Bencana alam melanda beberapa wilayah di Indonesia. Salah satu desa di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi daerah terdampak banjir. Desa tersebut secara geografis sangat dekat dengan sungai yang airnya meluap. TBM Rumah Intuisi, yang notabene berada di wilayah tersebut tutut terdampak.
Selasar Cerita dari Rumah Intuisi
Forum TBM melaksanakan Kegiatan SAPA TBM: Selasar Cerita dan Doa yang dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026, pukul 16.00–17.00 WIB, melalui siaran langsung Instagram @forum_tbm.
Kegiatan ini menjadi ruang bincang dan refleksi yang menghadirkan Sekretaris Jenderal Forum TBM, Heni Wardatur Rohmah, bersama narasumber Muhammad Supawi, founder Rumah Intuisi. Seluruh uraian dan refleksi yang disampaikan dalam tulisan ini merupakan hasil dari bincang-bincang SAPA TBM tersebut, yang membuka ruang perjumpaan dengan cerita-cerita yang tumbuh, didengar dengan penuh perhatian, dan menjelma menjadi doa-doa yang terpanjatkan dalam keheningan.
Bencana banjir yang begitu parah ini baru pertama kali disaksikan oleh Kak Awi, sapaan akrab Muhammad Supawi. Sepanjang hidupnya, inilah kali pertama ia menyaksikan air masuk ke dalam rumah dan menjadi pengalaman banjir yang paling parah.
Akses penyelamatan yang terbatas, tim evakuasi yang saling menolong, hingga situasi kebingungan harus dihadapi secara bersamaan. Di saat seperti itu, empati pun tergerak: antara menolong diri sendiri terlebih dahulu atau menolong orang lain, sebab pada waktu yang sama setiap orang sedang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.
Dari kejadian bencana yang menimpanya, Kak Awi belajar banyak hal tentang ilmu kehidupan, salah satunya tentang empati. Musibah besar yang ia alami ternyata masih lebih ringan dibandingkan kondisi di daerah lain yang ia saksikan jauh lebih parah. Di situlah nuraninya terketuk; ia belajar untuk bersyukur karena tidak mengalami dampak yang sebesar wilayah lain.
Masih banyak daerah yang mengalami musibah banjir dengan kondisi lebih parah, namun masyarakatnya tetap semangat dan mampu menjalani hidup. Dari peristiwa ini pula, Kak Awi belajar bahwa makna kata “sabar” yang selama ini ia pelajari, ternyata lebih mudah dijalani oleh anak-anak dibandingkan dirinya sendiri.
Memetik Pelajaran Hidup dari Musibah yang Terjadi
“Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain,” begitu yang dituturkan Kak Awi. Dengan adanya Forum TBM di Sumatera Utara yang saling membantu dan menghadirkan peran TBM sebagai sumber daya manusia yang tidak terbatas, Kak Awi bersama adik-adik di TBM mendapatkan pendampingan psikososial dengan baik. Anak-anak di TBM pun perlahan kembali ceria, terhibur, dan termotivasi.
Bagi Kak Awi, TBM bukan hanya sekadar tempat membaca buku, tetapi juga ruang bercerita, tempat doa-doa dilangitkan, serta wadah kolaborasi antar-TBM. Kolaborasi inilah yang menjadi titik balik kebangkitannya bersama TBM Rumah Intuisi.
Dua bulan pasca banjir, kondisi Rumah Intuisi kini berangsur membaik. Proses pemulihan telah dilakukan, Taman Baca mulai ditata ulang, dan anak-anak sudah kembali aktif berkegiatan serta mengaji setiap hari Jumat.
Refleksi dan Pesan untuk Teman-Teman TBM
Refleksi yang dapat dipetik dari kisah Kak Awi dalam menghadapi situasi pasca bencana ini menegaskan pentingnya memberikan pelajaran advokasi kepada anak-anak. Ketika bencana banjir terjadi dan orang tua sibuk dengan berbagai keperluan, sementara kebutuhan terus berdatangan, peran relawan atau orang dewasa menjadi sangat penting untuk menjaga kebahagiaan anak agar tetap hidup dan tidak kehilangan arah di tengah situasi krisis.
Selain itu, kisah ini juga menunjukkan pentingnya pembekalan ilmu pendampingan psikososial bagi setiap orang yang terlibat di TBM. Forum TBM tidak hanya perlu fokus pada pengembangan sumber daya manusia tenaga pustaka, tetapi juga pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam keterampilan dasar penanganan bencana dan pendampingan psikososial.
Harapan lainnya adalah agar Forum TBM dapat saling terhubung secara emosional, karena TBM pada hakikatnya adalah gerakan nurani, gerakan yang membangun empati, sehingga keterhubungan emosional antar TBM menjadi fondasi penting dalam saling menguatkan dan bertumbuh bersama.
