Oleh. Darmawati Majid*
“Man has lost the capacity to foresee and to forestall. He will end by destroying the earth.”
Kalimat itu adalah kalimat persembahan yang ditujukan Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring (1962) kepada Dr. Albert Schweitzer, seorang teolog, musikus, DAN dokter asal Jerman-Prancis yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1952 sekaligus filsuf yang memperkenalkan “Reverence for Life” (Penghormatan terhadap kehidupan), filosofi etika Schweitzer. Filosofi itu yang menginspirasi Carson untuk menentang penggunaan pestisida kimia berbahaya seperti DDT (dikloro-difenil-trikloroetana, senyawa insektisida sintetis berbentuk padat yang tidak berwarna dan hampir tidak berbau, yang terkenal sangat beracun, sulit diurai oleh alam (persisten), serta mudah menumpuk di dalam jaringan lemak makhluk hidup) yang merusak ekosistem.

Tampilan Instagram Sho Shibuya pada 16 Oktober 2026. Sho Shibuya adalah seorang seniman kontemporer dan desainer grafis asal Jepang kelahiran tahun 1984 yang saat ini berbasis di Brooklyn, New York. Ia dikenal luas melalui proyek seni harian uniknya yang melukis di atas halaman depan (cover) surat kabar ternama Amerika Serikat, The New York Times.
Manusia telah kehilangan kemampuan untuk meramal dan mencegah. Ia akan berakhir dengan membinasakan bumi. Kalimat dedikasi itu ditulis Carson 64 tahun yang lalu, tapi kita saksikan kebenarannya hari ini. Langit tidak lagi biru tapi berubah oranye, hijau hutan berubah jelaga dan tiba-tiba udara bersih adalah sesuatu yang tidak mudah didapatkan.
Dulu, kabut adalah cara saya mengenal pagi. Hari-hari ketika kami sekeluarga terkantuk-kantuk dalam perjalanan malam hari ke Ujungpandang (nama Makassar hingga tahun 1999) karena menghindari terik matahari dengan mengendarai pick-up Kakek, kabut pagi menjadi pemandangan yang paling saya nantikan. Udara memang dingin, tapi sejuknya menyegarkan. Kabut itu melayang di atas dataran tinggi Maros dan menyambut kami begitu lepas dari Sumpanglabbu. Kakak Ibu saya yang menjadi sopir saat itu harus pelan-pelan karena kalau tidak, pick-up itu akan berakhir di jurang yang mengapit sisi kanan dan kiri jalanan dari Bone ke Ujungpandang.
Hari ini, kabut adalah petaka. Ia bukan lagi uap air yang naik dari embun, tetapi partikel halus dari lahan dan hutan yang dibakar tak terkendali, yang masuk ke paru-paru siapa saja. Kata yang sama, kabut, bila ditambah kata asap, membawa karbon monoksida (CO) dalam jumlah yang masif, yang membuat dada sesak dan melintasi batas wilayah juga kesabaran. Gas berbahaya yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak mengiritasi itu sering disebut sebagai pembunuh diam-diam (silent killer).
Kita diberitahu, per 17 Oktober 2026, jumlah penderita ISPA akibat karhutla telah menembus 283.270 kasus yang tersebar di 63 hingga 65 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak (Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan). Dari tahun ke tahun, kebakaran hutan dan lahan semakin parah, tapi, sama seperti ketika banjir bandang datang, kita hanya dipaksa bersabar, menerima takdir dan diminta beradaptasi dengan cuaca. Tidak ada kesadaran yang timbul sama sekali untuk tidak lagi bersifat tamak. Nyawa manusia tak lebih sebatas angka dan perhitungan untung rugi.
Orwell dalam esainya“Politics and the English Language” (1946) telah terang-terangan menyiratkan bahwa bahasa politik memang dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan terlihat terhormat. Tragedi yang timbul hari ini hanyalah kerusakan tambahan yang tidak disengaja, collateral damage, atas nama pembangunan dan kesejahteraan rakyat, sebagaimana amanat UUD 1945, pasal 33 ayat (3), “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Kata-kata mengenai bahasa politik yang ditulis Orwell hampir delapan puluh tahun lalu itu, entah kenapa rasanya masih relevan ketika membaca laporan-laporan mengenai kerusakan lingkungan di sekeliling kita.
Cara kita memahami sesuatu dari kata-kata dan istilah yang dijejalkan pemerintah dan media mempengaruhi cara kita bertindak. Kata “perubahan iklim” misalnya, terdengar wajar sehingga ketika kita merasakan kegerahan meskipun penyejuk udara dan kipas angin menyala, kita hanya akan berpikir bahwa semua baik-baik saja, iklim hanya sedang berubah. Kita pun melanjutkan semua aktivitas seperti biasa. Namun, jika frasa “perubahan iklim” diganti menjadi darurat iklim, atau krisis iklim, saya yakin, efeknya akan jauh lebih mencemaskan.
Eufemisme, atau penghalusan makna satu kata sangat berbahaya apabila dipakai untuk mengaburkan bahaya kerusakan lingkungan. Penelitian Grolleau dan kawan-kawan pada 2022 membahas hal ini dengan sangat jernih. Dalam artikel yang berjudul “Changing the world with words? Euphemisms in climate change issues“ itu, Grolleau dan kawan-kawan berpendapat bahwa eufemisme dapat melemahkan upaya penyadaran masyarakat tentang perubahan iklim. Mereka mencatat bahwa eufemisme bekerja lewat emphasis effect, yakni upaya memusatkan perhatian pada satu sisi dan menyingkirkan sisi lain ke latar belakang (Grolleau dkk., 2022). Di bagian lain, mereka menulis bahwa istilah yang “lembut” dapat “menjauhkan” audiens dari rasa bahaya, dan membuat orang tidak perlu memakai kerangka moral untuk merespons satu persoalan lingkungan (Grolleau et al., 2022).
Saya membayangkan para pembaca makalah Grolleau dkk. itu di Eropa dan Australia. Mereka membicarakan batu bara yang disebut clean coal, atau pabrik yang melanggar batas polusi tetapi disebut routine exceedances. Di Indonesia, kita tidak kekurangan contoh serupa. Pembakaran lahan untuk membuka kebun sering disebut “pembakaran terkendali” di dokumen tertentu. Titik api yang mengepulkan asap disebut “titik panas”, kata-kata yang terdengar seperti informasi cuaca.
Artikel Grolleau dan kawan-kawan juga mengakui bahwa niat di balik sebuah eufemisme sulit dipastikan. Bisa jadi seseorang hanya punya pandangan berbeda tentang satu kebijakan. Namun, yang ingin saya soroti adalah efek dari satu kata yang “halus” dan “lembut” sungguh bisa membuat kita lambat merasa cemas.
Di sinilah tanggung jawab kita, para pegiat literasi, menjadi berat. Barangkali, kita berpikir bahwa tugas kita hanyalah mendorong orang bisa dan terbiasa membaca. Namun, bagi saya, tugas kita lebih dari itu. Membaca juga berarti belajar mencerna peristiwa. Ketika kita menulis “kabut asap” di kain rentang (spanduk) kegiatan, atau takarir (caption) di konten kita untuk memanggil kepedulian dan memperingatkan bahaya asap pekat dari hutan dan lahan yang terbakar, kita perlu berpikir kritis dan bertanya apakah kata yang kta pilih akan membantu masyarakat mengerti bahaya, atau justru membuat bahaya itu terasa seperti informasi yang sekadar lewat di beranda. Kita juga perlu mengajarkan anak-anak pengunjung taman baca mengenali pilihan-pilihan kata mana saja yang membuat lengah akan bahaya lingkungan yang rusak.
Saya teringat pada cerita teman yang menggelar lapak baca dan dongeng keliling di lorong-lorong kota Makassar. Ia berkisah, anak-anak yang mereka jumpai justru takut menyentuh buku karena mengira buku yang mereka bawa dijual. Barulah ketika tahu mereka boleh membaca gratis, wajah anak-anak itu berubah. Satu kata “gratis” bekerja lebih efektif untuk menggerakkan anak-anak itu untuk membaca, memenuhi rasa ingin tahu mereka yang sempat mereka tahan-tahan.
Kasus yang sama terjadi ketika kita lebih sering menggunakan singkatan “karhutla” alih-alih kebakaran hutan dan lahan. “Karhutla” pelan-pelan menyingkirkan rasa cemas dan menyetel otak kita untuk menerimanya sebagai peristiwa cuaca, sehingga pelan-pelan kita lupa untuk mencari siapa pihak yang bertanggung jawab meracuni penduduk dengan hutan dan lahan yang mereka bakar dengan sengaja.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan?
Kita bisa memulai dengan menghindari penggunaan eufemisme, termasuk menghindari penyingkatan “kebakaran hutan dan lahan” menjadi “karhutla”, dan cermatlah memilih kata. Selama ini, kegagalan dalam kampanye untuk mengatasi kerusakan lingkungan terletak pada diksi-diksi yang keliru. Kita tidak boleh lupa bahwa kata-kata mampu menggerakkan dan membawa perubahan besar.
Kita tahu pembangunan adalah perkara pilihan yang sulit. Namun, persoalan terletak pada bagaimana para pengambil kebijakan dapat lebih bijak berbahasa dengan tidak melupakan empati ketika dimintai pertanggunghjawaban atas dampak sampingan dari pembangunan itu. Alih-alih asal bunyi dan menyakiti hati, lebih baik diam saja. Satu isu kerusakan lingkungan seharusnya dikemas dengan cara yang lebih bertanggung jawab, karena asap dari hutan dan lahan yang terbakar dan dibakar hari ini sesungguhnya menyentuh banyak agenda sekaligus: anggaran kesehatan, ketahanan pangan, pengawasan perizinan lahan, transisi energi, cara daerah diberi tanggung jawab juga menentukan pilihan rakyat tiga tahun ke depan.
*Ketua Divisi Litbang Forum TBM
![]()












