Pada minggu terakhir bulan Januari 2026, Forum TBM kembali menyelenggarakan kegiatan SAPA TBM Episode 4 dengan mengusung tema “Di Tengah Air yang Menenggelamkan, Pendidikan Menyelamatkan.” Kegiatan ini menghadirkan Kak M. Ichsan Abda, M.Pd. sebagai narasumber, yang berbagi pengalaman menjadi relawan banjir di Aceh bersama rekan-rekannya beberapa waktu lalu.
Kegiatan berbagi cerita ini dipandu oleh Kak Masyithah dari Forum TBM dan disiarkan secara langsung melalui Instagram. Suasana diskusi berlangsung penuh refleksi dan menghadirkan banyak pelajaran kemanusiaan yang mendalam.
Cerita diawali dengan latar belakang hadirnya TBM Rumah Baca Rangkang Pustaka yang berlokasi di Dusun Mesjid, Desa Meunasah Meucat, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. TBM ini menjadi salah satu titik penting dalam upaya pemulihan pendidikan dan psikososial anak-anak pascabencana.
Kak Ichsan kemudian menceritakan bencana banjir besar yang melanda Aceh pada Desember 2025. Intensitas hujan yang sangat tinggi sejak pertengahan bulan menyebabkan luapan sejumlah sungai besar, sehingga mengakibatkan banjir di beberapa kabupaten. Tercatat ada tujuh kabupaten yang terdampak paling parah, dengan genangan air berlangsung selama dua hari dua malam.
Dalam situasi tersebut, beberapa relawan Rumah Baca Rangkang Pustaka juga turut terdampak banjir. Kondisi ini sempat menyulitkan komunikasi karena hilangnya jaringan, hingga perlahan kembali terhubung ketika sinyal mulai tersedia.
Sebagai bentuk kepedulian dan gerak hati, pada awal Desember Rumah Baca Rangkang Pustaka mendirikan posko bencana. Meskipun mereka sendiri merupakan korban bencana, para relawan tetap berupaya membantu masyarakat yang lebih membutuhkan. Upaya ini dilakukan dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai komunitas dan organisasi, seperti Forum TBM, Kita Bisa, serta komunitas lainnya.
Kak Ichsan menjelaskan bahwa derasnya arus air dan tingginya debit banjir menyebabkan air masuk ke rumah-rumah penduduk, bahkan membentuk aliran-aliran baru layaknya sungai di sekitar permukiman warga. Bersama 20 orang relawan, Rumah Baca Rangkang Pustaka membantu para korban banjir, tidak hanya di wilayah sekitar, tetapi juga di daerah lain yang terdampak lebih parah.
Pada tahap awal, bantuan yang dapat disalurkan masih berupa logistik, karena itulah sumber daya yang tersedia saat itu. Selanjutnya, mereka bergabung dalam Forum Aceh Berdaya yang terdiri atas 16 komunitas. Forum ini membagi fokus bantuan ke berbagai bidang, seperti pendidikan, pendampingan psikososial, dan kebutuhan lainnya.
Hingga 1 Februari 2026, Rumah Baca Rangkang Pustaka masih aktif menjalankan kegiatan di posko bencana bersama relawan dari berbagai latar belakang. Di antaranya komunitas akar rumput yang menyusun silabus pembelajaran, serta perwakilan universitas yang menyumbangkan alat peraga matematika. Seluruh bantuan tersebut dimanfaatkan oleh tim Rumah Baca Rangkang Pustaka sebagai media pembelajaran bagi anak-anak di pengungsian.
Di sela cerita panjangnya, Kak Ichsan juga berbagi pengalaman emosional saat menjadi relawan. Ia mengisahkan perasaan sedih ketika melihat banyak warga harus berkumpul dan mengungsi di balai desa. Namun, di balik itu, ia justru menyaksikan betapa kuat dan tangguhnya anak-anak dalam menghadapi bencana. Para orang tua pun tetap berusaha menjamu relawan dengan sebaik-baiknya, meskipun mereka sendiri sedang berada dalam kondisi sulit.
Berbagai kegiatan edukatif dan menyenangkan terus diadakan oleh para relawan bersama Rumah Baca Rangkang Pustaka untuk anak-anak di pengungsian. Kegiatan-kegiatan ini menjadi ruang aman sekaligus penguat mental bagi anak-anak pascabencana.
Menjelang penutupan sesi berbagi cerita, Kak Ichsan menyampaikan kisah yang sangat membekas. Ia menceritakan seorang anak yang begitu bahagia karena akan mendapatkan rumah bantuan. Kebahagiaan sederhana itu menimbulkan haru, karena sulit membayangkan kondisi rumah anak tersebut sebelum bencana. Kisah ini menjadi refleksi mendalam tentang makna syukur dan harapan.
Dari seluruh pengalaman tersebut, Kak Ichsan menegaskan bahwa sebagai korban bencana, manusia tetap memiliki nurani untuk membantu sesama. Bencana yang dialami mungkin tidak sebesar bencana di daerah lain, namun dengan apa yang dimiliki—baik tenaga, harta, maupun waktu—semua dapat berkontribusi. Semangat ini ingin beliau tularkan kepada generasi muda, dan terbukti dengan banyaknya komunitas yang turun langsung menjadi relawan di berbagai daerah terdampak.
Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah kesadaran untuk merawat alam. Bencana banjir membuka mata banyak pihak tentang kondisi masyarakat di pelosok, aktivitas ekonomi mereka, serta pentingnya mengenal dan menjaga lingkungan sekitar.
Di akhir kegiatan, Kak Ichsan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Forum TBM dan para donatur atas dukungan dan donasi yang diberikan kepada korban bencana. Harapannya, kehadiran TBM di tengah masyarakat, khususnya dalam penanganan bencana, dapat melengkapi peran pemerintah. Selain itu, TBM diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap literasi dan menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan.
