

“Demi mendukung aktivitas literasi kami di Pustaka Barakati saya telah mengubah lahan sendiri menjadi kebun jambu air premium yang kini sudah dipasarkan di Muna Barat. Alhamdulillah, hasil penjualan itu lumayan membantu untuk kegiatan taman baca dan juga keseharian di rumah. Tanaman jambu air ini sekaligus menjadi amal literasi finansial kami dalam bentuk praktik yang nyata,” kata Wahid.

Model pembiayaan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dibangun melalui kemandirian ekonomi. Kebun jambu air bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi menjadi strategi keberlanjutan agar kegiatan membaca, belajar, dan pemberdayaan masyarakat tetap berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan pihak lain.

Atas konsistensinya mengembangkan taman baca masyarakat, Pustaka Barakati terpilih sebagai salah satu penerima Bantuan Pemerintah (Banpem) Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada kategori komunitas literasi. Bantuan tersebut diharapkan semakin memperkuat kiprah Pustaka Barakati dalam menghadirkan layanan literasi bagi masyarakat Desa Marobea dan Kabupaten Muna Barat secara lebih luas.

 TBM Diary, Menumbuhkan Budaya Baca dari Tengah Permukiman Kota

Jika Pustaka Barakati tumbuh dari sebuah desa di Kabupaten Muna Barat, maka penerima Banpem lainnya berkembang di tengah padatnya permukiman Kota Kendari. Dia adalah TBM Diary, taman bacaan masyarakat yang didirikan Andi Diah Masita pada 2018 di kawasan Perumnas Wuawua, salah satu kompleks permukiman awal di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Keberadaan TBM Diary di tengah lingkungan warga menjadi modal sosial yang kuat dalam membangun budaya baca masyarakat. Kawasan Perumnas Wuawua yang dihuni beragam latar belakang keluarga menjadi ruang yang strategis bagi tumbuhnya berbagai aktivitas literasi, terutama bagi anak-anak dan remaja. Di lingkungan inilah Andi Diah Masita lahir, tumbuh, dan kemudian memilih mengabdikan diri melalui gerakan literasi.

Berangkat dari visi membangun manusia yang cerdas, sosial, dan literat, TBM Diary menghadirkan berbagai layanan yang dapat diakses masyarakat secara terbuka. Salah satu kegiatan utamanya ialah layanan membaca di ruang koleksi perpustakaan yang menyediakan berbagai bacaan bagi anak-anak hingga masyarakat umum. Para pengunjung dapat membaca buku di tempat dalam suasana yang nyaman dan ramah bagi keluarga.

Tidak hanya menyediakan layanan membaca, TBM Diary juga menghadirkan ruang kreasi anak sebagai wadah belajar, bermain, dan mengembangkan kreativitas. Ruang ini dirancang agar anak-anak tidak sekadar datang untuk meminjam buku, tetapi juga memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan melalui berbagai aktivitas edukatif.

Komitmen mendekatkan buku kepada masyarakat juga diwujudkan melalui program Diary Berkunjung, yakni kegiatan mengunjungi sekolah-sekolah, posyandu, serta berbagai ruang publik lainnya. Melalui program tersebut, TBM Diary berusaha menghadirkan buku langsung ke tengah masyarakat sehingga akses terhadap bahan bacaan tidak hanya terpusat di taman bacaan.

Selain itu, TBM Diary aktif memberikan layanan berbagi pengetahuan kepada para orang tua mengenai pentingnya membacakan nyaring (read aloud) dan mendongeng kepada anak sejak usia dini. Program ini menjadi salah satu upaya membangun budaya literasi dari lingkungan keluarga, dengan menempatkan orang tua sebagai pendamping utama anak dalam mengenal dunia membaca.

Anak-anak warga di Kompleks Perumahan Kota Kendari menikmati bacaan dan kerja literasi di TBM Diary. (Foto: Andi Diah Masita).

Dalam mengembangkan berbagai program tersebut, TBM Diary menjalin kemitraan dengan sejumlah lembaga dan komunitas. Di antaranya komunitas-komunitas literasi di Kota Kendari, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, Forum TBM, Gramedia, serta Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Kolaborasi tersebut membuka peluang bagi TBM Diary untuk memperluas jaringan, menghadirkan narasumber, serta meningkatkan kualitas program literasi yang diselenggarakan.

Atas kiprah tersebut, TBM Diary terpilih sebagai salah satu penerima Bantuan Pemerintah (Banpem) Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada kategori komunitas literasi. Bagi Andi Diah Masita, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan pendanaan, melainkan juga bentuk pengakuan terhadap kerja-kerja komunitas yang selama ini dijalankan secara mandiri dan nirlaba.

Di sela percakapan, Andi Diah mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Badan Bahasa kepada komunitas yang dipimpinnya.

“Fasilitas ini tentunya sangat bermanfaat untuk komunitas yang selama ini bergiat secara mandiri dan nonprofit. Banpem ini membuka ruang seluas-luasnya bagi kami untuk merealisasikan ide yang selama ini mandek di kepala karena belum ada dana. Bantuan ini juga menjadi ruang bagi teman-teman komunitas untuk bergiat dengan lebih antusias karena ada dukungan nyata. Anak-anak di sekitar TBM pun dapat memiliki ruang kreasi dan belajar yang lebih luas, karena akan hadir kakak-kakak fasilitator baru yang berkompeten untuk mengajarkan berbagai pengetahuan kepada mereka,” ujar Diah yang saat ini menjadi Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Sulawesi Tenggara.

Menurutnya, dukungan pemerintah melalui Banpem menjadi energi baru bagi komunitas untuk menghadirkan program-program literasi yang lebih beragam dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya memperkuat kegiatan yang telah berjalan, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi baru dalam pelayanan literasi di lingkungan tempat tinggalnya.

Banpem Menjadi Titik Awal Penguatan Ekosistem Literasi

Terpilihnya IDEA Project, Pustaka Barakati, dan TBM Diary sebagai penerima Bantuan Pemerintah (Banpem) Tahun 2026 menunjukkan bahwa gerakan literasi di Sulawesi Tenggara terus tumbuh melalui kerja-kerja komunitas yang dilakukan secara konsisten. Masing-masing hadir dengan karakter, pendekatan, dan basis gerakan yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni memperluas akses masyarakat terhadap literasi, sastra, dan kebudayaan.

IDEA Project mengembangkan ruang kolaborasi seni dan budaya di pusat Kota Kendari dengan melibatkan komunitas, akademisi, seniman, hingga lembaga kebudayaan internasional. Pustaka Barakati membangun gerakan literasi dari sebuah desa di Kabupaten Muna Barat melalui taman baca yang tumbuh bersama masyarakat dan ditopang oleh kemandirian ekonomi pengelolanya. Sementara itu, TBM Diary menghadirkan budaya membaca di tengah kawasan permukiman Kota Kendari dengan mendekatkan buku kepada anak-anak, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ketiga komunitas tersebut memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak selalu bergantung pada fasilitas yang besar. Sebaliknya, literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana ketika ada komitmen, kolaborasi, dan keberlanjutan. Di balik setiap kegiatan membaca, diskusi buku, pertunjukan seni, kelas inspirasi, hingga layanan taman baca masyarakat, terdapat kerja sukarela yang selama ini dijalankan secara mandiri dan kolaboratif oleh para pegiat literasi.

Bantuan Pemerintah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, diharapkan menjadi penguat bagi berbagai program yang telah dirintis komunitas. Dukungan tersebut bukan hanya membantu pelaksanaan kegiatan dalam jangka pendek, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi, memperluas jejaring kolaborasi, serta meningkatkan kapasitas komunitas dalam membangun ekosistem sastra dan literasi yang lebih kuat.

Lebih jauh, program Banpem menjadi bentuk pengakuan negara terhadap peran komunitas dalam menghidupkan budaya baca dan aktivitas kesusastraan dan seni di daerah. Selama ini, banyak komunitas bergerak dengan keterbatasan sumber daya, tetapi tetap mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan menjangkau masyarakat secara langsung.

Perjalanan ketiga komunitas ini tentu belum berakhir. Justru, Banpem menjadi sebuah fase untuk membuktikan bahwa gerakan literasi yang lahir dari inisiatif warga mampu menghadirkan perubahan sosial yang berkelanjutan. Masyarakat kini menanti berbagai program yang akan mereka laksanakan sepanjang tahun 2026, program yang bukan hanya menghadirkan buku dan ruang baca, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan, kreativitas, serta semangat berkebudayaan di tengah masyarakat.

Penulis: Syaifuddin Gani | Editor: Heri Maja Kelana

Exit mobile version