Oleh. Arief Muhammad*
Tanpa terasa, sudah sebulan saya menjadi relawan pendidikan di Kabupaten Jeneponto. Banyak hal membekas dalam hati dan tertinggal dalam kepala, bahkan kadang mengganggu pikiran hingga sulit tidur lelap. Kecamuk perasaan timbul tenggelam, menghadirkan rasa haru, sedih, senang, bahkan marah saat melihat kenyataan di tengah masyarakat.
Proses mengalami langsung ini adalah sesuatu yang tak bisa dinilai dengan materi. Dampaknya terasa begitu dalam, menyerupai pengalaman spiritual yang menggugah emosi. Dari sini pula saya mendapatkan banyak insight dan perspektif baru. Saya merasa beruntung bisa ikut terlibat dalam program ini.
Program ini digagas oleh Kemendikdasmen melalui Dinas Pendidikan, di bawah naungan Dinas PNFI (Pendidikan Nonformal dan Informal), bekerja sama dengan forum TBM sebagai mitra. Tugas kami adalah turun langsung ke masyarakat untuk melakukan wawancara, serta verifikasi dan validasi data ATS (Anak Tidak Sekolah).
Di Sulawesi Selatan, salah satu daerah dengan jumlah ATS yang cukup tinggi adalah Kabupaten Jeneponto. Kabupaten yang terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi ini menyimpan berbagai permasalahan sosial yang kompleks sejak lama. Mulai dari tingginya angka putus sekolah, pernikahan anak di bawah umur, hingga budaya lama seperti silariang (kawin lari), yang entah mengapa seolah terus dilanggengkan tanpa upaya serius untuk memutus rantainya dari generasi ke generasi.
Hari Ahad (31/5) kemarin, seharusnya saya memanjakan diri dengan menonton acara Makassar Half Marathon yang berlangsung di kawasan Pantai Losari. Banyak teman dan kerabat yang antusias mengikuti kegiatan tahunan tersebut, sebuah event akbar yang dinantikan para pelari. Namun, saya memilih untuk mengesampingkan itu dan kembali ke Jeneponto untuk menuntaskan tugas pendataan ATS bersama teman-teman relawan lainnya.
Saya berangkat menjelang sore, karena pagi hingga siang masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Seperti biasa, rasa bosan saat melewati jalan poros Jeneponto yang lurus dan panjang, sekitar 60 kilometer tanpa banyak kelokan, sedikit terobati oleh pemandangan yang indah. Selepas Kota Takalar, gunung di kejauhan tampak seperti lukisan alam yang sengaja dihadirkan Tuhan, mungkin untuk menghibur para pengelana yang melintas.
Memasuki wilayah Jeneponto, saya disambut gapura besar bertuliskan batas kabupaten, dihiasi patung kuda, ikon daerah penghasil garam tersebut. Di sepanjang jalan, warga menjajakan aneka makanan khas seperti lammang (olahan ketan yang dibakar dalam bambu), ballo (minuman fermentasi nira khas Makassar), hingga kuliner seperti coto kuda. Tak ketinggalan pedagang buah dan garam dalam karung-karung kecil turut meramaikan suasana.
Di rest area Jeneponto yang jalannya menurun, sisi kiri menyajikan hamparan ladang jagung, sementara di sisi kanan terbentang pemandangan laut Flores yang luas dan indah. Tambak-tambak garam menghiasi perjalanan, mengingatkan pada lanskap Salar de Uyuni di Pegunungan Andes, Bolivia.
Kondisi jalan yang relatif mulus cukup membantu perjalanan. Motor matic saya melaju dengan kecepatan sekitar 50 km per jam. Namun, saat perjalanan pulang di malam hari, suasana bisa terasa lebih mencekam karena masih banyak wilayah yang minim penerangan jalan. Ini menjadi kontras yang mencolok, mengingat di Jeneponto telah berdiri PLTU yang mampu menyuplai daya listrik hingga 200 MW, bahkan menjadi sumber energi bagi wilayah Sulselbar. Sebuah ironi di balik megahnya slogan pembangunan.
Jika di awal tulisan saya menyebut bahwa pengalaman menjadi relawan pendidikan di Jeneponto menghadirkan perasaan campur aduk, senang, sedih, hingga marah. Itu didasari oleh berbagai kejadian yang akan saya ceritakan pada kesempatan lain.
Tulisan singkat ini tentu belum mampu menampung semuanya. Namun, sudut pandang yang ingin saya tegaskan adalah: pendidikan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Jangan biarkan ia menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Pendidikan harus mampu menembus sekat-sekat sosial yang menghalangi tersampaikannya ilmu pengetahuan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Sebab pendidikan adalah hak setiap warga negara, sebagaimana telah diamanahkan dalam konstitusi.
Terima kasih kepada Kemendikdasmen dan Forum TBM yang telah mengutus kami sebagai relawan pendidikan di Kabupaten Jeneponto, khususnya di Kecamatan Bangkala dan Bangkala Barat.
*(Relawan Pendidikan Kemendikdasmen 2026 di Kab. Jeneponto)
