Bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat mengetuk nurani banyak orang. Salah satunya Kak Rizal Afdal, Founder Rumah Edukasi Kumanis. Ia menempuh perjalanan panjang selama 26 jam di jalur sunyi kemanusiaan. Bersama kawan-kawan seperjuangannya, ia turun langsung menjadi relawan bencana alam. Dari perjalanan itulah lahir berbagai kisah perjuangan. Bukan sekadar penanda waktu, tetapi simbol ketekunan, kelelahan, dan kesetiaan pada nilai kemanusiaan.
Kisah tersebut dibagikan dalam kegiatan SAPA TBM: “26 Jam di Jalur Sunyi Kemanusiaan”, sebuah ruang dialog yang diselenggarakan oleh Forum TBM dan disiarkan secara live melalui Instagram @forum_tbm pada Kamis, 22 Januari 2026, pukul 16.00–17.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Rizal Afdal, Founder Rumah Edukasi Kumanis, sebagai narasumber, dengan Apep Saepudin, Bendahara PP Forum TBM, sebagai moderator. Percakapan berlangsung hangat, jujur, dan penuh refleksi, mengajak pendengar menengok sisi kemanusiaan yang sering luput dari perhatian.
Dalam sesi tersebut, Kak Rizal Afdal berbagi pengalaman tentang kerja-kerja sunyi yang dijalani sebagai relawan, khususnya saat menyalurkan bantuan bagi para korban bencana alam.
Live dibuka dengan perkenalan latar belakang lahirnya Rumah Edukasi Kumanis. Lembaga ini hadir berangkat dari keprihatinan para pendirinya terhadap kondisi literasi. Banyak anak usia sekolah yang masih belum memahami literasi baca-tulis. Atas dasar itulah Rumah Edukasi Kumanis hadir di tengah masyarakat, dengan harapan mampu memberikan edukasi literasi, edukasi penggunaan gawai yang baik dan benar, serta menjalankan berbagai gerakan sosial. Semua kegiatan tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2022 di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Cerita kemudian berlanjut pada awal mula terjadinya banjir yang berminggu-minggu melanda Sumatera Barat. Awalnya cuaca masih cerah dan hujan turun seperti biasa. Namun, mendung terus bergelayut selama berhari-hari. Hujan turun sangat deras, membuat tanah di perbukitan menjadi lembek, sungai meluap, hingga akhirnya kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi.
Sejak berita bencana banjir dan longsor disiarkan, Kak Rizal bersama kawan-kawan perjuangannya langsung terjun membantu para korban terdampak. Bersama Rumah Edukasi Kumanis, ia melakukan penggalangan donasi melalui media sosial. Dalam waktu sekitar satu minggu, donasi berhasil terkumpul. Dalam live tersebut, Kak Rizal menyampaikan, “Karena kepedulian dan rasa kemanusiaan yang lahir, kami tidak bisa diam ketika melihat saudara kita terkena bencana.” Kalimat inilah yang menjadi motivasi utama mereka untuk berbagi.
Kak Rizal juga menyampaikan bahwa tantangan signifikan tidak terlalu banyak dihadapi, meski rasa kelelahan tentu tetap menghampiri. Saat proses penyerahan donasi, ia bersama 11 orang relawan mendatangi langsung lokasi bencana. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah setempat, menghubungi berbagai pihak, hingga mendapatkan informasi lokasi terdampak paling parah. Jarak tempuh menuju lokasi tersebut kurang lebih empat jam. Bantuan yang dibawa berupa sembako hasil belanja donasi serta beberapa paket pakaian.
Berbagai cerita haru, menegangkan, unik, bahkan menyentuh pun hadir melengkapi perjalanan tersebut. Dalam perjalanan menuju lokasi bencana, Kak Rizal dan relawan harus memutar balik dan melewati Pasaman. Hal ini dilakukan setelah mereka menerima informasi adanya longsor susulan di Kelok 44 yang menyebabkan akses jalan terputus. Akhirnya, mereka memutuskan singgah di Kampung Buya Hamka. Di sana, mereka berdiskusi dengan Ketua Dusun terkait penyaluran bantuan dan disarankan untuk menitipkan bantuan agar tetap dapat tersampaikan kepada warga terdampak.
Hal tak terduga kembali terjadi saat proses penyaluran. Hujan deras mengguyur lokasi, sementara para relawan tidak membawa persiapan yang cukup untuk diri mereka sendiri. Kondisi tersebut sempat memunculkan kepanikan dan ketakutan. Mereka benar-benar merasakan bagaimana situasi panik yang dialami warga saat banjir terjadi. Namun, Kak Rizal teringat pesan Uni Nilam, salah satu relawan, yang mengatakan, “Jangan panik! Nanti kacau.” Dari situlah mereka belajar pentingnya edukasi dan menenangkan diri sendiri di saat kondisi genting.
Cerita unik lainnya muncul ketika hujan deras membuat para relawan basah dan kedinginan. Untuk menepis udara dingin, mereka terpaksa membongkar baju donasi. Dalam kondisi darurat tersebut, mereka juga membutuhkan pertolongan. Baju-baju donasi dipilih sesuai ukuran masing-masing relawan, setidaknya untuk menghalau dingin yang menusuk tubuh mereka.
Makna 26 Jam di Jalur Sunyi Kemanusiaan menjadi refleksi sebuah perjuangan. Perjalanan ini mengajarkan bagaimana menghadapi kepanikan saat bencana longsor dan banjir terjadi. Pelajaran penting yang disampaikan adalah bahwa kepanikan hanya akan membuat seseorang berhenti di satu titik. Oleh karena itu, tetap tenang dan berpikir positif menjadi kunci. Sebab, bencana merupakan ujian yang datang dari Allah.
