Nalar  

Soekaboemische Snelpersdrukkerij

Oleh. Atep Kurnia

Soekaboemische Snelpersdrukkerij merupakan percetakan dan penerbit di Soekaboemi sejak akhir abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20. Perusahaan tersebut melayani kebutuhan cetak pemerintah, perusahaan swasta, organisasi, dan masyarakat.

Keberadaannya diketahui setidaknya sejak 1899. Di dalam De Preanger-bode (25-11-1899), dimuat laporan kegiatan sosial di Societeit Soekamanah, yaitu penyelenggaraan Soirée Variée untuk menggalang dana bagi Ceram dan Transvaal pada 24 November 1899. Soekaboemische Snelpersdrukkerij disebut telah menyumbangkan seluruh kebutuhan percetakan untuk acara tersebut, berupa program acara dan buku/lembaran lagu. Namun, di situ identitas pemiliknya belum disebutkan.

Identitas pemiliknya mulai diketahui pada 1901. De locomotief (24-01-1901) menyebut Lauw Tjing Bie sebagai pemilik Soekaboemische Snelpersdrukkerij. Lauw yang kemudian dikenal sebagai Louis Zecha diperkirakan lahir pada 1878. Ia merupakan anak ketiga Lauw Tek Lok dan Francisca Louisa Zecha. Lauw Tek Lok lahir di Batavia, putra Lauw Ho, pachter dan Wijkmeester Meester Cornelis. Ia menjadi Letnan Cina Bekasi antara 1854-1882. Pada 1872 ia menikah dengan Francisca, yang lahir di Batavia pada 1848 atau 1849 dan merupakan anak kedelapan Joseph Zecha, pemahat asal Bohemia, dengan perempuan bumiputra. Dari perkawinan tersebut lahir Lauw Tjeng Soey (Christian Zecha), Lauw Tjeng Kiet (Maximiliaan Theodoor Zecha), Lauw Tjeng Bie (Louis Zecha), Lauw Joe Nio (Emilia Zecha), dan Lauw Gobang Nio (Cornelia Sebastiana Zecha).

Setelah Lauw meninggal pada 1882, Francisca menikah dengan Sim Keng Koen, yang sebelumnya menjadi sekretaris pribadi Lauw. Sim kemudian diangkat sebagai Letnan Cina di Kong Koan Batavia (1880) dan Kapitan Cina Batavia (1887). Setelah menetap di Sukabumi bersama Francisca, pada 1892 ia diangkat sebagai Hoofd der Chinezen pertama Sukabumi dengan pangkat Kapitan-tituler Cina. Dari perkawinannya dengan Francisca lahir Sim Tjeng Bouw, Lembor Nio Sim (Betsy Zecha), Tjeng Ho Sim (Piet Zecha), dan Lauw-Sim Tjeng Soan (Chester Zecha). Sementara itu, berita dalam Bataviaasch nieuwsblad (16-03-1888) menunjukkan keterlibatan Francisca dalam perubahan nama Eropa bagi anaknya.

Dalam lampiran Koloniaal Verslag van 1902, Soekaboemische Snelpersdrukkerij memiliki dua mesin cetak cepat dan dua mesin cetak tangan (“2 snelpersen en 2 handpersen”), serta mempekerjakan 11 orang pekerja bumiputra dan 8 orang Tionghoa. Sementara, dalam lampiran Koloniaal Verslag van 1924, percetakan L. Zecha tercatat memiliki 12 mesin cetak (“12 persen”), dengan empat orang pegawai Eropa, 63 pegawai bumiputra, dan 15 pegawai Tionghoa.

Dari sisi jenis publikasinya, antara 1900-1904, Soekaboemische Snelpersdrukkerij mencetak bacaan sastra dan umum, Melayu-Tionghoa, teknis, penelitian pegadaian, pengolahan serat lidah buaya, rancangan akta notaris, administrasi dan pertanian. Pada 1906-1907, penerbitannya banyak berkaitan dengan administrasi pemerintahan, irigasi, kesejahteraan penduduk pribumi, serta organisasi dan peraturan perkumpulan. Pada 1911-1914, perhatiannya kian tercurah kepada pertanian dan perkebunan, termasuk notulen organisasi pertanian, notulen administratur perusahaan perkebunan, dan laporan propaganda teh Jawa. Pada 1919-1921, terbitannya mencakup perdagangan dan statistik pertanian, seperti Exporter’s Directory of the Netherlands East Indies, daftar organisasi pertanian, data luas lahan perusahaan pertanian besar, dan keterangan produk ekspor Hindia.

Demikian pula penerbitan berkala. Pada Januari 1901, Lauw Tjing Bie diketahui berencana menerbitkan majalah Melayu Tiong Hoa Hwe Po di bawah Tiong Hoa Hwe Koan di Batavia. Soerabaijasch handelsblad (16-09-1901) memberitakan majalah berbahasa Cina Li Po, yang diduga dicetak Soekaboemische Snelpersdrukkerij. Di dalam De Preanger-bode (19-01-1905) disebut Soekaboemische Snelpersdrukkerij sebagai penerbit dan pencetak majalah mingguan Siesta yang dieditori Ernst Herf. Majalah itu memuat esai, cerita pendek, dan puisi serta beredar di Soekaboemi, Sumatra, Bandung, dan Yogyakarta. Akhir 1905 direncanakan penerbitan De Waarheid (Siesta) di Yogyakarta, dan pada 1906 kegiatan penerbitan Siesta tampaknya telah berpindah ke kota tersebut.

Antara 1924-1925, publikasi cetak Soekaboemische Snelpersdrukkerij mencakup perkebunan, penelitian ilmiah, organisasi, pendidikan, dan sejarah lembaga, termasuk penelitian perkebunan teh di India Britania, penelitian biokimia tanah, peraturan Rubberplanters Vereeniging, serta History 1915-1925, Methodist Girls’ School. Memasuki 1937-1940, perusahaan masih menerbitkan karya seperti Indonesia in den Pacific karya G.S.S.J. Ratulangi dan Geestelijke Waarden der Vrijmetselarij karya J. E. Jasper.

Selain percetakan dan penerbitan, perusahaan menjalankan toko buku yang menjual buku, majalah, surat kabar, dan brosur serta menjadi agen berbagai barang, termasuk mesin tik. Sejak 1916, nama Soekaboemische Snelpersdrukkerij muncul sebagai sponsor atau nama piala dalam sejumlah perlombaan, terutama pacuan kuda. Pada 1931, perusahaan masih beroperasi dan tercatat antara lain sebagai importir pulpen dan tinta Parker, dengan Chester Sim Zecha sebagai direktur.

Pada Januari 1936, perusahaan mengalami penyitaan dan untuk sementara berhenti beroperasi. Keadaan tersebut turut memengaruhi Soekaboemi Post, yang dicetak oleh percetakan itu dan ikut berhenti terbit; surat kabar tersebut setidaknya telah terbit sejak 1923.

Louis Zecha meninggal pada 1 April 1939. Berita kematiannya dimuat dalam Bataviaasch nieuwsblad (01-04-1939). Dalam pengumuman keluarga disebutkan bahwa Louis Zecha meninggal dunia dengan tenang di Sukabumi pada usia 60 tahun. Ia dikenang sebagai saudara, saudara ipar, ayah, dan kakek. Pemakaman dijadwalkan berlangsung pada 2 April 1939 pukul 17.00. Pengumuman tersebut ditandatangani oleh Max Zecha, Chester Sim Zecha, Piet Sim Zecha, mevrouw Emilie Zecha, mevrouw L. Zecha, William Lauw Zecha, dan keluarga. Demikian pula yang dipasang oleh “het Personnel der Soekaboemische Snelpersdrukkerij” pada edisi yang sama. Dua hari kemudian, Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië (04-04-1939) memberitakan bahwa Louis Zecha telah meninggal di Soekaboemi dalam usia 60 tahun dan menyebutnya sebagai firmant Soekaboemische Snelpersdrukkerij.

Di dalam Algemeen Indisch dagblad (28-07-1947) terdapat laporan kondisi Sukabumi setelah masuknya pasukan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I. Di antara bangunan yang rusak, wartawan mencatat mesin percetakan dan mesin penyusunan huruf milik “de eens nijvere ‘Soekaboemische snelpersdrukkerij’” (Soekaboemische Snelpersdrukkerij yang dulu begitu giat beroperasi) dalam keadaan rusak dan tertimbun reruntuhan.

Sumber pustaka:

Bataviaasch nieuwsblad, 16-10-1889; 17-11-1923; 02-12-1932; 15-11-1934; 15-01-1936; 01-04-1939; De Indische courant, 03-02-1939; De locomotief, 19-03-1888; 25-01-1887; 24-01-1901; 13-02-1892; 03-04-1939; De Preanger-bode, 25-11-1899; 19-01-1905; De Sumatra post, 02-03-1905; 14-10-1905; 09-12-1905; Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 29-05-1906; 15-04-1931; 13-02-1932; 04-04-1935; 19-08-1935; 30-09-1936; 25-06-1938; Java-bode, 05-03-1880; 25-01-1887; Soerabaijasch handelsblad, 16-09-1901; Algemeen Indisch dagblad, 28-07-1947; Mely G. Tan, The Chinese of Sukabumi: A Study in Social and Cultural Accommodation, 1963; Koloniaal Verslag van 1902; Koloniaal Verslag van 1924; myheritage.com; genealogieonline.nl; Google Books; digitalcollections.universiteitleiden.nl; worldcat.org; poestahadepok.blogspot.com.

Loading

Penulis: Atep KurniaEditor: Heri