Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan duka mendalam. Rumah hanyut, akses terputus, listrik padam, perekonomian lumpuh, dan trauma membekas, terutama pada anak-anak. Di tengah situasi ini, bantuan tidak selalu datang pertama dari luar. Justru korbanlah yang sering kali lebih dulu menolong korban lainnya.
Realitas inilah yang menjadi fokus SAPA TBM Forum TBM, melalui wawancara via Instagram Live bersama Ita Khairani, Founder Rumah Baca Saleum Cahaya, dengan Kang Opik, Ketua Umum Forum TBM, sebagai pemandu diskusi. Seluruh informasi dalam artikel ini bersumber dari hasil wawancara SAPA TBM tanggal 1 Januari 2026 pukul 16.00-17.00 WIB. Tanya Jawab Live ini khusus membahas praktik nyata korban bantu korban di wilayah terdampak banjir.
Profil Rumah Baca Saleum Cahaya
Rumah Baca Saleum Cahaya berdiri sejak 2019 di Aceh. “Saleum” dalam bahasa Aceh berarti salam. Sebuah simbol keterbukaan dan kebersamaan. Selama enam tahun, TBM ini fokus mendampingi anak-anak melalui kegiatan membaca, bermain, dan belajar bersama.
Dukungan 1.000 buku dari Perpusnas menjadi kekuatan penting. Anak-anak tertarik pada buku bergambar penuh warna. Minat baca meningkat, meski fasilitas masih terbatas. Bahkan ketika TBM tutup, anak-anak tetap datang dan bertanya kapan TBM bisa buka lagi. Di titik ini, TBM bukan sekadar ruang buku, tetapi ruang aman dan ruang harapan.
Ketika Banjir Bandang Melanda
Ketika Banjir Bandang Melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat melanda, beberapa rumah relawan Rumah Baca Saleum Cahaya ikut terendam banjir juga. Sejak 26 November 2025, akses antar wilayah terputus dan listrik padam total. Masyarakat sekitar Rumah Baca Saleum Cahaya yang berlokasi di dusun Dulhok Gampong Jalan Kecamatan Idi Rayeuk kabupaten Aceh Timur, memang tidak terdampak secara langsung, tapi mereka telah menyaksikan sendiri derasnya air yang membawa rumah-rumah hanyut. Dari atas jembatan yang posisinya tinggi, air terlihat melimpah dan arusnya sangat kuat.
Kak Ita dan Relawan Rumah Baca Saleum Cahaya lainnya yang berada di luar wilayah banjir mengira dampak hanya terjadi di daerah mereka. Namun kenyataannya, ada wilayah lain di Aceh yang kondisinya jauh lebih parah. Air yang datang dalam jumlah besar meninggalkan lumpur tebal. Warga terkurung di rumah tanpa cukup bahan makanan. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidak bisa keluar karena air belum surut.
Pasca Banjir surut, Ita berusaha mencari anaknya yang juga menjadi relawan dan terjebak di lokasi bencana. Perjalanan dari Idie menuju Langsa berubah seperti lautan. Situasi mencekam. Orang tua berkumpul mencari anak-anak mereka yang kuliah di luar kota. Sebagian harus menumpang perahu untuk mencari anggota keluarga di daerah terdampak banjir. Komunikasi terputus berhari-hari.
Saat itu, pasokan makanan sangat terbatas dan roda perekonomian lumpuh total. Warga yang berada di dataran lebih tinggi hanya bisa bertahan dengan apa yang ada.
Kini kondisi mulai berangsur pulih. Pasar sudah kembali buka, meski barang dagangan masih sangat terbatas. Warga berupaya membersihkan rumah masing-masing, tetapi keterbatasan alat menjadi kendala besar. Beberapa rumah longsor dan tidak lagi layak huni. Ada pula rumah yang tertancap pohon besar di dalamnya, sehingga membutuhkan alat berat untuk evakuasi.
Hingga kini, alat berat belum sepenuhnya masuk karena diprioritaskan untuk wilayah dengan dampak yang dianggap lebih parah. Dari luar, kondisi tampak mulai normal. Namun dibalik itu, trauma dan tekanan psikologis warga belum sepenuhnya pulih pascabencana.
Pasca Banjir Bandang, Dari Bantuan Dasar hingga Layanan Psikososial
Sejak 26 November 2025, banjir bandang memutus akses, memadamkan listrik selama lebih dari seminggu, dan merendam rumah-rumah warga. Begitu listrik menyala pada 4 Desember, Ita dan tim mulai bergerak. Galang dana dilakukan secara sederhana, awal atas nama keluarga, kemudian atas nama TBM. Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan: air bersih, beras, mi, dan kebutuhan dasar lainnya.
Distribusi tidak mudah. Jarak tempuh dari Rumah Baca Saleum Cahaya ke Aceh Tamiang sekitar 2,5 jam. Di sana, kebutuhan paling mendesak justru air bersih. Total lebih dari 60.000 liter air berhasil disalurkan. Ita membawa bahan makanan seadanya, sesuai kemampuan yang ada. Bantuan pertama disalurkan kepada keluarga, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat sekitar.
Kondisi di lapangan tidak hanya dipenuhi lumpur, tetapi juga kerusakan rumah yang cukup parah. Di Aceh Tamiang, bencana tidak berhenti pada banjir bandang. Pada hari Rabu, wilayah ini juga diterjang angin kencang. Pohon-pohon tumbang di berbagai titik, menyebabkan kemacetan panjang di jalan raya dan memperlambat proses distribusi bantuan.
Artinya, warga Aceh Tamiang tidak hanya menghadapi banjir, tetapi juga dampak angin kencang yang menyerupai tornado. Setelah air surut, lumpur tebal tertinggal di dalam rumah-rumah warga, menambah berat proses pemulihan.
Saat penyaluran bantuan, kondisi di lapangan tidak seperti yang banyak diberitakan. Ketika donasi diantarkan, warga justru perlu dipanggil terlebih dahulu agar mau mengambil bantuan. Situasi berlangsung tertib dan aman, tidak seperti isu yang beredar sebelumnya. Penyaluran bantuan dilakukan pada tanggal 5 Desember, sementara kondisi sebelum waktu tersebut tidak sepenuhnya diketahui oleh Ita dan tim.
Selain bantuan fisik, Rumah Baca Saleum Cahaya juga menghadirkan layanan psikososial. Anak-anak diajak bermain, membaca nyaring, dan berdiskusi sederhana tentang bencana. Edukasi ini membantu anak memahami apa yang terjadi, sekaligus mengalihkan mereka dari kebiasaan turun ke jalan dan menadahkan tangan pascabencana.
Perlu diketahui, Pasca bencana ternyata banyak anak-anak yang berada di jalanan dan menadahkan tangan dengan harapan setiap orang yang lewat memberikan bantuan. Situasi ini perlahan menjadi kebiasaan yang berisiko membentuk ketergantungan, terutama di tengah kondisi pascabencana yang belum pulih. Psikososial teramat sangat diperlukan.
Relawan Rumah Baca Saleum Cahaya sendiri dibagi perannya. Ada yang distribusi logistik pembagian air, pendampingan anak, dan koordinasi lapangan. Tidak semua relawan bisa hadir setiap hari. Jeda diperlukan agar relawan tidak ikut runtuh secara emosional. Karena kondisi lapangan yang benar-benar memprihatinkan, situasi pasca bencana membuat kondisi mental relawan terdampak juga. Tak jarang justru para korban yang menguatkan para relawan, dengan bilang kami tidak apa-apa, kami baik-baik saja. Tidak perlu ditangisi.
Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Hampir 98 persen desa terdampak. Tidak hanya banjir, tetapi juga angin kencang yang merobohkan pohon-pohon besar. Lumpur tebal menutup rumah, sekolah, dan jalan. Banyak rumah tidak lagi layak huni. Alat berat belum sepenuhnya masuk karena prioritas wilayah lain.
Aceh Timur bahkan lebih memprihatinkan. Beberapa desa masih terisolasi dan belum banyak terekspos media karena lokasinya di pedalaman. Medan yang berat dan berisiko membuat relawan harus sangat selektif. Bahkan, terdapat relawan yang meninggal dunia dalam proses bantuan ke Aceh Timur ini.
Makna Korban Bantu Korban
Dalam praktiknya, korban tidak pernah benar-benar pasif. Saat distribusi air dilakukan, warga terdampak justru memfasilitasi akses dan membantu relawan. Relawan dari luar Aceh hadir membawa titipan bantuan, sementara warga setempat yang juga korban menjadi penghubung utama di lapangan.
Di sinilah makna korban bantu korban menjadi nyata. Bukan romantisasi penderitaan, melainkan solidaritas yang lahir dari situasi paling sulit. Tidak ada seremonial. Yang ada adalah keikhlasan, keberanian, dan kemauan untuk tetap bergerak meski diri sendiri belum pulih.
Peran TBM di Luar Aceh: Menjadi Corong Informasi yang Bertanggung Jawab
Berdasarkan hasil wawancara SAPA TBM, salah satu kebutuhan mendesak pascabencana bukan hanya bantuan fisik, tetapi informasi yang benar, terkonfirmasi, dan tidak menyesatkan. Di sinilah TBM-TBM di luar Aceh memiliki peran strategis dimana TBM dapat menjadi corong informasi alternatif. Bukan mencari sensasional, bukan provokatif, dan tidak ikut memperkeruh situasi.
Peran konkret yang dapat dilakukan TBM di luar Aceh antara lain:
1. Menyaring dan mengonfirmasi informasi
TBM tidak harus menjadi yang tercepat, tetapi harus menjadi yang paling bertanggung jawab. Informasi tentang kondisi lapangan, banjir susulan, atau kebutuhan bantuan perlu dikonfirmasi langsung kepada jejaring di lapangan agar tidak menimbulkan kepanikan baru.
2. Menyebarkan informasi berbasis kesaksian lapangan.
Informasi yang dibagikan sebaiknya bersumber dari relawan, pengelola TBM setempat, atau warga terdampak.
3. Menggunakan media sosial TBM sebagai media edukatif
Meski pengikut terbatas, akun TBM tetap memiliki daya pengaruh. Unggahan yang konsisten dan akurat tentang kondisi riil, kebutuhan mendesak, dan klarifikasi hoaks justru sangat dibutuhkan.
4. Menguatkan literasi kebencanaan
TBM dapat mengemas edukasi kebencanaan dengan bahasa sederhana: penyebab banjir, dampak kerusakan lingkungan, dan pentingnya regulasi yang berpihak pada alam.
5. Melakukan dokumentasi sebagai arsip sosial
Dokumentasi TBM bukan untuk sensasi, tetapi untuk ingatan kolektif. Arsip ini penting sebagai bahan refleksi, advokasi, dan pembelajaran agar bencana tidak terus berulang.
Empati tanpa informasi yang benar bisa menyesatkan. Informasi tanpa empati hanya akan menambah luka.
TBM sebagai Gerakan Sosial
Apa yang disampaikan dalam SAPA TBM ini menegaskan bahwa TBM bukan hanya tentang buku dan budaya baca. TBM adalah gerakan sosial. Di saat krisis, TBM bisa menjadi ruang edukasi, pemulihan trauma, sekaligus penjaga kewarasan publik melalui informasi yang jernih dan berpihak pada korban. Karena di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk saling menguatkan. Dan dari sana, harapan tetap bisa tumbuh.
![]()












