Ok, langsung saja, saya tidak akan menceritakan tentang keluarga Jake dan Neytiri, atau Spider. Karena ditulisan-tulisan resensi film Avatar: Fire and Ash pasti telah diceritakan.
Pertama kali saya melihat film avatar yang pertama, akhir tahun 2009, pikiran saya membayangkan kejadian di Pandora tersebut ada kesamaan dengan konteks Papua. Tanah yang indah, dipenuhi oleh mineral di dalamnya. Masyarakatnya menyatu dengan alam, melindungi alam, dan memiliki kepercayaan tersendiri. Kemudian hancur setelah mobil baja dengan roda-roda besar menghancurkan pohon besar sebagai tempat tinggal dan spiritual mereka. Mungkin itu hanya bayangan saja, atau mungkin ada kemiripan.
Pun pada filim Avatar: The Way of Water, pikiran saya membayangkan salah satu suku air yang ada di Indonesia, yaitu Suku Bajo. Suku yang bersahabat dengan laut, menjadikan laut sebagai jalan, bukan sebagai ancaman.
Uniknya, film Avatar: Fire and Ash semua klan di Pandora muncul. Termasuk klan yang paling agresif, Ash atau Mangkwan, klan yang tinggal di gunung api, memuja api, dan menolak Eywa sebagai leluhur suku Na’vi. Dan saya tidak mendapatkan konteks seperti kedua film terdahulunya dalam keindonesiaan. Artinya saya tidak dapat melihat klan Ash tersebut datang dari mana dan realitasnya seperti apa dalam konteks Indonesia.
Modern dan Tradisi
Apakah yang “modern” ini selalu baik dan berhasil? Pasti jawabannya “dalam konteks apa” modern tersebut diterapkan.
Benturan antara modern dan tradisi sebetulnya adalah kisah klasik, terus berulang dalam perkembangan dan perjalanan masyarakat. Bukan hanya pertentangan yang baru dengan yang lama, melainkan pertemua dua paradigma dalam memaknai kehidupan.
Modernitas hadir membawa perubahan cepat. Alat utama dari modern adalah teknologi dan rasionalitas. Dari keduanya memunculkan yang namanya “efisiensi” dan mungkin juga kebebasan personal atau individu.
Nilai-nilai modern mendorong supaya manusia bergerak maju, berpikir praktis, serta mengukur capaian yang nyata. Dunia menjadi serba cepat, terhubung, dan tentunya sangat terbuka terhadap hal-hal yang baru.
Pada sisi yang berbeda, tradisi lahir dan tumbuh dari pengalaman panjang sebuah komunal (komunitas masyarakat). Tradisi menyimpan nilai-nilai kearifan, kebersamaan, kesantunan, dan identitas (karakter yang kuat). Tradisi tidak hanya bergerak pada kebiasaan, akan tetapi membentuk sebuah jati diri. Pada tradisi, perubahan terjadi secara perlahan, supaya keseimbangan sosial tetap terjaga.
Benturan akan terjadi apabila modernitas dianggap mengusik nilai-nilai tradisi. Pola komunikasi, relasi antar generasi berubah, atau mungkin generasi yang akrab dengan teknologi seperti gawai dan media sosial, dipandang jauh dari norma dan adat lama. Atau sebaliknya, tradisi dianggap dapat menghambat kemajuan terlalu kaku, serta tidak relevan tuntutan zaman.
Namun akhirnya, benturan ini tidak melulu berujung pada sebuah konflik, ada beberapa yang dapat berkompromi dengan cara dialog. Hal ini mungkin dapat dikatakan dengan “tradisi yang lentur”, dapat beradaptasi dengan modern dan tidak kehilangan ruh dari tradisi tersebut. Sementara modernitas yang arif dapat belajar dari tradisi tentang makna kebersamaan, etika, dan keberlanjutan.
Maka, sebenarnya bukan bukan memilih mana yang paling benar untuk dianut, melainkan mensinergikan atau membuat jembatan yang baik untuk keduanya. Modernitas memberikan alat untuk maju, sementara tradisi menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Kembali pada konteks film Avatar: Fire and Ash. Sebut saja Kolonel Miles Quaritch dan Varang dapat menjadi simbol modern dan tradisi. Varang yang ganas dan mematikan bersenjatakan panah dan tombak diberikan senjata modern dan diajarkan cara memakainya oleh Kolonel Miles. Tentu saja varang semakin ganas. Terlebih didukung oleh kekuatan militer dari Kolonel Miles Quaritch.
Kolonel Miles Quaritch sebenarnya menjadikan Varang sebagai pion atau mungkin sekutu untuk memuluskan tujuannya, yaitu menagkap Jake dan Spider. Jake dianggap berbahaya dan Spider dapat menjadi bahan penelitian orang langit dapat hidup di Pandora tanpa memakai masker. Tujuannya tidak lain untuk mengekspoitasi alam, mengambil mineral yang tersimpan di tanah Pandora.
Jake, orang langit yang telah menjadi Na’vi tentu tidak mau alam Pandora diekspoitasi. Sebagai Toruk Makto, ia mengumpulkan semua klan untuk melawan militer dengan persenjataan modern yang akan mengekspoitasi alam Papua, eh salah maksud saya alam Pandora.
Kalau ada militer dengan persenjataan lengkap menyerang dan mengekspoitasi alam, maka ingatlah. “Toruk Makto telah memanggil kalian”. Serang dan lawan perusak alam Pandora.
Maka pada strategi militer, tidak ada dialog antara modern dan tradisi, yang ada pemanfaatan atau relasi kuasa dan tentunya perintah. Satu komando. Begitulah Kolonel Miles Quaritch yang selalu mengejar Jake.
