Oleh. Muhamad Akbar*
Pandangan bahwa agama cukup menjadi pedoman pribadi, selama seseorang tidak merugikan orang lain secara langsung, tampak sederhana. Namun, cara pandang itu menyisakan pertanyaan penting: apakah ukuran baik dan buruk hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya kerugian yang terlihat? Dalam perspektif Islam, kehidupan beragama tidak berhenti pada ibadah personal. Agama juga membentuk cara seseorang memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan bersama.
Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW memberikan dasar bagi umat Islam untuk memahami hubungan antara ketaatan kepada Allah dan tanggung jawab sosial. Karena itu, gagasan bahwa agama hanya urusan pribadi perlu ditinjau kembali. Ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang kepedulian, keadilan, dan upaya menjaga kehidupan bersama.
Ukuran moral tidak cukup berhenti pada kalimat “asal tidak merugikan orang lain secara langsung”. Sikap tersebut berisiko mengabaikan dampak yang tidak selalu terlihat seketika, termasuk hilangnya kepedulian terhadap keadaan orang lain. Dalam QS. At-Taubah ayat 128, Nabi Muhammad SAW digambarkan memiliki kepedulian mendalam terhadap kesulitan yang dialami umatnya. Sementara itu, QS. Al-Ma’idah ayat 2 memerintahkan manusia untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan serta melarang kerja sama dalam dosa dan permusuhan. Kedua ayat ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim.
Di sisi lain, kehidupan beragama juga berlangsung dalam masyarakat yang beragam. Indonesia memiliki penduduk dengan latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda, sehingga aturan negara perlu mengatur kehidupan bersama sekaligus melindungi warga secara adil. Dalam konteks ini, kepatuhan terhadap hukum negara dan ketaatan beragama perlu dipahami secara cermat. Tidak semua hal yang tidak dilarang secara hukum otomatis sejalan dengan nilai moral atau ajaran agama. Sebaliknya, menjalankan keyakinan juga perlu disertai tanggung jawab untuk menghormati hak orang lain dan menjaga ketertiban bersama.
Bagi umat Islam, Allah merupakan otoritas tertinggi. Ketaatan kepada-Nya tidak semestinya dipahami hanya sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai kesadaran yang tercermin dalam sikap dan pilihan sehari-hari. Ketaatan tersebut juga berkaitan erat dengan mengikuti teladan Rasulullah SAW. Nabi tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan. Dalam pengertian ini, beliau menjadi penjelas dan teladan bagi umat dalam menjalani urusan keluarga, sosial, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Al-Qur’an menegaskan hubungan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. QS. An-Nisa ayat 80 menyatakan bahwa menaati Rasul berarti menaati Allah. Adapun QS. Al-Ahzab ayat 36 mengingatkan bahwa orang beriman tidak sepatutnya mengambil pilihan lain ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa keteladanan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan pedoman yang memiliki makna dalam kehidupan umat Islam saat ini.
Nilai ketaatan itu dapat dimulai dari tindakan sederhana. Dalam kehidupan akademik, misalnya, kejujuran diwujudkan dengan mengerjakan tugas secara mandiri dan menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, bukan untuk menggantikan seluruh proses berpikir. Dalam kehidupan sosial, kepedulian dapat hadir melalui keterlibatan sebagai relawan literasi dan kemanusiaan, menjaga sopan santun kepada keluarga, teman, serta lingkungan, dan bersedia membantu orang lain. Di media sosial, ketaatan pada nilai agama juga dapat tercermin melalui sikap kritis terhadap informasi yang berpotensi berupa hoaks atau fitnah. Sementara di dunia kerja, nilai tersebut dapat diterapkan dengan memberikan pelayanan yang baik dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain.
Pada akhirnya, agama tidak semestinya dipersempit menjadi urusan yang hanya berlangsung di ruang pribadi. Keyakinan yang kuat seharusnya mendorong seseorang untuk semakin jujur, peduli, adil, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama. Ketaatan kepada Allah bukan hanya terlihat dari ibadah yang dijalankan, tetapi juga dari dampak baik yang dihadirkan bagi sesama. Dengan demikian, menjadikan agama sebagai pedoman hidup bukan berarti mengabaikan keberagaman, melainkan berusaha membawa nilai-nilai kebaikan ke dalam tindakan nyata.
Referensi
- Bahan Materi Pokok (BMP) MKWN4101, Modul 4, hlm. 4.5–4.31.
- https://gentaqurani.id/seputar-islam/arti-taat-kepada-allah
- https://muisulsel.or.id/hikmah-halaqah-esensi-ketaatan-kepada-allah-dan-rasul/
*Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, UBJJ
![]()












