Oleh. Munasyaroh
Di tengah perbukitan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berdiri sebuah ruang belajar sederhana yang terus bertahan menghadapi berbagai keterbatasan. Ruang itu bernama Taman Baca Todea (TBM Todea), sebuah taman baca masyarakat yang lahir dari kepedulian terhadap kondisi pendidikan dan literasi di desa.
Berlokasi di Dusun 3, Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, TBM Todea menjadi ruang belajar alternatif bagi masyarakat desa sekaligus wadah pengembangan ekosistem keilmuan di Kabupaten Sigi. Dengan slogan “Berbagi Ilmu Belajar Bersama”, taman baca ini terus bergerak menghadirkan akses pengetahuan bagi anak-anak, remaja, pemuda, dan masyarakat umum.
Berawal dari Keresahan terhadap Kondisi Pendidikan
TBM Todea didirikan pada 17 Agustus 2017 oleh Moh. Zikran bersama sejumlah pemuda Desa Kotarindau. Gagasan ini muncul dari keprihatinan terhadap masih adanya anak-anak yang mengalami putus sekolah, rendahnya minat belajar, serta minimnya ruang pengembangan diri di desa.
Menurut Moh. Zikran, kondisi tersebut bukan karena tidak tersedianya sekolah formal. Sekolah telah tersedia, namun berbagai faktor seperti keterbatasan ekonomi keluarga, kurangnya dukungan lingkungan, dan pengaruh pergaulan membuat sebagian anak kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Dari kondisi itulah lahir sebuah gerakan bernama Gerakan Literasi Sigi yang kemudian berkembang dan bertransformasi menjadi Taman Baca Todea.
Nama Todea berasal dari bahasa Kaili Ledo yang berarti masyarakat atau orang banyak. Nama tersebut dipilih sebagai simbol harapan agar gerakan literasi dapat tumbuh dan menyebar luas hingga ke akar rumput, menjangkau sebanyak mungkin masyarakat.
Menghimpun Pemuda untuk Bergerak Bersama
Perjalanan TBM Todea tidak dilakukan seorang diri. Moh. Zikran mulai mengajak teman-teman sekampung untuk terlibat sebagai relawan. Seiring waktu, jaringan pengelola semakin meluas hingga melibatkan adik-adik tingkat di sekolah dan pemuda dari berbagai wilayah di Kabupaten Sigi.
Saat ini TBM Todea dikelola oleh:
1. Safi’i
2. Didit Setiawan
3. Syahrul Izzat
4. Zaim
5. Achsanul Amal
6. Dinul Yakin
7. Oskar Giovani
8. Diyah

Kolaborasi para relawan inilah yang menjadi kekuatan utama TBM Todea dalam menjalankan berbagai program literasi di tengah keterbatasan sumber daya.
Kisah TBM Todea juga merupakan kisah tentang perjuangan mempertahankan ruang belajar. Pada awal berdiri, Moh. Zikran bersama para pemuda desa meminta izin memanfaatkan sebuah bangunan tua bekas bengkel motor yang sudah tidak digunakan. Bangunan tersebut kemudian disulap menjadi perpustakaan mini sekaligus sekretariat kegiatan.
Di tempat itulah berbagai aktivitas tumbuh. Anak-anak belajar membaca, pemuda berdiskusi, kajian keagamaan berlangsung, kegiatan bank sampah dijalankan, hingga pelatihan kepenulisan digelar.
Namun perjalanan tidak selalu mudah. Ketika bangunan tersebut direnovasi menjadi gerai Alfamidi, TBM Todea harus berpindah tempat. Setelah itu mereka sempat membangun pondok literasi di halaman rumah kontrakan kerabat, namun kembali harus berpindah ketika lokasi tersebut disewakan untuk usaha.
Kini TBM Todea masih memanfaatkan kamar depan teras rumah Moh. Zikran sebagai kantor sekaligus ruang baca sementara. Anak-anak biasanya mengambil buku dari rak kemudian membaca di teras rumah sambil duduk di kursi. Sebagian lainnya membaca di dalam ruangan dengan duduk atau berbaring di lantai.
Visi Besar dari Ruang yang Sederhana
TBM Todea memiliki visi:
“Menjadi ruang belajar alternatif bagi masyarakat desa sekaligus menjadi wadah ekosistem keilmuan di Kabupaten Sigi.”
Untuk mewujudkan visi tersebut, TBM Todea menjalankan beberapa misi utama:
- Aktivasi ruang baca di pelosok.
- Menyediakan sarana informasi dan edukasi literasi.
- Memberdayakan masyarakat.
- Menciptakan ruang kreativitas bagi masyarakat desa.
Saat ini TBM Todea memiliki sekitar 1.200 eksemplar buku dengan fasilitas sederhana berupa rak buku, puzzle edukatif, dan komputer pribadi yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar.
TBM Todea tidak hanya menyediakan buku. Berbagai program kreatif terus dikembangkan agar literasi hadir lebih dekat dengan masyarakat.
1. Polipa Literasi
Polipa berasal dari bahasa Kaili Ledo yang berarti “berjalan”. Program ini menjadi simbol gerakan menjelajah wilayah pelosok untuk membawa aktivitas literasi langsung ke masyarakat.
Melalui Polipa Literasi, para relawan melakukan kunjungan ke berbagai daerah, mengadakan kegiatan membaca, edukasi, hingga membantu membangun ruang belajar bersama komunitas setempat.
2. Bioskop Todea
Bioskop Todea merupakan program bioskop rakyat yang menayangkan film-film karya sineas lokal maupun film bertema budaya, sosial, dan pendidikan. Kegiatan ini tidak berhenti pada pemutaran film saja, tetapi juga dilanjutkan dengan diskusi yang mendorong peserta berpikir kritis dan memahami isu-isu di sekitarnya.
3. Kelas Literasi Lingkungan
Program ini mengajak anak-anak dan pemuda memahami pentingnya menjaga lingkungan. Materi yang diberikan meliputi pengelolaan sampah, pembuatan produk daur ulang, hingga pemanfaatan sampah organik menjadi produk yang bernilai guna.
4. Literasik (Literasi Asyik)
Literasik menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Kegiatan dilakukan melalui permainan, eksplorasi alam, membaca, menulis, dan berbagai permainan tradisional yang sarat nilai edukatif.

Selain program unggulan tersebut, TBM Todea juga rutin mengadakan lapak baca, membaca nyaring, diskusi buku, workshop lingkungan, serta berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menguatkan Jaringan Melalui Kolaborasi
Dalam menjalankan programnya, TBM Todea aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, diantaranya: Universitas Tadulako, UIN Datokarama Palu, Komunitas literasi, Sanggar Seni, Kelompok pemuda dan masyarakat lokal
Kolaborasi ini membantu memperluas dampak kegiatan sekaligus memperkaya pengalaman belajar bagi masyarakat.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Sebagai taman baca yang bergerak secara mandiri, TBM Todea masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan relawan menjadi salah satu hambatan utama. Selain itu, sarana dan prasarana yang tersedia masih sangat sederhana. Hingga saat ini, pengelola masih berupaya mengumpulkan dana secara mandiri untuk membangun sekretariat permanen bagi TBM Todea.
Pembangunan sekretariat tersebut diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas literasi sekaligus tempat pembinaan pemuda yang nantinya dapat menjadi relawan literasi di berbagai wilayah Kabupaten Sigi.
Di tengah keterbatasan, TBM Todea tetap menorehkan berbagai pencapaian. Beberapa penghargaan yang pernah diterima antara lain:
- Piagam penghargaan dari berbagai komunitas literasi.
- Sertifikat Penulis Cerita Anak Dwibahasa dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah yang diterima oleh Moh. Zikran.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi dari desa mampu menghasilkan karya dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kegiatan terbaru yang dilaksanakan TBM Todea meliputi Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Kelas Literasi Lingkungan, Workshop Pembuatan Pupuk Kompos, Polipa Literasi, serta Diskusi Buku.
Perjalanan TBM Todea menunjukkan bahwa literasi tidak selalu lahir dari bangunan megah atau fasilitas lengkap. Literasi dapat tumbuh dari sebuah kamar sederhana, dari teras rumah, dari sekumpulan pemuda yang peduli, dan dari keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan.
Dengan semangat “Berbagi Ilmu Belajar Bersama”, Taman Baca Todea terus menjadi cahaya yang menerangi jalan belajar masyarakat di pelosok Kabupaten Sigi.
Informasi TBM
Nama: Taman Baca Todea
Alamat: Dusun 3, Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Nomor Anggota Forum TBM: 7271022502158
NPP: 7210124A00
Media Sosial:
Instagram: Official Taman Baca Todea
Facebook: Taman Baca Todea
YouTube: Taman Baca Todea
![]()












