Kabar  

Hari Ibu di Kampoeng Batja: Mendongeng, Berbagi Buku, dan Menanam Cinta Baca Sejak Dini

Di Kampoeng Batja, Jalan Nusa Indah 6, Jember, peringatan Hari Ibu dirayakan dengan cara yang sederhana namun sarat makna: mendongeng, membaca, dan berbagi buku. Melalui kegiatan lomba storytelling dan distribusi buku bersama guru serta peserta didik TK Nur Alawy, Rabu (25/12/2025), Kampoeng Batja menghadirkan pesan kuat bahwa ibu adalah buku pertama dalam sebuah keluarga tempat anak-anak pertama kali belajar mengenal kata, makna, dan kasih sayang.

Kegiatan ini melibatkan guru, kepala sekolah, serta pegiat literasi dengan tujuan menumbuhkan budaya baca sejak usia dini melalui aktivitas membaca nyaring, bercerita, dan kepemilikan buku bacaan yang dapat dibawa pulang ke rumah.

Penggagas kegiatan sekaligus pegiat literasi, Iman Suligi atau akrab disapa Koeng, menyampaikan bahwa pesan “jangan datang tanpa membaca buku, dan jangan pulang tanpa mendapat buku” bukan sekadar slogan, melainkan upaya membangun kebiasaan literasi yang berkelanjutan di keluarga.

“Saya berharap siapa pun yang datang ke sini mendapat manfaat dan wawasan baru dari buku. Buku yang dibawa pulang bukan hanya dibaca, tapi menjadi bagian dari budaya literasi di rumah masing-masing,” ujar Koeng.

Ia juga menegaskan alasan memilih momentum Hari Ibu sebagai bagian dari kegiatan literasi tersebut. Menurutnya, ibu memiliki peran sentral dalam membentuk ekosistem baca di keluarga.

“Bukankah ibu adalah buku dari sebuah keluarga? Ibu yang memperoleh buku itu akan ketularan virus membaca dan menyebarkannya di rumah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala TK Nur Alawy, Krisnawati, menilai kegiatan storytelling dan berbagi buku ini memberi dampak positif bagi guru dan lembaga pendidikan anak usia dini.

Ia menyebut bahwa membaca dan kepemilikan buku sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, sekaligus memperkaya metode pengajaran guru di kelas. Pesan “datang dengan membaca, pulang membawa buku” dinilainya sebagai simbol pembelajaran yang hidup dan bermakna.

Antusiasme juga dirasakan para guru yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Salah satu guru TK Nur Alawy menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengadakan lomba storytelling, sekaligus memberikan semangat baru dalam mengembangkan literasi anak.

“Anak-anak menjadi lebih tenang, tertib, dan imajinasinya berkembang. Mendongeng menambah kosa kata, wawasan, serta membuat anak lebih antusias belajar,” ungkapnya.

Para guru menilai buku cerita anak, fabel, dan legenda dengan ilustrasi menarik dan berwarna menjadi media paling efektif untuk menumbuhkan minat baca. Namun, mereka juga mengakui tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan koleksi buku di rumah dan sekolah, pengaruh gawai, serta minimnya kebiasaan membacakan cerita oleh orang dewasa.

Koeng menambahkan bahwa budaya baca tidak bisa tumbuh tanpa atmosfer yang mendukung, baik di sekolah maupun di keluarga.

“Bagaimana bisa berharap literasi tumbuh tanpa ketersediaan bahan bacaan, majalah dinding, permainan edukatif, mendongeng, atau wisata literasi? Semua itu harus dihadirkan sebagai ekosistem,” jelasnya.

Melalui kegiatan sederhana ini,
Kampoeng Batja kembali menegaskan perannya sebagai ruang literasi berbasis komunitas yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menumbuhkan relasi, keteladanan, dan cinta belajar lintas generasi.

Harapannya, gerakan kecil seperti mendongeng, membaca, dan berbagi buku ini mampu melahirkan generasi yang peka, kritis, kreatif, kaya empati, dan siap menyongsong tantangan masa depan dimulai dari pangkuan ibu dan halaman pertama sebuah buku.

Penulis: Moh. Makrus SahlanEditor: Heri
Exit mobile version