Kabar  

Jejak Budaya di Kutai Barat: Menyusuri Lamin, Tempelaq, dan Blontakng dalam Syiar Literasi Forum Taman Baca Masyarakat Provinsi Kalimantan Timur

Kutai Barat — Perjalanan selama 14 jam melintasi jalan rusak dan deru truk-truk besar terbayar lunas ketika saya dan kepala bidang SDM tiba di Kutai Barat. Dalam rangkaian agenda literasi seni budaya, kunjungan ini menjadi bagian dari perjalanan empat hari untuk mendalami kearifan lokal masyarakat Dayak Benuaq.

Salah satu titik utama kunjungan adalah Lamin Pepas Eheng. Di lokasi ini, kami bersua dengan Bapak Dominicus, cucu keturunan pendiri Lamin. Ia menjelaskan bahwa Lamin bukan sekadar rumah panjang, melainkan pusat kehidupan sosial, ruang musyawarah adat, sekaligus simbol identitas komunal masyarakat Dayak.

Secara antropologis, rumah panjang seperti Lamin dipahami sebagai representasi sistem sosial yang kolektif. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat yang menyebut kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat.

Selain Lamin, rombongan juga diajak melihat Tempelaq, peti kayu tradisional untuk menyimpan tulang-belulang leluhur masyarakat Dayak Benuaq. Tempelaq digunakan dalam rangkaian ritual kematian Kwangkay, sebuah upacara sakral yang menandai penghormatan terakhir kepada leluhur sekaligus memperkuat ikatan sosial komunitas.

Dalam kajian antropologi simbolik, seperti yang dikemukakan Victor Turner, ritual kematian merupakan fase liminal, ruang transisi yang menegaskan kembali struktur dan solidaritas sosial. Praktik Kwangkay memperlihatkan bagaimana masyarakat Dayak Benuaq menjaga kesinambungan nilai leluhur melalui simbol dan ritus.

Perhatian juga tertuju pada keberadaan Blontakng yang berdiri di berbagai sudut kawasan adat. Patung kayu sakral ini bukan sekadar ornamen, melainkan simbol spiritualitas dan perlindungan adat.

Kehadiran Blontakng mempertegas bahwa seni ukir dalam tradisi Dayak memiliki dimensi religius sekaligus sosial.


Kunjungan ini menjadi refleksi bahwa pelestarian budaya tidak terlepas dari tantangan geografis dan infrastruktur. Namun, di tengah keterbatasan akses, masyarakat tetap teguh merawat warisan leluhur. Perjalanan empat hari di Kutai Barat pun menjadi momentum untuk terus mensuarakan literasi seni budaya sebagai bagian dari penguatan identitas dan keberlanjutan tradisi lokal.

Loading

Penulis: Rahmad azazi RhomantoroEditor: Heri