Mengapa Kita Masih Membutuhkan Don Quixote

Sudah sejak dulu sebenarnya saya ingin menceritakan pengalaman setelah membaca novel yang sangat fenomenal berjudul “Petualangan Don Quixote” karya dari Miguel de Cervantes. Karena entah kenapa novel ini selalu relevan dengan keadaan manusia Indonesia meskipun presiden silih berganti. Tidak hanya berhenti pada manusianya semata, sepertinya novel ini relevan pada konteks sosial di Indonesia.

Empat ratus tahun yang lalu, seorang pria Spanyol paruh baya bernama Alonso Quixano terlalu banyak membaca novel fantasi abad pertengahan. Otaknya dipenuhi oleh imajinasi-imajinasi liar. Alonso Quixano merasa terpanggil menjadi ksatria pengembara, mengenakan baju zirah karatan, menunggangi kuda kurus bernama Rocinante, dan mengubah namanya menjadi Don Quixote. Bersama Sancho Panza, pelayan setianya yang tambun, ia berangkat menyelamatkan dunia.

Alih-alih menjadi pahlawan, Quixote justru menjadi bahan bulan-bulanan. Quixote menyerang kincir angin karena mengiranya raksasa, dan digebuki oleh kuli angkut karena salah mengira penginapan murah sebagai kastil megah.

Ketika Miguel de Cervantes merilis novel Don Quixote pada awal abad ke-17, niat awalnya sederhana, mengejek tren novel ksatria masa itu yang dinilainya terlalu berlebihan (dalam bahasa sekarang lebay) serta membuat pembaca semakin bodoh. Namun, tanpa disadari, Cervantes justru melahirkan novel modern pertama di dunia, sebuah mahakarya yang melintasi zaman. Mengapa cerita tentang orang tua gila yang menabrak kincir angin ini begitu abadi?

Idealisme vs Realisme

Daya tarik utama Don Quixote terletak pada dinamika dua karakter utamanya yang merupakan personifikasi dari konflik abadi dalam diri manusia. Apalagi kalua bukan idealisme dan realisme pragmatis.

Di satu sisi, ada Don Quixote. Ia mewakili sisi romantis. Ia menolak melihat dunia apa adanya. Baginya, dunia harus adil, wanita harus dihormati, dan kejahatan harus ditumpas. Quixote melompat ke medan perang tanpa berpikir Panjang dengan mempertimbangkan akibatnya.

Di sisi lain, ada Sancho Panza. Sancho adalah jangkar realitas. Ia tahu kincir angin adalah kincir angin, bukan raksasa. Sancho ikut bertualang awalnya bukan demi kehormatan, melainkan demi uang dan janji Quixote yang ingin menjadikannya gubernur sebuah pulau.

Menariknya, seiring berjalannya cerita, terjadi pertukaran “posisi”. Sancho yang pragmatis perlahan mulai tertular idealisme Quixote. Sancho mulai melihat keindahan dalam kegilaan tuannya. Sementara Quixote, di akhir hayatnya, justru tersadar dari kegilaannya dan kembali menjadi manusia biasa yang membosankan.

“Quixotic” Batas Tipis Antara Gila dan Mulia

Dari novel ini, lahir istilah dalam bahasa Inggris, quixotic. Sebuah kata sifat untuk menggambarkan seseorang yang mengejar impian yang terlalu idealis, romantis, dan cenderung mustahil diwujudkan.

“Apakah menjadi gila adalah sebuah dosa, jika kegilaan itu bertujuan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik?”

Pertanyaan tersirat dari Cervantes ini menampar pembaca. Ya, Quixote gila. Namun, mari kita lihat sekelilingnya, orang-orang “waras” yang ia temui di sepanjang jalan sering kali digambarkan kejam, egois, penuh tipu daya, dan munafik. Di tengah masyarakat yang korup moralnya, kegilaan Quixote yang didasari ketulusan dan kode kehormatan justru terasa menyegarkan, bahkan menjadi mulia.

Cervantes dengan cerdas membalikkan cermin ke wajah pembaca. Siapa sebenarnya yang gila? Pria tua yang memperjuangkan keadilan di dalam ilusinya, atau orang-orang waras yang mendiamkan ketidakadilan di dunia nyata?

Mengapa Don Quixote Tetap Relevan?

Kita hidup di era digital di mana realitas sering kali terasa melelahkan, sinis, dan pragmatis. Kita dituntut untuk menjadi seperti Sancho Panza, berpikir logis, mencari aman, dan fokus pada keuntungan materi.

Namun, sesekali kita butuh menjadi Don Quixote. Kita butuh sedikit “kegilaan” untuk berani bermimpi besar, menantang status quo, dan memperjuangkan sesuatu yang dianggap orang lain mustahil. Para penemu, aktivis kemanusiaan, dan seniman besar sering kali adalah orang-orang quixotic pada zamannya, mereka yang berani “menyerang kincir angin” ketika orang lain memilih berdiam diri.

Pada akhirnya, Don Quixote adalah sebuah surat cinta untuk imajinasi manusia. Ketika Quixote tersadar di akhir cerita dan meninggal dalam keadaan waras, kita sebagai pembaca tidak merasa lega. Kita justru merasa sedih. Karena ketika Quixote mati, dunia kehilangan sedikit keajaiban, warna, dan harapan.

Loading

Penulis: Heri Maja Kelana