Nalar  

Apa Pentingnya Membaca?

“Apa pentingnya membaca?” Mungkin pertanyaan seperti itu sering didapati oleh pegiat TBM.   Pertanyaan itu terlontar dari  anak-anak anggota TBM maupun dari orang tua anak. Kadang juga pertanyaan tersebut membingungkan untuk dijawab. Yang paling mudah jawabannya “supaya kita bisa pintar” atau “bertambah wawasan setelah membaca”.

Tulisan ini mungkin akan ditujukan kepada yang bertanya “Apa pentingnya membaca?” Terkhusus untuk orang tua atau siapa saja yang mengganggap bahwa membaca itu tidak penting.  

Paulo Freire, memandang membaca sebagai proses pembebasan. Freire menyatakan bahwa “reading the word cannot be separated from reading the world”. Membaca tidak hanya berarti memahami teks, tetapi juga memahami realitas sosial. Menurut Freire, masyarakat yang membaca akan lebih sadar terhadap ketidakadilan dan lebih mampu mengubah nasibnya. Dalam konteks peradaban, membaca melahirkan warga yang kritis.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa Pendidikan, termasuk membaca, harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia bagian dari anggota masyarakat. Membaca dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara bukan sekadar transfer ilmu, tetapi sarana pembentukan budi pekerti. Peradaban yang maju bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab secara moral.

Ada kajian menarik dari Jean Piaget. Piaget menjelaskan bahwa perkembangan intelektual manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan simbol dan bahasa. Membaca memperkaya struktur kognitif seseorang karena melibatkan proses berpikir abstrak, logis, dan reflektif.


Sementara itu, Lev Vygotsky menekankan peran lingkungan sosial dalam pembelajaran. Vygotsky memandang membaca sebagai aktivitas budaya yang menyebarkan nilai, norma, dan pengetahuan masyarakat. Dengan demikian, membaca bukan hanya membentuk individu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif, yang menjadikan hal ini inti dari peradaban.

Pandangan pemikir-pemikir di atas menyimpulkan satu kata kunci yaitu “peradaban”. Lalu bagaimana sebenarnya proses membaca itu membentuk atau melahirkan sebuah peradaban? Pada tulisan ini saya akan mengurai proses membaca menjadi jalan pada peradaban.

Peradaban manusia tidak lahir secara tiba-tiba, tumbuh melalui proses panjang yang ditopang oleh kemampuan manusia dalam menyerap pengetahuan, mengolah gagasan, dan menyampaikannya kembali kepada sesamanya (atau dalam konteks sosial masyarakat). Di antara semua kemampuan tersebut, membaca menempati posisi paling dasar dan paling menentukan. Membaca bukan sekadar aktivitas mengenal huruf, tetapi pintu masuk menuju cara berpikir, cara memahami realitas sosial, dan cara membangun masa depan bersama.

Membaca Dasar Pengetahuan

Membaca adalah dasar pengetahuan, dari membaca manusia memperoleh informasi, nilai, pengalaman, dan kebijaksanaan. Melalui buku, manusia belajar dari masa lalu, memahami masa kini, dan membayangkan masa depan. Pada konteks ini siapapun yang gemar membaca. cenderung lebih terbuka, kritis, dan adaptif terhadap perubahan. Sebaliknya, rendahnya budaya membaca sering kali berbanding lurus dengan lemahnya daya pikir, mudahnya penyebaran hoaks, dan rapuhnya pola dialog (musyawarah) di masyarakat.

Membaca secara alami akan bermuara pada kemampuan menulis. Seseorang yang terbiasa membaca akan menyerap kosakata, struktur kalimat, gaya bahasa, serta cara merangkai gagasan. Dari situlah kemampuan menulis tumbuh.

Menulis dapat kita ketahui menjadi proses berpikir yang terlihat atau atau dalam kata lain, menungkan gagasan (pikiran) si penulis. Maka ketika seseorang menulis, ia sedang menata logika, memilih kata, dan mempertanggungjawabkan makna. Menulis melatih ketelitian, kesabaran, dan kejujuran intelektual.

Kemampuan menulis memiliki peran penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Tulisan menjadi sarana dokumentasi pengetahuan, alat refleksi diri, sekaligus media penyampaian gagasan. Dalam konteks sosial, tulisan memungkinkan ide menyebar melampaui ruang dan waktu. Gagasan yang ditulis hari ini dapat dibaca, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Inilah sebabnya mengapa peradaban besar selalu ditandai dengan tradisi tulis yang kuat: hukum ditulis, ilmu dicatat, sejarah direkam.

Menulis Melahirkan Komunikasi yang Efektif

Menulis dapat melahirkan kemampuan berkomunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik tidak hanya soal berbicara, tetapi juga soal menyampaikan pesan dengan baik serta jelas, runtut, dan bermakna. Orang yang terbiasa membaca dan menulis umumnya lebih mampu mengemukakan pendapat secara argumentatif, mendengarkan sudut pandang lain, serta membangun dialog yang sehat. Komunikasi semacam inilah yang menjadi prasyarat bagi masyarakat demokratis dan beradab.

Nah, sobat TBM, ketika individu mampu berkomunikasi dengan baik, masyarakat pun memiliki peluang lebih besar untuk membangun peradaban. Peradaban pada dasarnya adalah kesepakatan kolektif tentang nilai, pengetahuan, dan cara hidup bersama. Kesepakatan itu hanya mungkin terwujud melalui komunikasi yang berkelanjutan dan bermakna. Tanpa tradisi baca-tulis, komunikasi menjadi dangkal. Tanpa komunikasi yang sehat, peradaban kehilangan arah.

Di sinilah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) mengambil peran strategis. TBM bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang peradaban dalam skala komunitas. TBM menghadirkan akses bacaan bagi masyarakat yang mungkin tidak terjangkau oleh perpustakaan-perpustakaan formal/perpustakaan daerah. TBM menjadi titik temu antara pengetahuan dan warga, antara buku dan kehidupan sehari-hari.

TBM sebagai penggerak budaya membaca. Melalui koleksi buku yang sesuai dengan konteks daerah, kegiatan membaca bersama, diskusi literasi, kelas menulis, hingga dongeng anak, TBM menanamkan kebiasaan membaca sejak dini dan menjaga semangat belajar sepanjang hayat.

Lebih jauh, TBM mendorong masyarakat untuk menulis dan mengekspresikan diri. Banyak TBM yang memfasilitasi pelatihan menulis, penerbitan buletin komunitas, atau dokumentasi cerita lokal. Seperti contohnya TBM yang berada di Sumedang, Jawa Barat, Panti Baca Ceria. Atau di Kampoeng Batja Jember, di Jawa Timur, Simpasio, di. NTT, dll.

Aktivitas seperti yang dilakukan oleh ketiga TBM di atas penting karena memberi ruang bagi suara masyarakat untuk diabadikan. Ketika warga menulis tentang lingkungan, sejarah kampung, atau pengalaman hidupnya, mereka sedang membangun identitas kolektif dan memperkaya khazanah pengetahuan lokal.

TBM juga menjadi ruang komunikasi sosial. Diskusi buku, bedah karya, dan forum warga yang diselenggarakan di TBM membuka dialog lintas usia, latar belakang, dan profesi. Dari komunikasi inilah lahir sikap saling menghargai, kemampuan berdialog, dan semangat gotong royong.

Dalam konteks pembangunan bangsa, TBM adalah investasi peradaban jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak selalu instan atau kasat mata, tetapi sangat fundamental. Anak yang terbiasa membaca di TBM hari ini, kelak tumbuh menjadi warga yang berpikir kritis. Remaja yang belajar menulis di TBM hari ini, kelak mampu menyuarakan gagasan untuk perubahan. Masyarakat yang terbiasa berdiskusi di TBM hari ini, kelak lebih siap menghadapi perbedaan dengan bijak.

Dengan demikian, membaca bukan sekadar aktivitas individual, melainkan gerakan sosial. Membaca melahirkan menulis, menulis memperkuat komunikasi, dan komunikasi membangun peradaban. Taman Bacaan Masyarakat berada di jantung proses ini. Ia adalah ruang kecil dengan dampak besar, tempat benih-benih peradaban ditanam, dirawat, dan diwariskan.

Memperkuat TBM berarti memperkuat masa depan. Karena di sanalah peradaban dimulai, dari satu buku, satu pembaca, satu gagasan, yang kemudian tumbuh menjadi kesadaran bersama.

Loading

Penulis: Heri Maja Kelana