Kabar  

Dampak Hibah 1000 Buku di Perbatasan Tana Tidung

Oleh. Muhammad Azni

Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata atau merangkai kalimat. Bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan beranda negeri, literasi adalah jendela dunia, sebuah anak tangga untuk meraih cita-cita yang setinggi langit. Di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, semangat ini bernyala nyata di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Baca Taka. Berada di tengah tantangan aksesibilitas, kehadiran TBM ini menjadi oase dahaga pengetahuan. Momentum pergerakan literasi di sana mendapat dorongan luar biasa ketika Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menyalurkan program bantuan hibah buku bermutu sebanyak 1000 judul yang resmi diterima pada tanggal 16 Agustus 2024. Momentum bersejarah menjelang hari kemerdekaan tersebut tidak sekadar menambah koleksi rak buku, melainkan menjadi pemantik perubahan sosial yang mendalam bagi anak-anak Desa Seludau dan sekitarnya, sekaligus menjadi energi baru bagi para penggiat literasi lokal.

Sebelum bantuan ini mendarat pada Agustus 2024, tantangan terbesar yang dihadapi oleh TBM Rumah Baca Taka adalah keterbatasan variasi bahan bacaan. Buku-buku yang ada umumnya merupakan buku bekas yang usang atau materi pelajaran formal yang kurang memantik imajinasi anak-anak. Akibatnya, minat baca menjadi naik turun dan cenderung berjalan di tempat. Anak-anak membutuhkan sesuatu yang segar, visual yang menarik, dan cerita yang relevan dengan dunia mereka untuk menumbuhkan kebiasaan membaca (reading habit). Hibah 1000 buku bermutu dari Perpusnas hadir menjawab kebutuhan krusial tersebut. Buku-buku yang dikurasi dengan baik, mulai dari cerita anak bergambar, fiksi sains sederhana, sejarah, hingga buku keterampilan praktis membawa atmosfer baru yang penuh warna ke ruang baca TBM Rumah Baca Taka.

Kini, setelah dua tahun terakhir dimanfaatkan secara intensif oleh anak-anak Desa Seludau dan sekitarnya, dampak positif dari 1000 buku ini semakin nyata dan mengakar. Buku-buku baru tersebut bertindak layaknya magnet yang konsisten menarik kehadiran anak-anak setiap harinya. Dalam rentang waktu dua tahun ini, koleksi hibah tersebut telah menjadi stimulus kognitif yang efektif dalam mengasah dan meningkatkan literasi mereka. Anak-anak yang pada tahun 2024 masih kesulitan membaca lancar, kini telah tumbuh menjadi pembaca yang aktif dan percaya diri. Sementara bagi anak-anak yang lebih dewasa, buku-buku sains populer dan sastra anak dari Perpusnas sukses memperkaya kosakata (vocabulary) mereka, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta memperluas cakrawala pemahaman mereka tentang dunia luar.

Lebih jauh lagi, dampak dari 1000 buku ini melampaui peningkatan kemampuan membaca. Selama dua tahun pemanfaatannya, buku-buku bermutu ini membentuk ruang diskusi emosional dan sosial di antara anak-anak Desa Seludau. Seringkali setelah membaca, mereka akan berkumpul dan menceritakan kembali apa yang mereka baca kepada teman-temannya. Proses ini secara tidak langsung mengasah kemampuan artikulasi, rasa percaya diri, dan empati mereka. Mereka mulai mengenal konsep-konsep baru, nilai-nilai moral universal, dan keanekaragaman budaya nusantara melalui jalinan cerita. Pengetahuan-pengetahuan baru ini menjadi modal berharga bagi generasi muda Tana Tidung untuk tumbuh menjadi individu yang adaptif dan berwawasan luas, meskipun tinggal di pelosok negeri.

Namun, keberhasilan sebuah TBM tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan buku, melainkan juga oleh faktor manusia di belakangnya: para penggiat literasi. Di sinilah hibah dari Perpusnas memberikan dampak sekunder yang tidak kalah hebatnya. Bagi para relawan dan penggiat di TBM Rumah Baca Taka, 1000 judul buku ini telah menjadi “laboratorium” sekaligus amunisi segar selama dua tahun terakhir untuk mengembangkan metode mengajar dan pengasuhan literasi. Kehadiran buku-buku yang variatif dan interaktif ini membuka ruang kreativitas yang tanpa batas bagi mereka untuk mendobrak metode klasikal yang monoton.

Dengan koleksi yang kaya, penggiat literasi di TBM Rumah Baca Taka sukses mengadopsi dan memodifikasi berbagai metode pembelajaran modern. Salah satunya adalah metode read aloud (membaca nyaring), di mana penggiat membacakan buku cerita dengan intonasi dan ekspresi yang dramatis untuk menarik perhatian anak-anak usia dini. Selain itu, para penggiat juga berhasil mengintegrasikan aktivitas membaca dengan metode project-based learning (pembelajaran berbasis proyek) sederhana. Misalnya, setelah anak-anak membaca buku panduan bercocok tanam atau membuat kerajinan tangan, penggiat langsung mengajak mereka melakukan praktik langsung di lingkungan sekitar TBM. Kreativitas mengajar yang meningkat ini secara otomatis mendongkrak kualitas interaksi belajar-mengajar di TBM, mengubah peran penggiat dari sekadar penjaga buku menjadi fasilitator pembelajaran yang inspiratif.

Namun, di tengah keberhasilan dan kemanfaatan nyata yang dirasakan di tingkat akar rumput, awan mendung menggelayuti gerakan literasi di perbatasan. Memasuki tahun 2026, kabar mengenai diberhentikannya program hibah buku bermutu ini dari Perpusnas RI membawa gelombang kekecewaan yang mendalam bagi para penggiat literasi dan masyarakat di daerah. Kebijakan penghentian ini dirasa mencederai semangat pemerataan pendidikan, sebab realitas di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan belum usai. Di wilayah Kalimantan Utara, khususnya di daerah perbatasan antar kabupaten dan kota, masih sangat banyak TBM yang kondisinya memprihatinkan dan mengalami kelangkaan akut akan bahan bacaan yang bermutu. Kesenjangan akses buku antara pusat dan daerah pinggiran masih terdapat kesenjangan yang besar.

Keberhasilan TBM Rumah Baca Taka selama dua tahun terakhir dengan 1000 bukunya adalah bukti sahih betapa program ini adalah urat nadi bagi pendidikan non-formal di pelosok. Oleh karena itu, muncul harapan dan desakan yang sangat besar dari masyarakat daerah agar pemerintah pusat memulihkan dan meluncurkan kembali program hibah buku bermutu ini. Program ini tidak boleh dilihat sebagai proyek jangka pendek, melainkan sebuah investasi berkelanjutan demi menunjang dan memangkas kesenjangan literasi di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.

Sebagai kesimpulan, hibah 1000 judul buku dari Perpusnas RI yang diterima pada 16 Agustus 2024 telah memberikan dampak secara luar biasa dalam mendongkrak literasi anak-anak Desa Seludau serta merevolusi metode mengajar penggiat di TBM Rumah Baca Taka. Namun, penghentian program ini di tahun 2026 menjadi sinyal bahaya bagi masa depan literasi perbatasan. Rumah Baca Taka adalah bukti hidup bahwa buku bermutu mampu mengubah daerah, dan demi ribuan anak-anak lain di tapal batas Kalimantan Utara yang masih menatap rak-rak buku yang kosong, program hibah ini harus kembali dihidupkan. Jangan biarkan pelita literasi yang baru saja menyala di beranda negeri, kembali meredup akibat terputusnya pasokan ilmu pengetahuan.

Penulis: Muhammad AzniEditor: Heri
Exit mobile version