Kabar  

TBM Jelajah Selindu Kolaborasi dengan KKN Literasi

Oleh. Moh. Makrus Sahlan*

SIDOARJO – Literasi tidak selalu berlangsung di ruang baca. Di tengah masyarakat, literasi dapat tumbuh dari kebun, dapur keluarga, lingkungan, hingga ruang-ruang perjumpaan warga. Semangat inilah yang dikembangkan TBM Jelajah Selindu melalui gerakan literasi berbasis dusun dengan mempertemukan pengetahuan, pengalaman masyarakat, dan pembelajaran kolaboratif.

Salah satu praktik baik tersebut terlihat dalam kolaborasi bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo. Kehadiran mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menjalankan program pengabdian, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar bersama warga RW 04 Dusun Tangunan.

Ketua KKN UMM 2026, Robi Pramudito, menjelaskan bahwa mahasiswa ditempatkan di Desa Bulang berdasarkan domisili mahasiswa di Kabupaten Sidoarjo. Setelah berinteraksi dengan masyarakat, mahasiswa menemukan sejumlah potensi lokal yang menarik untuk dikembangkan, salah satunya UMKM klepon Desa Bulang.

Selain mengenalkan potensi kuliner lokal melalui promosi dan video profil desa, mahasiswa menjalankan kegiatan penanaman cabai, tomat, dan terong bersama warga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan ketahanan pangan melalui praktik sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga.
“Proker kami tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya partisipasi dan kerja sama dari warga Desa Bulang,” ujar Robi.

Semangat kolaborasi juga hadir dalam kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan di RW 04. Berbagai perlombaan menjadi ruang perjumpaan antarwarga sekaligus memperkuat suasana guyub dan gotong royong.

Basuni, Ketua RW Dusun Tangunan, melihat kehadiran mahasiswa memberikan energi positif bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan mahasiswa mampu mencairkan suasana dan memperkuat kebersamaan warga.

“Mahasiswa KKN UMM bisa mencairkan suasana menjadi lebih guyub, rukun, penuh canda dan tawa, terutama dengan akhlak yang sopan dan santun,” ungkapnya.

Dari sisi mahasiswa perempuan, pengalaman berinteraksi dengan ibu-ibu dan anak-anak juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Zalfa Zahirah Septriasa, anggota Tim Publikasi dan Dokumentasi KKN UMM 2026, mengatakan bahwa awalnya mereka merasa canggung karena belum mengenal warga. Namun, keramahan masyarakat membuat hubungan tersebut berkembang menjadi kedekatan.

“Kami belajar bahwa kebersamaan dan gotong royong bukan hanya teori yang dipelajari di kampus, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat,” kata Zalfa.

Interaksi tersebut juga membuka pandangan mahasiswa terhadap potensi perempuan di dusun. Keterampilan, kreativitas, dan kebersamaan ibu-ibu dinilai dapat dikembangkan melalui UMKM, pengolahan pangan lokal, pemasaran digital, serta berbagai pelatihan yang mendukung kemandirian keluarga.

Bagi Moh Makrus Sahlan, penggerak literasi gizi dan ketahanan pangan sekaligus Founder TBM Jelajah Selindu, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi perlu hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca buku. Kita juga perlu belajar membaca lingkungan, membaca pangan yang kita konsumsi, membaca potensi dusun, dan membaca persoalan masyarakat. Dari sana pengetahuan dapat diubah menjadi tindakan yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan.”

Menurut Makrus, ketahanan pangan juga merupakan bagian dari literasi kehidupan. Mengenalkan anak dan keluarga pada tanaman pangan, pola konsumsi yang sehat, pemanfaatan lingkungan, serta sumber pangan lokal merupakan proses pendidikan yang dapat dilakukan secara sederhana dan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari gerakan TBM Jelajah Selindu yang mengembangkan Jelajah Dusun dan Jendela Dunia sebagai ruang belajar masyarakat. Melalui Jelajah Dusun, masyarakat diajak mengenali potensi, budaya, lingkungan, dan pengetahuan lokal. Sementara Jendela Dunia menjadi ruang untuk membawa pengalaman lokal tersebut menjadi bahan bacaan, dokumentasi, dan pembelajaran yang dapat dibagikan lebih luas.

Dalam konteks ini, mahasiswa KKN tidak ditempatkan semata-mata sebagai pelaksana program. Mereka juga menjadi pembelajar yang berhadapan langsung dengan pengetahuan masyarakat yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

“Mahasiswa datang membawa pengetahuan, tetapi mereka juga harus pulang membawa pengetahuan baru dari masyarakat. Banyak pelajaran tentang gotong royong, ketahanan pangan, lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial yang hanya bisa dipahami ketika kita benar-benar hadir dan berinteraksi dengan warga,” ujar Makrus.

Praktik di RW 04 Dusun Tangunan memperlihatkan bahwa kolaborasi literasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menanam sayuran, mengenali pangan lokal, mendokumentasikan potensi desa, bermain bersama anak-anak, berkegiatan bersama ibu-ibu, hingga menghidupkan kembali gotong royong warga.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pengabdian bukan hanya tentang berapa banyak kegiatan yang selesai, tetapi tentang apa yang tetap tumbuh setelah mahasiswa kembali ke kampus: pengetahuan, kemandirian, kepedulian, kesadaran pangan, dan gotong royong warga.

Dari dusun, literasi menemukan bentuknya yang paling dekat dengan kehidupan: membaca, mengalami, melakukan, lalu berbagi kembali kepada masyarakat.

*Pengurus PW Jawa Timur

Loading

Penulis: Moh. Makrus SahlanEditor: Heri