Kabar  

Cahaya Literasi dari Ujung Barat Kalimantan Tengah

Oleh. Bonni Febrian*

Di Kalimantan Tengah memiliki puluhan anggota Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Masing-masing tumbuh dengan karakter, cerita, dan semangat yang berbeda, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama: menghadirkan ruang belajar dan budaya literasi di tengah masyarakat.

Salah satunya adalah TBM Bina Ilmu, anggota Forum TBM Kalimantan Tengah yang berada di Desa Sungai Raja, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara, wilayah paling barat Provinsi Kalimantan Tengah yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat. Meski berada cukup jauh dari ibu kota provinsi, semangat literasi di desa ini terus tumbuh melalui berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak, remaja, hingga masyarakat dewasa.

TBM Bina Ilmu merupakan anggota Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kalimantan Tengah dengan Nomor Anggota 211223.32.3007. Bersama sekitar 40 anggota Forum TBM Kalteng lainnya , menjadi bagian dari jejaring pegiat literasi yang  menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat.

TBM Bina Ilmu berdiri pada tahun 2020 dengan tujuan meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat sekaligus membentuk sumber daya manusia yang religius dan berwawasan luas. Hingga kini, TBM memiliki sekitar 210 anggota aktif, koleksi lebih dari 600 buku, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan literasi yang diselenggarakan Balai Bahasa Kalimantan Tengah maupun Perpustakaan Nasional.

Di balik tumbuhnya TBM Bina Ilmu, ada sosok Etih Sukmawati, seorang pegiat literasi yang dengan penuh ketulusan mengabdikan waktu dan tenaganya untuk menghidupkan taman bacaan di desanya.

Bagi Bu Etih, taman bacaan bukan sekadar tempat menyimpan atau meminjam buku. Lebih dari itu, TBM adalah ruang untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Banyak hal yang bisa dilakukan melalui TBM. Salah satunya memanfaatkan diri untuk hadir bagi orang-orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Semangat itulah yang terus ia pegang hingga hari ini.

Ketika ada anak-anak maupun orang dewasa yang belum mampu membaca Al-Qur’an, TBM Bina Ilmu membuka pintunya sebagai tempat belajar. Tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga membimbing akhlak, menanamkan kedisiplinan, dan membangun karakter.

Bagi Bu Etih,  literasi juga menjadi jalan untuk membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Semangat itu tercermin dalam berbagai kegiatan yang rutin dilaksanakan. Anak-anak datang dengan penuh antusias mengikuti latihan hadrah, tilawah, membaca puisi, bernyanyi, menari, hingga menghafal Al-Qur’an. Bagi mereka, TBM bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bermain, berkarya, dan menemukan rasa percaya diri.

Namun, perjalanan itu tentu tidak selalu mudah.

Keterbatasan ruang menjadi tantangan yang hingga kini masih dirasakan. Dalam satu ruangan yang sama, berbagai kegiatan harus berlangsung secara bersamaan. Seusai salat Magrib berjamaah, ruangan digunakan untuk belajar mengaji, tahfiz, latihan hadrah, hingga kegiatan belajar lainnya. Tidak jarang suara antar kelompok saling bersahutan, bahkan sebagian anak terpaksa belajar di luar ruangan karena tempat yang tersedia tidak lagi mencukupi.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak pernah menyurutkan langkah Bu Etih dan para relawan TBM untuk terus melayani masyarakat.

Harapan terbesar Bu Etih sebenarnya sederhana. Ia ingin suatu hari nanti TBM Bina Ilmu memiliki gedung yang lebih luas sehingga seluruh kegiatan dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan kondusif. Sebuah ruang yang mampu menampung lebih banyak anak untuk belajar, membaca, berkarya, dan mengembangkan potensi mereka.

Kisah TBM Bina Ilmu membuktikan bahwa gerakan literasi tidak selalu lahir dari bangunan megah atau fasilitas yang lengkap. Dari ruang sederhana di Desa Sungai Raja, semangat berbagi ilmu, membangun karakter, dan menyalakan harapan terus tumbuh setiap hari.

Melalui sosok seperti Bu Etih Sukmawati dan para pegiat literasi lainnya, Forum TBM Kalimantan Tengah terus menunjukkan bahwa setiap taman bacaan memiliki kisah yang layak dikenalkan kepada masyarakat. Sebab di balik setiap halaman yang dibaca. Setiap TBM memiliki warna, perjuangan, dan harapan yang berbeda, namun semuanya dipersatukan oleh semangat yang sama: menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat. Karena di balik setiap taman bacaan, selalu ada orang-orang yang bekerja dengan hati untuk menjaga nyala literasi tetap hidup.

*Infokom PW Kalimantan Tengah

Exit mobile version