Kabar  

Memahami Sastra Anak Bersama Peter Hunt

Oleh. Atep Kurnia

Peter Hunt melalui bukunya An Introduction to Children’s Literature (Oxford University Press, 1994) menghadirkan pengantar sastra anak sebagai sebuah kajian. Ia menegaskan sastra anak merupakan konstruksi sosial dan budaya yang dibentuk oleh orang dewasa, oleh ideologi, pendidikan, industri penerbitan, dan perubahan nilai masyarakat. Oleh karena itu, Hunt menempatkan sastra anak dalam posisi yang paradoksal, karena ditulis oleh orang dewasa untuk anak-anak, sekaligus menjadi arena negosiasi antara dunia anak dan dunia dewasa, antara hiburan dan didaktik, antara imajinasi dan kontrol moral.

            Menurut Margaret Meek (The Cambridge Guide to Children’s Books in English, 2001: 185-186), Peter Hunt yang lahir tahun 1945 itu adalah cendekiawan Inggris, guru besar Bahasa Inggris dan Sastra Anak di Cardiff University serta ajung guru besar di Dublin City University. Ia dikenal sebagai salah satu pelopor yang mengukuhkan sastra anak sebagai disiplin kajian sastra yang mandiri di lingkungan perguruan tinggi, bukan sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Selain itu, Hunt berperan penting dalam membangun jejaring akademik internasional yang mempertemukan para peneliti dan pengkaji sastra anak dari berbagai negara, sehingga menjadi ranah penelitian yang diakui secara luas.

            Untuk buku An Introduction to Children’s Literature, Peter Hunt menyajikan lima bab bahasan ditambah satu bab kesimpulan. Di pengantar, antara lain, dia menyatakan buku ini menyajikan peta berbagai karya untuk anak-anak dan terutama dibaca oleh mereka. Buku ini membahas juga “subjek” sastra anak itu sendiri: apa itu sastra anak, bagaimana sastra anak digunakan, bagaimana mendekatinya, serta bagaimana kajiannya berkembang. Sementara lokus pembahasannya di Britania Raya; sastra anak dari Amerika Utara dan wilayah lain yang berkaitan dengan Britania.

            Untuk bab pertama, Approaching Children’s Literature, Hunt membaginya menjadi beberapa subbahasan yaitu “Children’s Literature and Adults”, “Marking the Boundaries”, “Inside Children’s Books”, “Children’s Literature and Literary Criticism”, dan “Two Case-Studies: Roald Dahl and Pollyanna”. Dari subbahasan tersebut kita dapat mencatat beberapa hal penting untuk pengetahuan dan pemahaman mengenai sastra anak itu sendiri.

            Pertama, sastra anak merupakan bagian penting kebudayaan Barat yang dinikmati anak-anak sekaligus orang dewasa, serta memiliki pengaruh besar dalam pembentukan imajinasi, nilai budaya, dan pengalaman membaca. Namun, karena sastra anak ditulis, dipilih, dan disebarluaskan orang dewasa untuk pembaca anak-anak, muncul hubungan kekuasaan kompleks dan paradoksal. Orang dewasa sering kali memandang sastra anak sebagai sesuatu yang remeh atau sekadar nostalgia masa kecil, padahal sastra anak memiliki kekuatan ideologis dan didaktis yang besar karena turut membentuk cara anak memahami dunia. Oleh karena itu, Hunt menganggap sastra anak sebagai ranah yang kaya, paradoksal, dan penuh perdebatan mengenai definisi, fungsi, serta pengaruhnya, sehingga memerlukan pendekatan kritis yang serius untuk memahaminya.

            Kedua, betapa sulitnya menetapkan batas-batas jelas tentang sastra anak. Definisi seperti “buku yang ditulis untuk anak-anak” atau “buku yang dibaca oleh anak-anak” tidak memadai karena soal intensi pengarang, penerbit, pembaca aktual, serta perbedaan makna yang diperoleh anak dan orang dewasa dari teks yang sama. Konsep “anak” itu sendiri bersifat historis dan kultural, berubah seiring waktu, masyarakat, bahkan keluarga, sehingga pemahaman tentang masa kanak-kanak sangat memengaruhi jenis buku yang diproduksi untuk mereka. Selain itu, istilah “sastra” (literature) jadi sumber perdebatan karena sastra anak sering dipandang inferior oleh lembaga sastra, sementara para praktisi sastra anak justru mencurigai nilai-nilai elite dalam konsep sastra. Oleh karena itu, Hunt mengusulkan agar sastra anak dipahami sebagai sistem tersendiri dengan karakteristik, logika, dan sejarahnya sendiri, bukan sebagai bentuk sastra yang lebih rendah. Pendekatan ini memungkinkan dimasukkannya berbagai bentuk bacaan anak yang selama ini diabaikan, seperti komik, seri populer, buku pendidikan, puisi anak, buku bergambar, dan dongeng rakyat, sekaligus mengakui bahwa batas-batas sastra anak bersifat ambigu tetapi produktif.

            Ketiga, ciri-ciri formal seperti penggunaan ilustrasi, ukuran huruf besar, tokoh anak, atau alur yang lebih berorientasi pada tindakan tidak cukup mendefinisikan sastra anak. Sebaliknya, konsep implied reader (pembaca implisit) menjadi pendekatan lebih produktif, yaitu bagaimana suara naratif dalam teks membayangkan jenis pembaca tertentu dan membangun hubungan dengannya. Melalui teori Barbara Wall, Hunt menjelaskan adanya tiga pola penyapaan dalam sastra anak, yaitu single address (hanya ditujukan kepada anak), double address (ditujukan secara terpisah kepada anak dan orang dewasa), dan dual address (menghubungkan pengalaman anak dan dewasa secara bersamaan). Konon, banyak buku anak klasik sesungguhnya beroperasi dalam ruang ambigu antara kebutuhan anak dan kepentingan orang dewasa.

            Keempat, adanya jurang antara kalangan akademisi yang mengkaji sastra anak melalui teori dan metode kritik sastra dengan para praktisi seperti guru, pustakawan, orang tua, dan pecinta buku anak yang lebih menekankan pengalaman membaca dan kebutuhan anak. Perbedaan ini melahirkan dua kelompok utama, yaitu book people yang berfokus pada teks sebagai objek kajian sastra dan child people yang lebih memperhatikan anak sebagai pembaca. Selain itu, sentimen nostalgia dan romantisasi masa kanak-kanak sering kali memengaruhi penilaian terhadap sastra anak, sehingga menghambat analisis kritis yang lebih objektif.

Hunt menyatakan bahwa penggunaan teori dan kritik sastra bukan bentuk pengkhianatan terhadap sastra anak, melainkan pengakuan atas nilai dan kompleksitasnya sebagai bidang kajian yang layak diperlakukan secara serius. Sekarang seiring melemahnya dominasi kanon sastra tradisional dan meningkatnya perhatian terhadap budaya populer serta suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan, kajian sastra anak mulai berkembang menjadi bidang yang lebih terbuka, interdisipliner, dan inklusif.

            Di dalam bab kedua, “History and Histories”, Peter Hunt menyatakan bahwa sejarah sastra anak merupakan hasil negosiasi terus-menerus antara pendidikan dan hiburan, moralitas dan kebebasan, kepentingan komersial dan ideologis, serta perubahan pandangan masyarakat tentang masa kanak-kanak. Sebelum abad ke-18, anak-anak membaca teks yang juga dikonsumsi orang dewasa, seperti cerita rakyat, dongeng lisan, buku agama, dan chapbooks, sehingga sulit menentukan batas tegas mengenai sastra anak. Titik pentingnya antara lain: pada 1744, John Newbery menerbitkan A Little Pretty Pocket-Book, yang dianggap sebagai awal penerbitan komersial buku anak; Mary Cooper dengan Tommy Thumb’s Song Book sebagai kumpulan sajak anak tertua; dan Sarah Fielding dengan The Governess (1749) sebagai novel pertama untuk anak-anak.

Sepanjang akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, sastra anak didominasi oleh karya-karya religius dan didaktis, tetapi penulis seperti Maria Edgeworth, Catherine Sinclair, Edward Lear, Heinrich Hoffmann, dan John Ruskin. Perubahan besar terjadi pada paruh kedua abad ke-19 melalui karya Lewis Carroll, George MacDonald, dan Charles Kingsley, yang menandai “‘first golden age’ of children’s literatur” atau zaman keemasan pertama sastra anak. Pada masa antarperang (Perang Dunia I dan Perang Dunia II), penulis seperti A. A. Milne, J. R. R. Tolkien, P. L. Travers, Arthur Ransome, dan Enid Blyton membentuk wajah baru sastra anak yang lebih mapan dan populer. Setelah Perang Dunia II, sastra anak berkembang menjadi industri penerbitan tersendiri; fantasi mendominasi pada 1950–1960-an melalui tokoh seperti C. S. Lewis dan Alan Garner, kemudian realisme berkembang pada 1970–1980-an bersamaan dengan munculnya sastra remaja (young adult literature) dan meningkatnya fungsi pendidikan.

Sejarah sastra anak di dunia berbahasa Inggris dibahas secara rinci oleh Hunt di dalam bab ketiga, “The Early History of Children’s Literature”, bab keempat, “Maturity, 1860-1920”, bab kelima, “The Long Weekend, 1920-1939”, dan bab keenam, “Equal Terms: 1940 to the Present”.

Selanjutnya dari bab ketujuh, “Uses and Abuses, Themes and Variations”, kita juga dapat mencatat beberapa hal penting yang dikemukakan oleh Peter Hunt. Pertama, sastra anak sejak awal hingga masa modern selalu berada dalam pengawasan ketat berbagai pihak, yaitu penulis, editor, penerbit, guru, dan lembaga negara, yang membentuk dan membatasi isi buku. Kedua, konsep realisme dalam sastra anak, dalam kaitannya dengan buku bergambar (picture-book), yang secara historis berkembang dari ilustrasi novel pada masa awal pasca-Perang Dunia II, melalui kontribusi para ilustrator seperti Charles Keeping, Shirley Hughes, hingga Quentin Blake dan Raymond Briggs, lalu bergerak ke bentuk-bentuk yang semakin eksperimental, realistis, dan bahkan gelap.

Dalam hal ini, menurut Hunt, realisme dalam sastra anak dipahami sebagai upaya merepresentasikan dunia nyata, tetapi selalu berada dalam ketegangan dengan fantasi, karena sejak abad ke-19 fantasi cenderung “ditempatkan di kamar anak-anak”, sementara realisme dianggap milik orang dewasa. Setelah 1945, fantasi sempat dominan, tetapi kemudian realisme menguat lagi, khususnya dalam sastra anak Inggris dan Amerika, dengan tema-tema yang kian keras seperti kematian, kekerasan, dan ketidakadilan sosial. Kemudian terjadi perdebatan apakah realisme benar-benar mungkin dalam fiksi, terutama karena semua narasi pada dasarnya adalah konstruksi, meskipun ada argumen bahwa realisme tetap penting untuk memperdalam pemahaman pengalaman manusia.

Realisme dalam buku anak sendiri terbagi ke dalam berbagai bentuk, yaitu realisme domestik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari (misalnya Shirley Hughes dan Ahlberg), realisme eksperimental yang mengaburkan batas fantasi dan kenyataan (Anthony Browne, David McKee), dan realisme ekstrem yang menampilkan trauma sejarah seperti Holocaust dan Hiroshima dalam bentuk picture-book.

Ketiga, penggunaan sastra anak dalam ruang kelas sejak lama dipandang sebagai sarana untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap sastra sekaligus alat untuk mentransmisikan budaya dominan. Pada tahap awal perkembangan pedagogi modern, buku anak mulai digunakan secara sistematis dalam berbagai program pendidikan, yang kemudian melahirkan karya-karya teoretis dan panduan mengajar.

Dalam praktiknya, muncul perdebatan utama antara dua pendekatan yaitu penggunaan “reading scheme” berupa teks bertahap yang terstruktur untuk mengajarkan keterampilan membaca secara sistematis, dan penggunaan “real books” yang dianggap lebih autentik dan kaya secara literer di dalam kelas. Perdebatan ini berkembang sejak kemunculan sistem bacaan bertahap pada akhir abad ke-19 yang awalnya dirancang untuk memudahkan pengajar tidak terlatih, tetapi kemudian dikritik karena dianggap mekanis, artifisial, dan membatasi pengalaman literasi anak. Di sisi lain, pendukung “real books” menekankan bahwa membaca itu berkaitan dengan pemahaman terhadap aturan, makna, dan hubungan dengan pengarang. Ketegangan ini kian tajam ketika masing-masing pihak menggunakan bahasa ideologis, yakni satu pihak menekankan efisiensi, keteraturan, dan fungsi sosial literasi, sementara pihak lain menekankan kebebasan, kreativitas, dan pengalaman estetis. Sejumlah pendekatan kompromi diusulkan, seperti gagasan program membaca yang cukup terstruktur tetapi tetap fleksibel terhadap kebutuhan anak. Penelitian pendidikan juga menunjukkan pentingnya paparan sastra sejak dini, meskipun tetap mengakui kesulitan penerapannya di kelas. Dari perdebatan tersebut, Hunt menilai di balik persoalan teknis pengajaran membaca, ada ketegangan lebih dalam tentang apakah sastra anak dipandang sebagai keterampilan kerja atau pengalaman literer.

Keempat, sastra anak sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 cenderung memisahkan dunia anak sebagai ruang “bermain” yang bebas dari kerja, sementara kerja diposisikan sebagai dunia orang dewasa atau kelas pekerja yang tidak tampak dalam narasi. Peter Hunt menunjukkan terjadinya pergeseran dari pemisahan kerja dan bermain menuju pemahaman bahwa kerja juga dapat menjadi bagian penting dari pembentukan dunia anak dalam sastra.

Kelima, motif perjalanan dan penggunaan tempat dalam sastra anak berkembang sebagai cara untuk memahami hubungan antara anak, dunia, dan identitas, baik secara harfiah maupun simbolik. Dimulai dari pandangan Robert Louis Stevenson tentang pentingnya “peta” sebagai dasar kreatif cerita, perjalanan dalam buku anak awalnya dipahami sebagai siklus eksplorasi dan kepulangan yang memberi pengalaman sekaligus rasa aman. Seiring usia pembacanya, perjalanan jadi lebih kompleks dan berubah jadi bentuk pembentukan kepribadian (Bildungsroman), sementara fantasi tetap bergantung pada realitas sebagai acuan.

Akhirnya, dalam “Conclusion: Stalking the Perfect”, Peter Hunt menyimpulkan bahwa tidak ada definisi tunggal tentang buku anak yang sempurna; yang ada adalah keragaman bentuk dan fungsi yang hanya dapat dipahami secara utuh jika dibaca dengan keterbukaan, karena justru dalam ketidakteraturan dan perbedaan itulah sastra anak mencapai kekuatannya yang paling kaya dan beragam.

Loading

Penulis: Atep KurniaEditor: Heri