Ada kisah yang menarik yang diterjemahkan dari Nafhu al-Thayib oleh al-Muqri al-Til yang diterjemahkan pada bahasa Indonesia oleh Abdul Rosyad Shiddiq yang terkumpul dalam buku berjudul Humor Sufi V.
Cerita yang berjudul Memberi Buah Pala pada Orang yang Ompong saya kira masih sangat relevan dengan konteks sekarang. Terlebih ceritanya tentang buku, ilmu pengetahuan, serta orang yang memegang buku tersebut (maksud saya, buku berada di tangan siapa).
Seperti diketahui, bahwa belakangan buku memang menjadi populer dan banyak diperbincangkan. Terlebih di Indonesia buku belum terdistribusikan secara baik ke pelosok-pelosok negeri. Selain itu, banyak konten kreator membicarakan buku, diskusi-diskusi publik membahas dan membedah buku, ada pula. Yang memang hunting buku-buku untuk bahan koleksi di rumahnya. Ada juga yang kerjanya memang mengirimkan buku.
Kepopuleran buku tidak lantas kemudian asupan informasi atau makna teks dari buku tersebut terserap oleh si pemegang buku. Karena ada yang menjadikan buku sebagai bahan koleksi, ada yang mengumpulkan buku kemudian dikirim kembali, ada pembaca buku yang taat, ada yang dibuat konten, dll. seperti yang saya katakana di awal, di tangan siapa buku itu ada.
Pada cerita Buah Pala pada Orang yang Ompong kita akan merefleksikan buku sebagai sumber inteketual atau informasi yang bermutu.
Diceritakan oleh al-Haldrami:
Ketika berada di Kordoba, suatu hari aku berjalan-jalan di sebuah los pasar yang menjual buku. Aku menemukan buku yang sudah lama aku cari. Aku gembira sekali.Bahkan saking gembiranya, buku itu aku bayar lebih dari harga yang semestinya. Saat akan menyerahkan uang, tiba-tiba datang seseorang berpakaian necis langsung membayar lebih mahal lagi untuk buku tersebut. Sejenak aku terkesiap. Aku dekati dia.
“Maaf. Tuan pasti seorang ulama besar. Kalau memang sangat membutuhkan buku itu, biar untuk Tuan saja, sekalipun aku telah membayar lebih dari harganya” kataku.
“Aku bukan seorang ulama. Bahkan aku tidak banyak tahu tentang ilmu agama. Aku hanya gemar menoleksi buku-buku supaya terkesan sebagai ulama atau setidaknya orang yang terpelajar. Mengingat rak bukuku masih ada yang kosong, dan tampaknya buku ini isinya bagus, maka aku beli berapapun harganya. Syuku, Allah menganugerahkan padauk rizki yang cukup banyak, “ katanya.
Dengan kesal aku berkata:
“Baiklah, orang seperti Tuan ini memang layak mendapatkan rizki berlimpah. Tetapi Tuan tidak ubahnya orang ompong yang diberi buah pala. Biarlah, karena kemiskinan, aku gagal mendapatkan buku bermutu yang amat berguna bagiku.”
(Sumber: Kitab Nafhu al-Thayib, oleh al-Muqri al-Til)
Nah, dari cerita tersebut kita mungkin dapat merefleksikan siapa kita dan menjadi apa buku di tangan kita.
