Kabar  

Halalbihalal dan World Book Day Forum TBM Perkuat Sinergi Literasi Nasional

Divisi Program dan Kemitraan Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) menggelar kegiatan Halalbihalal dan perayaan World Book Day pada Sabtu, 25 April 2026. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, serta Pengurus Daerah Forum TBM dari seluruh Indonesia.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Ramadhan. Lebih dari itu, forum ini dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi organisasi. Seluruh pengurus diajak untuk menyamakan langkah dalam mengembangkan gerakan literasi. Selain itu, peserta juga mendapatkan wawasan tentang distribusi buku nasional dan kebijakan perbukuan.

Acara dipandu oleh Mawardah sebagai pewara. Suasana hangat terasa sejak awal kegiatan. Sesi pertama diisi dengan ramah tamah Halalbihalal yang dimoderatori oleh Haniawati dari Kalimantan Utara. Dalam pengantarnya, Aris Munandar selaku Kepala Bidang Program dan Kemitraan Forum TBM menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan kekompakan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan organisasi terletak pada sinergi antar pengurus.

Sesi kemudian berlanjut pada Dialog Silaturahmi Nasional dalam program Cerita Literasi Kita. Tema yang diangkat adalah “Pesan Pasca Ramadhan”. Harken, Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kepulauan Riau, menjadi narasumber pertama. Ia menyoroti pentingnya komunikasi sebagai penguat organisasi.

Harken berbagi pengalaman saat mulai menjabat pada tahun 2023. Saat itu, ia berada di Natuna dengan keterbatasan akses. Dari sekitar 20 pengurus, hanya dua orang yang ia kenal dan bisa bertemu langsung. Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Justru dari situ ia mulai menyusun langkah-langkah strategis.

Ia memulai dari nol hingga akhirnya Forum TBM Kepulauan Riau tercatat secara administratif sebagai organisasi literasi. Bahkan, organisasi ini sudah terdaftar di KesbangLinmas Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai wilayah perbatasan, ia menyadari bahwa pendekatan yang dilakukan harus berbeda dan lebih strategis.

Beberapa langkah yang ditempuh antara lain memperkuat pengurus daerah dan menghidupkan TBM-TBM di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Salah satunya terlihat dari PD Forum TBM Kota Batam yang mulai menunjukkan perkembangan. Di sisi lain, ia juga berupaya menjaga budaya lokal sebagai bagian dari literasi. Pantun menjadi bagian dari setiap kegiatan yang dilakukan dan menjaga budaya tetap terjaga

Tidak hanya itu, Harken juga mulai menyiapkan kerja sama dengan salah satu kampus negeri di Kepulauan Riau. Kerja sama ini tidak berhenti pada konsep di atas kertas saja, tetapi sudah mulai diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata yang kemanfaatannya dinikmati banyak orang. Ia menegaskan bahwa identitas sebagai Forum TBM harus dijaga. Nama besar ini perlu dibanggakan bersama.

Ia juga mengingatkan bahwa organisasi pasti mengalami pasang surut. Kendala adalah hal yang wajar. Namun, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Justru dari kendala, organisasi bisa belajar dan berkembang. Ia mencontohkan kedisiplinan melalui rapat rutin setiap tanggal 10. Dari situ, komunikasi tetap terjaga dan arah organisasi tetap jelas.

Narasumber berikutnya adalah Yudith Mervun Yewun, Ketua Pengurus Daerah Forum TBM Kabupaten Manokwari. Ia menyampaikan bahwa organisasinya baru terbentuk pada Agustus 2025. Meski masih tergolong baru dan seumur jagung, semangat yang dibangun cukup kuat.

Yudith menceritakan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Mereka mulai menjalin kerja sama dengan dinas perpustakaan. Selain itu, mereka juga mengadakan sosialisasi literasi di wilayah pegunungan. Kegiatan ini menyasar petani lokal dengan materi yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti budidaya stroberi dan wortel.

Tidak berhenti di situ, mereka juga melakukan kunjungan literasi ke sekolah-sekolah. Bahkan, saat ini mereka sedang menyiapkan taman baca di salah satu lokasi wisata. Semua langkah ini dilakukan untuk mendekatkan literasi dengan masyarakat.

Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Yudith mengungkapkan bahwa keterbatasan buku masih menjadi kendala utama. Banyak perpustakaan masih didominasi koleksi lama. Bantuan 1000 buku dari Perpustakaan Nasional memang sangat membantu, namun kebutuhan buku umum masih cukup besar dan itu belum ada. Selain itu, penggunaan gadget juga menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan minat baca.

Meski demikian, ia tetap optimis. Baginya, gerakan literasi adalah panggilan hati. Ia percaya bahwa perubahan harus dimulai dari sekarang, meski dengan langkah kecil. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Memasuki sesi kedua, kegiatan berlanjut dengan perayaan World Book Day. Sesi ini dimoderatori oleh Heni Wardatur Rohmah selaku Sekretaris Jenderal Forum TBM. Dalam pengantarnya, Faisal Hasibuan selaku Perwakilan dari Divisi Program dan Kemitraan Forum TBM menyampaikan bahwa kerja sama antara Forum TBM dan Pusat Perbukuan telah terjalin cukup lama. Sejak di kepengurusan sebelumnya hingga kepengurusan saat ini.

Ia menilai Pusat Perbukuan menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap gerakan literasi. Hal ini terlihat dari keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan Forum TBM. Bahkan, pada akhir tahun 2025, Pusat Perbukuan mengirimkan bantuan buku dalam jumlah besar ke sekretariat Forum TBM di Yogyakarta.

Bantuan tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai daerah. Banyak TBM yang telah merasakan manfaatnya. Faisal pun menyampaikan apresiasi dan harapan agar kerja sama ini terus berlanjut.

Dalam sesi talkshow, Ketua Umum Forum TBM, Opik, menegaskan bahwa buku tidak akan berdampak tanpa peran pegiat literasi. Ia menjelaskan bahwa distribusi buku telah dilakukan secara bertahap. Pengurus wilayah di Jawa sudah mengambil secara langsung, sementara wilayah luar Jawa masih dalam proses pengiriman.

Ia juga mendorong para pegiat TBM untuk memanfaatkan peluang menulis. Menurutnya, tema-tema buku harus hidup di TBM dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Buku tidak hanya dibaca, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya.

Sementara itu, Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus Forum TBM di Indonesia. Ia melihat bahwa semangat literasi tetap terjaga meski dalam kondisi keterbatasan.

Ia menegaskan bahwa Pusat Perbukuan tidak hanya berfokus pada jumlah buku. Kualitas dan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat menjadi perhatian utama. Karena itu, pihaknya ingin mendengar langsung kebutuhan dari lapangan.

Menurutnya, buku bukan sekadar sumber ilmu. Buku juga menjadi bagian dari budaya literasi. Oleh karena itu, diperlukan umpan balik dari pengelola TBM agar program yang dijalankan semakin tepat sasaran.

Supriyatno juga menjelaskan bahwa peluang menjadi penulis terbuka lebar. Naskah dapat diajukan melalui proses kurasi dengan tema tertentu. Naskah yang lolos bisa diterbitkan oleh Pusat Perbukuan atau bekerja sama dengan penerbit. Ia juga membuka peluang jika Forum TBM memiliki divisi penerbitan sendiri.

Tema yang diangkat tahun ini meliputi tujuh kebiasaan hebat, literasi finansial, literasi lingkungan, dan literasi digital. Ia menambahkan bahwa buku yang diterbitkan berpotensi disalurkan ke sekolah melalui dana BOS, sehingga manfaatnya bisa lebih luas.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Forum TBM untuk saling menguatkan. Halalbihalal mempererat hubungan antar pengurus. Sementara perayaan World Book Day memperkaya wawasan dan membuka peluang baru dalam gerakan literasi.

Rangkaian kegiatan ini masih akan berlanjut. Pada Minggu, 26 April 2026, akan digelar workshop bertajuk “Cerita Literasi Kita On Screen”. Kegiatan ini akan dilaksanakan pukul 19.30 WIB. Workshop tersebut diharapkan mampu mendorong pegiat literasi untuk mengembangkan cerita ke dalam bentuk visual yang lebih luas.

Penulis: MunasyarohEditor: Heri
Exit mobile version