Oleh. Bonni Febrian*
PALANGKA RAYA – Semangat menumbuhkan budaya literasi terus digelorakan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Palangka Raya melalui kegiatan Belajar Menulis Journey yang digelar di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palangka Raya, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum tersebut menghadirkan Siswanto, pegiat literasi sekaligus pendiri TBM Rumah Ilmu Sahabat Ar-Ra’uf Kabupaten Gunung Mas, sebagai narasumber. Dikenal aktif menggerakkan budaya literasi, Siswanto telah menulis dan menerbitkan berbagai buku serta kerap menjadi pemateri pelatihan kepenulisan.
Ketua Forum TBM Kota Palangka Raya, Riethma Yustiningtyas, mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan ruang kreatif bagi generasi muda dan pegiat literasi agar mampu menuangkan ide, pengalaman, maupun perjalanan hidup mereka ke dalam tulisan yang terstruktur, bermakna, dan menarik dibaca.
“Journey berarti perjalanan. Melalui kelas ini kami ingin mengajak peserta berani memulai perjalanan menulis, dimulai dari satu kalimat, satu paragraf, hingga menjadi sebuah cerita yang utuh,” ujarnya.
Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai kalangan, mulai anak usia 10 tahun, remaja, hingga orang dewasa berusia sekitar 50 tahun. Tercatat sekitar 40 peserta hadir, terdiri atas perwakilan TBM, komunitas literasi, sekolah, serta staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palangka Raya.
Antusiasme masyarakat bahkan melebihi kapasitas ruangan. Beberapa calon peserta belum dapat mengikuti kegiatan karena keterbatasan kursi dan meja, sehingga Forum TBM berencana kembali menggelar kelas serupa pada kesempatan mendatang.
Kegiatan ini merupakan inisiasi Forum TBM Kota Palangka Raya bersama anggota Forum TBM Palangka Raya : Huma Sarita Kalteng, Huma Literasi Palangka Raya, Ruang Raya Berpidjar, TBM Prestasi, dan TBM Kencana Nusantara, serta berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palangka Raya.
Suasana pembukaan berlangsung hangat dan inklusif melalui penampilan Paduan Suara Isyarat dari anak-anak binaan Komunitas Huma Sarita Kalteng yang membawakan lagu Indonesia Raya dan mars Perpustakaan 2026. Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa gerakan literasi terbuka bagi semua kalangan.
Dalam sesi materi, Siswanto mengajak peserta memahami teknik dasar menulis journey atau tulisan perjalanan dengan menggunakan bahasa yang ringan agar mudah dipahami pembaca. Menurutnya, dokumentasi berupa foto maupun data pendukung juga menjadi unsur penting untuk memperkuat cerita dan meningkatkan kepercayaan pembaca.
Ia juga memperkenalkan rumus sederhana D-A-T-A-H sebagai panduan menyusun tulisan journey, yaitu Deskripsi, Aktivitas, Temuan, Analogi, dan Harga. Dengan pola tersebut, peserta diharapkan lebih mudah menyusun tulisan yang runtut, informatif, sekaligus menarik.
Siswanto mengaku senang melihat antusiasme peserta, terutama anak-anak dan remaja yang memiliki semangat tinggi untuk belajar menulis.
“Saya senang melihat antusiasme anak-anak yang ingin belajar menulis. Harapannya, dari kegiatan seperti ini akan lahir penulis-penulis muda yang mampu mempromosikan potensi wisata, budaya, dan kuliner Kalimantan Tengah melalui karya-karya mereka,” katanya.
Sementara itu, Riethma berharap Forum TBM Kota Palangka Raya dapat menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin membaca, berdiskusi, dan berkarya melalui tulisan.
Ia mengajak para peserta untuk memiliki tiga keberanian, yakni berani memulai tanpa menunggu tulisan sempurna, berani berbagi karya kepada orang lain, serta berani konsisten menulis sedikit demi sedikit hingga menjadi sebuah buku.
“Semoga dari kegiatan ini lahir penulis-penulis baru kebanggaan Kota Palangka Raya,” harapnya.
Ke depan, Forum TBM Kota Palangka Raya akan terus memperkuat jejaring dengan melakukan silaturahmi, berbagi pengalaman, dan berkolaborasi bersama TBM-TBM yang telah lama berdiri maupun yang baru tumbuh di Kota Palangka Raya. Melalui sinergi tersebut, Forum TBM berkomitmen menghadirkan lebih banyak ruang literasi, mulai dari diskusi, bedah naskah, pelatihan menulis, hingga penerbitan karya bersama.
“Karena bergerak bersama jauh lebih indah dan lebih kuat dibandingkan berjalan sendiri-sendiri. Semangat dan salam literasi,” tutup Riethma yang juga founder dari Komunitas Huma Sarita Kalimantan Tengah.
*Infokom PW Forum TBM Kalimantan Tengah
