Oleh. Muhamad Akbar
Diawal tahun 2000an Komunitas 1001buku diinisiasi beberapa orang yang resah akan masa depan anak Indonesia yang saat itu sedang gandrung dengan konsol game dan meninggalkan kebiasaan membaca buku. Kegiatan utamanya adalah MBG (Mengirimkan Buku Gratis) kepada TBA (Taman Baca Anak) istilah untuk komunitas dan atau pribadi yang membuat Gerakan “perpustakaan” untuk umum bebas biaya.
Komunitas 1001buku menjaring TBA, mulai dari 3 TBA dan terakhir tercatat hingga angka 1000 TBA di hampir seluruh Indonesia, dari tahun ke tahun Komunitas 1001buku memperbaiki pendataan dari awal hanya mendata pengelola dan lokasi TBA hingga membuat “formula”berupa ketentuan, syarat dan kebutuhan buku TBA.
Perkenalan singkat Komunitas 1001buku penulis rasa cukup, mari kita bongkar dapur MBG 1001buku selama ini. Darimana sumber buku yang disaebarkan oleh 1001buku, yang pertama tentu dari masyarakat dengan dua metode , bisa berupa drop box book di area ramai, di kantor relawan, di mall dan tempat strategis lain, metode kedua, membuat pengumuman bila 1001buku membutuhkan donasi buku secara daring, buku dapat dikirimkan ke sektariat 1001buku atau bisa dijemput ke lokasi donatur. Sumber donasi buku lainnya adalah membuat program dengan CSR perusahaan swasta, dan membeli buku baru untuk mencukupi kebutuhan atau permintaan TBA.
Penulis adalah penanggung jawab divisi SPD (sort pack and distribut) sejak 2013 dan bertanggung jawab juga terhadap pendataan kebutuhan TBA. Proses pendataan dan menilai kebutuhan TBA, 1001buku membuat formulir berupa pertanyaan data TBA, lokasi, narahubung, alamat kirim, data tersebut diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan kebutuhan TBA yang tepat sasaran. Donasi masuk ke 1001buku tidak langsung dikirimkan ke TBA, namun akan disortir terlebih dahulu secara fisik(rusak,koyak, sebagian halaman rusak), secara isi atau konten (mengandung pornografi, perpecahan SARA) termasuk mengklasifikasi misal buku anak fabel, buku anak sains, buku umum, keterampilan dll. Bersumber dari pengelohan data formulir yang masuk, 1001buku memetakan kebutuhan dan ketersedia buku yang 1001buku miliki, contoh pada penilian kami adalah “apakah ada yang mampu mendampingi bila kami kirimkan buku berbahasa inggri?”, “mayoritas penduduk di sekitar TBA beragama apa”(bila mayoritas islam tentu kami akan kirimkan Al-Quran dan bahan bacaan islami) tahap ini yang 1001buku istilahkan packing. Lalu dilanjutkan dengan pengiriman yang mempertimbangkan berat paket buku dan ongkos kirim, biaya pengiriman ke wilayah Indonesia cukup terbilang mahal, maka siasatnya adalah mengurangi beban paket dengan cara memilah buku yang tipis dan tepat sasaran, mencari alternatif perusahaan pengiriman logsitik yang lebih murah, komposisi setiap pengiriman yang tidak banyak tujuan wilayah timur Indonesia, namun kami usahakan setiap pengiriman ada paket yang mampu sampai kesana.
Sumber dana, tentu tidak dari APBN, meski pernah mendapatkan apresiasi dari perpunas dan kemendikbud, mayoritas dana operasional dan ongkos kirim dari masyarakat, donasi relawan dan CSR perusahaan BUMN atau swasta. Ada hal yang biasa kami tawarkan bila ada perusahaan yang ingin membuat program donasi buku internal, kami mengajukan permohonan ongkos kirim. Imbal balik juga kami ajukan berupa pencantuman nama di paket donasi dan ucapan terimakasih terhadap donatur.
Namun dengan berat hati penulis mengucapkan mohon maaf atas vakumnya kegiatan MBG kepada teman-teman TBA/TBM. Setelah 20 tahun lebih mengirimkan puluhan ribu buku yang tersebar ke 1000an TBA/TBM di seluruh Indonesia.
