Oleh. Nita Juniarti*
Bagi sebagian besar anak-anak, klinik gigi adalah tempat di mana keberanian mendadak luntur. Kombinasi antara bau antiseptik yang tajam, hingga bayangan jarum suntik sering kali melahirkan represi psikologis yang berujung pada penolakan traumatis. Stigma menyeramkan ini sayangnya sering dibiarkan tumbuh subur di dalam keluarga. Dampaknya, kunjungan ke dokter gigi baru dilakukan sebagai pilihan terakhir—saat kerusakan gigi anak sudah telanjur parah dan rasa sakitnya tidak lagi tertahankan.
Secara psikologis, ketakutan anak pada dokter gigi (dental anxiety) umumnya berakar dari ketakutan akan hal-hal yang tidak mereka ketahui atau pahami. Ketika seorang anak langsung didudukkan di atas kursi periksa (dental chair) tanpa persiapan mental yang matang, otak mereka akan mendeteksi instrumen medis yang asing sebagai ancaman nyata.
Di sinilah letak urgensi intervensi psikologis sejak dini. Kunci utama memutus rantai ketakutan ini tidak terletak pada pemaksaan fisik, melainkan pada rekonstruksi cara pandang anak melalui media yang aman dan akrab bagi dunia mereka.
Langkah segar yang diinisiasi oleh TBM Sigupai Mambaco bersama klinik gigi Nana Dental Care di Aceh Barat Daya pada Minggu (6/9/2026) menjadi refleksi penting bagi kita semua. Kolaborasi ini membuktikan bahwa tantangan psikososial dunia medis sebenarnya dapat diselesaikan secara elegan melalui intervensi gerakan literasi masyarakat yang humanis.
Menghadapi 22 anak usia dini dalam sebuah ruang klinis bukanlah perkara mudah. Namun, alih-alih langsung menuntun mereka ke dalam ruang periksa, anak-anak terlebih dahulu dijembatani melalui dunia literasi. Sesi membaca nyaring (read aloud) buku gosok-gosok yang dipandu oleh drg. Jihan Ainul bertindak sebagai pengantar untuk anak.
Sebagai seorang dokter sekaligus praktisi read aloud, drg. Jihan memahami betul efek kognitif dari sebuah cerita. Membaca nyaring mampu merangsang imajinasi positif anak, sedangkan media buku gosok-gosok memberikan stimulasi visual yang sangat kuat.
Ketika mental anak sudah terondisikan secara positif melalui literasi, fase transisi ke ruang praktik pun berjalan mulus. Di sinilah letak keberhasilan sinergi ini. Melalui drg. Ana, instrumen medis yang awalnya diidentikkan sebagai “alat penyiksa” didekonstruksi maknanya menjadi objek belajar yang ramah melalui bahasa yang sederhana.
Memberikan kesempatan anak memegang cermin gigi (mouth mirror) adalah sebuah langkah validasi emosi yang cerdas. Secara psikologis, memegang kendali atas objek yang ditakuti akan menurunkan tingkat kecemasan anak secara drastis. Alat medis tidak lagi menakutkan, melainkan menarik untuk dieksplorasi. Testimoni dari Putroe, salah satu anak yang hadir, bahwa kegiatan tersebut “seru dan menyenangkan,” menjadi bukti sahih bahwa sudut pandang anak-anak telah berhasil digeser dari ketakutan akut menjadi sebuah pengalaman belajar (learning experience).
Sesi penutupan yang diisi dengan kuis kesehatan gigi dan ulasan membaca nyaring mempertegas bahwa evaluasi belajar anak-anak dapat dikemas secara rekreatif. Melalui dukungan swadaya dari hamba Allah, kegiatan ini menegaskan satu hal: gerakan sosial yang berdampak besar tidak melulu soal anggaran masif, melainkan soal ketepatan metode dan ketulusan niat.
Tentu saja, sebagai sebuah program rintisan lokal, catatan teknis operasional tetap ada untuk pembenahan ke depan. Namun, esensi utama dari gerakan Sigupai Mambaco dan Nana Dental Care melampaui sekadar bagi-bagi sikat gigi gratis.
Kolaborasi ini adalah sebuah model ideal tentang bagaimana sektor kesehatan dan komunitas literasi harus mulai sering berjabat tangan. Untuk membangun generasi yang sadar kesehatan gigi. Kita butuh media kreatif, pendekatan medis yang persuasif, dan ruang literasi yang inklusif untuk mengubah trauma kursi periksa menjadi sebuah keberanian dan cita-cita yang menyenangkan.
*Pengurus PW Provinsi Aceh
