Bencana di Sumatera memang telah merenggut banyak hal. Bukan saja harta yang terkubur, tetapi juga nyawa. Bahkan bagi korban yang masih hidup, trauma kadang masih tetap membayangi setiap saat. Akan tetapi, salah satu warisan bangsa Indonesia adalah gotong royong. Budaya tolong-menolong ini hadir dalam beragam bentuk. Begitu juga dengan daerah bencana di Sumatera Utara, sekelompok pemuda hadir di tengah wilayah terdampak untuk kerja kemanusiaan.
Forum TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Sumatera Utara hadir dalam agenda psikososial, yakni penyembuhan trauma di tengah warga. Sofyanto, Ketua Forum TBM Sumut menceritakan program psikososial bagi warga terdampak bencana besar di Sumatera Utara. Program itu terselenggara pada Minggu, 21 Desember 2025 lalu. Organisasi yang dimpinnya bergerak menghimpun donasi lalu disalurkan ke masjid, musala, Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Al Washliyah, dan juga ke TBM terdampak.
Penyerahan hasil donasi itu dilakukan dalam tiga lokasi yang berbeda. Lokasi pertama, yakni di MDA Al Washliyah di Desa Lama Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Lokasi kedua, menyasar 220 anak korban banjir yang dilaksanaan berkat kerja sama dengan Forhati (Forum Alumni HMI Wati) dalam rangka ulang tahunnya yang ke-27 sekaligus peringatan Hari Ibu tahun 2025. Kegiatan sosial ini dilaksanakan di rest area Keripik Cinta Mas Hendro, Desa Air Hitam, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Lokasi ketiga, yakni Rumah Intuisi bersama 11 anak terdampak bencana. Kegaiatan ini dilaksankan di Tanjungpura, Langkat yang sekaligus menjadi posko pembagian dan penyaluran donasi dari Forum TBM Sumut. Adapun barang yang didonasikan adalah berupa meja belajar, ATK, tikar, dan paket sembako kepada masjid,muhala, dan TBM.
Sofyanto dan anggotanya bekerja mengoptimalkan pendanaan dari penggalangan dana Forum TBM Sumut, Kita Bisa, 1000 Senyum, dan dana dari Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia. Organisasi ini memberikan kontribusi nyata bagi program psikososial dan pemulihan, baik bagi warga maupun komunitas literasi yang terdampak.
Sebelumnya, mereka sudah bergerak sejak 6 Desember 2025. Forum TBM Sumut telah bekerja sama dengan Ila Education dan Cerita Baik Foundation dalam bentuk trauma healing di daerah benaacan, khususnya di Kabupaten Langkat. Mereka menerima informasi dari PD Forum TBM Langkat bahwa ada anak terdampak bencana di sana. Maka mereka pun kerja sama dengan Ila Education dan Cerita Baik Foundaation untuk menemui anak sebagai korban dan segera mengadakan kerja pemulihan psikis.
“Para korban tidak menduga akan ada bencana sebesar itu. Hal itu disebabkan karenan ada tanggul pecah, akibatnya mereka terdampak banjir pertama kalinya yang tidak dapat menahan volume air sangat besar,” kata Sofyanto di ujung telepon.
Program psikososial dimaknai sebagai segugus kegiatan yang direncanakan untuk mendukung pemulihan mental, emosional, dan sosial individu dan kelompok yang mengalami krisis, trauma, atau tantangan akibat sebuah musibah atau bencana. Tujuan mulia gerakan ini adalah memulihkan fungsi, membangun ketahanan, dan meningkatkan kualitas hidup para korbam melalui pendekatan yang berbasis komunitas, misalnya komunitas masyarakat dan literasi di Sumatera Utara.
Para pegiat di lokasi bencana menemukan sekolah dan masjid yang tenggelam yang ikut mengubur semua Al-Qur’an, buku Yasin, dan bacaan lainnya. Akibatnya, tradisi baca Yasin setiap malam Jumat menjadi terganggu. Untuk itulah mereka menyumbangkan buku Yasin, Al-Qur’an dan pedoman salat.
Rumah Intuisi menjadi posko bencana yang dikelola Forum TBM Sumut yang senantiasa berkoordinasi dengan Pengurus Pusat Forum TBM. Di sini, program psikosial mulai diselenggarakan seperti membaca nyaring, bermain, kreasi origami, baca puisi, dan mendongeng. Kerja pemulihan ini dimungkinkan karena adanya kolaborasi lintas komunitas. Semakin banyak pihak yang urun rembuk dan bekerja, semakin besar manfaat yang dihasilkan. Dampak yang diberikan adalah pulihnya rasa trauma dan hadirnya kegembiraan di tengah anak-anak terdampak. Hadirnya rasa persaudaraan dan soliditas menjadi kekuatan lain dari sebuah gerakan di tengah bencana.
