Nalar  

Kabupaten Serang Ingin Maju? Mulailah dari Menghidupkan TBM

Oleh. Agung Setia Budi*

Kemajuan Kabupaten Serang tidak hanya dapat diukur dari panjang jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, pusat ekonomi yang berkembang, atau semakin banyaknya investasi yang masuk.

Semua itu memang penting. Namun, ada satu fondasi yang tidak boleh dilupakan dalam membangun sebuah daerah yaitu manusia.

Sebab, pembangunan pada akhirnya adalah tentang manusia. Infrastruktur dibangun untuk memudahkan kehidupan manusia, ekonomi dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, dan pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas manusia. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan Kabupaten Serang, pembicaraan mengenai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan.

Di sinilah Taman Bacaan Masyarakat atau TBM memiliki posisi yang strategis.

TBM sering kali dipahami secara sederhana sebagai tempat membaca buku. Padahal, jika dikelola dan dikembangkan dengan baik, TBM dapat menjadi ruang pendidikan masyarakat yang jauh lebih luas. TBM dapat menjadi tempat anak-anak belajar, pemuda berdiskusi, masyarakat memperoleh informasi, komunitas berkarya, serta berbagai gagasan tentang kemajuan daerah tumbuh dari lingkungan masyarakat itu sendiri.

Membangun budaya literasi bukan pekerjaan sehari semalam. Ia membutuhkan proses, keteladanan, konsistensi, dan dukungan berbagai pihak. Namun, dari proses yang sederhana seperti membaca buku, seseorang dapat memperoleh pengetahuan baru.

Dari pengetahuan, lahir cara berpikir. Dari cara berpikir, muncul gagasan. Dan dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, lahirlah perubahan.

Karena itu, jika kita ingin Kabupaten Serang maju, TBM harus dihidupkan.

Menghidupkan TBM bukan berarti sekadar menyediakan rak dan buku. Lebih dari itu, TBM harus menjadi ruang yang hidup dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Anak-anak dapat datang untuk membaca dan belajar.

Pelajar dapat mengerjakan tugas. Mahasiswa dapat melakukan kegiatan pengabdian. Pemuda dapat berdiskusi mengenai masa depan desa dan daerahnya. Para orang tua dapat memperoleh pengetahuan tentang pendidikan keluarga. Bahkan masyarakat dapat belajar memanfaatkan teknologi dan memilah informasi di tengah derasnya arus media sosial.

Kondisi ini menjadi peluang besar bagi TBM untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Literasi tidak seharusnya hanya berkembang di sekolah, kampus, perpustakaan besar, atau pusat kota. Literasi harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, termasuk di desa-desa.

TBM dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan sehari-hari.

Seorang anak yang membaca buku tentang pertanian, misalnya, mungkin menemukan pengetahuan baru yang dapat dibagikan kepada keluarganya. Seorang pemuda yang membaca tentang kewirausahaan dapat memperoleh inspirasi untuk mengembangkan usaha.

Seorang pelajar yang terbiasa membaca dapat memiliki wawasan lebih luas ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekitarnya.

Sementara masyarakat yang memiliki kemampuan literasi digital dapat lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Inilah makna literasi yang sesungguhnya. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara bijak.

Di era digital, tantangan literasi bahkan semakin besar. Masyarakat tidak lagi kekurangan informasi. Justru sebaliknya, informasi datang begitu cepat dan dalam jumlah yang sangat banyak. Persoalannya adalah apakah masyarakat mampu membedakan informasi yang benar dan keliru, memahami konteks, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya.

TBM dapat mengambil peran dalam menjawab tantangan tersebut.

Kegiatan TBM tidak harus selalu berbentuk membaca buku secara formal. TBM dapat mengembangkan diskusi warga, kelas menulis, pelatihan keterampilan, membaca bersama, mendongeng untuk anak, literasi digital, kegiatan seni dan budaya, hingga forum anak muda. TBM juga dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan lingkungan, pendidikan, ekonomi masyarakat, kebudayaan, dan masa depan Kabupaten Serang.

Dengan demikian, TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi tempat masyarakat belajar menjadi bagian dari perubahan.

Pemuda juga harus mendapatkan perhatian khusus. Kabupaten Serang membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi mampu menjadi pelaku pembangunan. Mereka membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan, berdiskusi, belajar berorganisasi, mengembangkan kreativitas, dan menghasilkan karya.

TBM dapat menjadi salah satu ruang tersebut.

Bayangkan jika setiap TBM di Kabupaten Serang memiliki program sederhana namun konsisten: satu minggu satu diskusi, satu bulan satu karya, satu anak satu buku yang dibaca, atau satu kegiatan yang melibatkan masyarakat. Jika gerakan kecil tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh banyak TBM, dampaknya dapat menjadi besar.

Kita tidak boleh meremehkan gerakan kecil.
Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Membaca satu buku mungkin terlihat kecil. Mengajak lima anak membaca mungkin terlihat sederhana. Membuat satu diskusi pemuda mungkin tidak langsung mengubah keadaan. Namun ketika dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak orang, kebiasaan tersebut dapat membentuk budaya.

Budaya membaca dapat membentuk masyarakat pembelajar. Masyarakat pembelajar akan lebih terbuka terhadap pengetahuan dan perubahan.

Karena itu, TBM membutuhkan perhatian dan kolaborasi. Pemerintah daerah, pemerintah desa, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas, dan masyarakat luas dapat mengambil peran masing-masing. TBM juga perlu diberikan ruang untuk berkembang, bukan hanya ketika ada kegiatan seremonial, tetapi melalui program yang berkelanjutan.

Perguruan tinggi dapat membantu melalui pengabdian masyarakat dan pendampingan. Sekolah dapat membangun kerja sama dengan TBM di sekitar lingkungan mereka. Dunia usaha dapat berkontribusi melalui program sosial dan dukungan fasilitas. Pemerintah desa dapat memberikan ruang dan dukungan bagi kegiatan literasi. Sementara masyarakat dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut sebagai pembaca, relawan, pengelola, maupun penyumbang gagasan.

Yang paling penting adalah membangun kesadaran bahwa literasi merupakan investasi jangka panjang.

Hasil dari literasi mungkin tidak selalu dapat terlihat dalam hitungan bulan. Tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam perubahan cara berpikir generasi. Anak yang hari ini dibiasakan membaca mungkin beberapa tahun kemudian menjadi pemuda yang mampu menghasilkan karya. Pemuda yang hari ini belajar berdiskusi mungkin suatu saat menjadi pemimpin masyarakat. Masyarakat yang hari ini belajar memilah informasi mungkin menjadi warga yang lebih kritis dan bertanggung jawab.

Karena itu, jangan melihat TBM hanya dari jumlah buku atau bentuk bangunannya. Lihatlah dari aktivitasnya, manfaatnya, dan perubahan yang terjadi pada masyarakat setelah TBM hadir.

TBM yang hidup adalah TBM yang mampu menghadirkan manfaat.

Kabupaten Serang membutuhkan pembangunan yang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang terlihat secara fisik, tetapi juga pembangunan yang membentuk manusia berpengetahuan, berkarakter, kreatif, kritis, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungannya.

Literasi dapat menjadi salah satu jalannya.

Maka, momentum pembangunan Kabupaten Serang harus menjadi kesempatan untuk memperkuat gerakan literasi. TBM perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia. Jangan biarkan TBM berjalan sendiri dengan keterbatasan yang dimilikinya. Dukung, dampingi, dan beri ruang agar TBM dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun hari ini, tetapi juga oleh manusia seperti apa yang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.

Hidupkan ruang bacanya. Hidupkan diskusinya. Hidupkan kreativitasnya. Hidupkan anak mudanya. Hidupkan gagasan masyarakatnya.

Sebab dari buku dapat lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir gagasan. Dari gagasan lahir tindakan. Dan dari tindakan masyarakat yang terus belajar, Kabupaten Serang dapat bergerak menuju masa depan yang lebih baik.

Kabupaten Serang yang maju bukan hanya Kabupaten Serang yang memiliki pembangunan fisik yang kuat, tetapi juga Kabupaten Serang yang masyarakatnya terus membaca, belajar, berpikir, berkarya, dan bergerak bersama.

*Ketua PD ForumTBM Kabupaten Serang

Loading

Penulis: Agung Setia BudiEditor: Heri