Di pulau yang dikelilingi laut biru dan perjalanan panjang, berdirilah sebuah rumah baca yang tumbuh dari ketulusan dan kegigihan. Namanya Rumah Baca Laica Abbacaang, sebuah ruang literasi yang lahir dari kegelisahan, bertahan dengan kesederhanaan, dan terus menyala sebagai pelita bagi anak-anak Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.
Perjalanan menuju Pulau Kabaena bukanlah hal mudah. Dari ibu kota kabupaten, perjalanan ditempuh sekitar empat hingga lima jam dengan kapal kayu, atau sekitar dua jam menggunakan kapal cepat. Pulau ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil lain dengan jumlah penduduk sekitar 400 jiwa, serta fasilitas pendidikan yang masih terbatas. Namun justru di tempat inilah, sebuah harapan tumbuh perlahan melalui buku, cerita, dan pertemuan sederhana yang penuh makna.
Rumah Baca Laica Abbacaang resmi berdiri pada 15 Januari 2017, beralamat di Jl. Merpati No. 02, Kelurahan Sikeli, Kecamatan Kabaena Barat, Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara. Rumah baca ini didirikan oleh Syamsiah Lukman, yang hingga kini juga menjadi pengelola utamanya. Lahir dari kegelisahan melihat anak-anak di sekitar rumahnya tak memiliki ruang aman dan positif untuk belajar, beliau bertekad menghadirkan sebuah tempat yang bukan hanya berisi buku, tetapi juga harapan.
Seiring waktu, rumah baca ini tercatat secara resmi sebagai bagian dari gerakan literasi nasional dengan Nomor Keanggotaan Forum TBM 300122102518 dan NPP (Nomor Pokok Perpustakaan) 7406144J0000002. Meski berada jauh dari pusat kota, Rumah Baca Laica Abbacaang terus menunjukkan eksistensinya sebagai ruang belajar yang hidup.
Bangunan yang digunakan sebagai sekretariat TBM merupakan rumah pinjam pakai milik saudara. Tidak ada perjanjian jangka panjang, sehingga sewaktu-waktu harus siap berpindah apabila rumah tersebut akan direnovasi. Keterbatasan ini tidak menyurutkan langkah. Di dalam bangunan sederhana itu tersusun 1.751 koleksi buku, empat rak buku, sekitar 20 meja belajar, serta mainan-mainan bekas yang disulap menjadi media edukatif.
Kegiatan utama yang rutin dijalankan adalah Bimbel Kelas Sore, yang berlangsung setiap Jumat hingga Minggu. Fokus pembelajarannya meliputi matematika, bahasa Inggris, dan literasi dasar, dengan jumlah peserta sekitar 27 anak. Bagi anak-anak ini, kelas sore bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang aman untuk bertanya, mencoba, dan tumbuh bersama.
Selain kegiatan rutin, Rumah Baca Laica Abbacaang juga aktif melakukan kunjungan ke kampung pesisir, desa-desa lain, hingga wilayah terpencil. Layanan yang diberikan meliputi peminjaman buku gratis, kegiatan membaca bersama, permainan edukatif, serta peringatan hari-hari besar nasional. Anak-anak diajak bermain sambil belajar, membuka buku-buku berwarna, dan mendengarkan cerita yang memperluas imajinasi mereka.
Sasaran utama layanan adalah anak-anak dan pelajar, meskipun masyarakat umum juga dapat memanfaatkan layanan peminjaman buku. Dalam perjalanannya, rumah baca ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari masyarakat setempat, pemerintah desa dan kelurahan, hingga pihak swasta. Kolaborasi ini terwujud dalam berbagai kegiatan seperti Sosialisasi Literasi Digital bersama SD 06 dan SD 16 Baliara Selatan, kunjungan edukatif ke Kantor Polisi, Bank Sultra, dan Kantor Pos, serta penyelenggaraan Festival Permainan Tradisional, peringatan HUT RI, dan Hari Pahlawan.
Namun, dibalik semua aktivitas tersebut, tantangan besar tetap ada. Konsistensi relawan menjadi persoalan utama. Sebagian besar relawan memiliki pekerjaan tetap dan tanggung jawab keluarga, sehingga tidak selalu bisa terlibat penuh. Hingga kini, sekitar sepuluh relawan aktif biasanya bergabung ketika ada kegiatan besar atau kunjungan ke desa. Upaya merekrut relawan muda terus dilakukan, meski belum mudah menemukan mereka yang siap berkomitmen dalam jangka panjang.
Penghargaan yang diterima Rumah Baca Laica Abbacaang diantaranya pernah memperoleh Apresiasi Rumah Baca Menginspirasi dari 1001 Buku (2018–2019). Selain itu, pendirinya juga menerima apresiasi sebagai pegiat literasi dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Bombana. Bagi mereka, penghargaan bukan tujuan utama, melainkan penyemangat untuk terus bergerak.
Ke depan, harapan besar terus ditanamkan. Rumah Baca Laica Abbacaang ingin tumbuh menjadi ruang belajar yang semakin berkualitas, memperkuat program Kelas Sore, menghidupkan kembali kunjungan ke desa-desa, serta suatu hari memiliki mobil pustaka dan ruang belajar yang lebih layak. Semua itu diharapkan dapat membuka lebih banyak pintu pengetahuan bagi anak-anak pulau.
Rumah baca ini tumbuh dari sebuah pulau kecil, namun membawa mimpi yang besar. Ia menjadi tempat lahirnya harapan, ruang bagi anak-anak untuk mengenal dunia, dan bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Dengan dukungan banyak pihak, Rumah Baca Laica Abbacaang terus menyalakan cahaya literasi pelan, sederhana, tetapi penuh makna.
Saat ini, Rumah Baca Laica Abbacaang hanya memiliki satu kanal media sosial sebagai sarana berbagi aktivitas dan dokumentasi kegiatan, yakni Facebook Page: Rumah Baca Laica Abbacaang. Melalui medsos inilah berbagai kegiatan literasi, kunjungan ke desa, serta cerita keseharian anak-anak dibagikan kepada publik sebagai bentuk transparansi sekaligus ajakan untuk terus mendukung gerakan literasi dari pulau kecil ini.
