Oleh. Diah Masita*
Siang itu hujan sempat menyapa tanah Kendari, seolah mengantar kesejukan yang menambah keberkahan hari Jumat. Di tanah yang setengah kering itu, menapakkan langkah para pejuang literasi menuju ruang yang diharapkan mampu mengobarkan kembali api semangat juang mereka.
Semua saling sapa, setiap jabatan tangan dan senyum dilempar satu sama lain, seperti pena yang meninggalkan tulisan pada kertas. Di Rupa Coffee, tepat di hari Buruh, tidak kurang dari 20 pegiat TBM, komunitas literasi, dan sastra bersiap mengutarakan semua isi kepala dalam ruang cerita: menumbuhkan rasa dan asa literasi di Sulawesi Tenggara.
Waktu itu pun tiba, semua berbicara.
Semua mengutarakan keresahan, karena ruang itu memang dibuka dengan sangat hangat oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Bapak Hafidz Muksin.
Pembuka yang paling memukau adalah ketika beliau mengucapkan, “Pertemuan ini ada, karena literasi butuh partisipasi semesta.”
Tidak banyak kata pengantar yang beliau utarakan. Pena dan buku “sakti”-nya pun telah disiapkan, untuk mencatat tanpa cacat semua yang dianggap masalah, dan semua praktik baik, dari setiap peserta yang hadir.
Berbicara literasi memang berbicara tentang gerakan yang tidak boleh padam hanya karena sebuah keterbatasan. Oleh karena itu, semua punya tanggung jawab yang sama untuk memperjuangkan peningkatan literasi negeri ini. Para perwakilan pejuang literasi di Kendari pun berbagi cerita dengan penuh khidmat, berharap dapat terus memperoleh dukungan.
Ya, literasi memang bukan hal receh yang bisa dipandang sebelah mata, apalagi dianggap tidak penting. Justru literasi adalah nyawa dari setiap kehidupan yang lebih baik.
Sebab itu pula, para pejuangnya butuh stimulan untuk bisa tetap hidup, dan menghidupkan literasi.
Kurang lebih 120 menit, obrolan terus berlangsung. Curahan hati terus mengalir. Mulai dari cerita kegiatan komunitas yang tetap bersemangat dijalankan, hingga rasa tidak percaya akan kehadiran pemerintah dalam gerakan literasi. Sampai pada hal yang paling intim sekaligus paling inti: Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi.
Sejak diluncurkan pada 2024, program Kemendikdasmen ini selalu dinantikan kehadirannya hingga tahun ketiga ini. Namun, meski menjadi oase di tengah gurun gerakan komunitas literasi, program ini nyatanya masih menyimpan beberapa masalah yang seolah tidak mampu sepenuhnya melepas dahaga, karena urusan administrasi.
Kehadiran Bapak Hafidz Muksin memang bertujuan mencari solusi bersama. Dan akhirnya, satu per satu masalah yang diungkapkan menemukan titik terang, terutama soal administrasi yang selama ini menjadi ganjalan.
Kesulitan mendapatkan tanda tangan pejabat kelurahan menemukan jalan keluarnya melalui surat pengantar resmi, atau surat keterangan dari Balai Bahasa yang menyatakan bahwa komunitas bersangkutan telah terdata resmi sebagai komunitas binaan.
Diharapkan, surat keterangan tersebut dapat memudahkan seluruh komunitas mendapatkan legalitas yang dipersyaratkan untuk memperoleh Bantuan Pemerintah (Banpem).
Begitu pula syarat-syarat administrasi lainnya: NPWP dan rekening bank. Kepala Balai Bahasa Sultra menerima “PR” baru, yaitu memfasilitasi pertemuan komunitas literasi bersama kantor pajak dan bank Himbara, demi memudahkan pengurusan NPWP dan rekening komunitas.
Tepuk tangan bergemuruh. Tanda bahwa satu per satu persoalan telah menemukan jalan keluarnya.
Sinergi, kolaborasi, komunikasi, dan silaturahmi harus terus dirawat antara pegiat literasi dan pemerintah. Di ruang diskusi itu, kembali disepakati dan disadari: literasi adalah masalah bersama yang solusinya pun harus didudukkan bersama.
Karena mencerdaskan kehidupan bangsa bukan tanggung jawab satu pihak saja,
ia adalah amanah bersama.
*Ketua Forum TBM Sulawesi Tenggara
