Kabar  

Ketika Pustaka Hanyut, Harapan Tetap Bertahan

Banjir yang melanda Provinsi Aceh di akhir tahun 2025 bukan sekadar kabar musiman. Air datang lebih tinggi dari biasanya. Lebih deras. Lebih lama. Rumah-rumah terendam, halaman tertutup lumpur, dan berbagai aktivitas harian lumpuh seketika. Bahkan ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat bertumbuh dan belajar pun tak luput dari sapuan air. Air tidak hanya membawa lumpur. Ia juga merenggut ruang yang menjadi rumah bagi mimpi-mimpi kecil: pustaka.

Dalam kegiatan SAPA TBM Episode #5 yang diselenggarakan oleh Forum TBM dan disiarkan langsung melalui Instagram @forum_tbm pada Kamis, 19 Februari 2026 pukul 16.00–17.00 WIB, hadir Kak Putri Handayani, Guru Impian dari Pustaka Kampung Impian, sebagai narasumber. Dialog tersebut dipandu oleh Kak Heri Djunaeri, Kepala Bidang Infokom PP Forum TBM, sebagai moderator.

Di tengah perbincangan yang mengharukan sekaligus menguatkan, Kak Putri membagikan kisah tentang harapan, pelajaran hidup, kekuatan, dan kebersamaan saat musibah datang melanda.

Sebagai pembuka, Kak Putri menuturkan bahwa banjir yang melanda wilayah Aceh saat itu dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbesar. Listrik terputus. Akses komunikasi terhambat. Beberapa relawan pun turut terdampak sehingga koordinasi menjadi sulit.

Meski demikian, Kak Putri bersama relawan Pustaka Kampung Impian tetap bergerak. Mereka turun langsung ke lokasi terdampak, salah satunya di Pidie Jaya, daerah yang mengalami dampak cukup parah. Perjalanan tidak mudah. Akses terbatas. Namun, segala upaya tetap dimaksimalkan.

Dalam kondisi darurat, para relawan menghadirkan peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebisa mungkin. Setelah keadaan mulai membaik, mereka kembali berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak. Sebuah ruang belajar yang sederhana, tetapi penuh makna.

Akhirnya, kegiatan pun dapat dilaksanakan. Setiap hari, selama dua jam, anak-anak kembali berkumpul. Dua puluh menit pertama digunakan untuk membuka lapak baca. Buku-buku dibentangkan agar bisa dinikmati bersama. Setelah itu, anak-anak diajak menulis untuk melatih keterampilan mereka. Sebagian belajar membuat gantungan kunci. Berbagai aktivitas produktif dilakukan agar mereka perlahan melupakan trauma yang dialami. Kegiatan ini menjadi media trauma healing yang nyata.

Kabar baiknya, antusiasme anak-anak sangat tinggi. Sekitar 100 anak hadir setiap harinya, meski hanya didampingi lima relawan. Tanpa mikrofon, para relawan agak kesulitan karena harus berbicara lantang agar terdengar oleh semua. Lelah tentu ada. Namun semangat tumbuh dari senyum bahagia anak-anak.

Untuk mengatasi keterbatasan, anak-anak dibagi berdasarkan jenjang kelas. Mereka menulis harapan, berbagi impian, bermain game edukatif, dan membaca bersama.

Ada satu kisah yang begitu membekas. Saat diminta menuliskan harapan, seorang anak kelas 2 SD menulis, “Semoga orang kampung menjadi orang yang baik. Semoga orang-orang menjadi baik.”

Kak Putri tersentuh membacanya. Ia lalu bertanya, “Apakah teman-teman di sini baik-baik semua?”

Anak itu menjawab, “Ya, semua teman di sini baik. Tapi aku mau semua orang berperilaku baik.”

Dari ruang sederhana itu, lahir suara hati yang jujur dan tulus.

Bagi Kak Putri, ruang aman bukan sekadar tempat berkegiatan. Ruang aman adalah tempat anak-anak tetap merasa nyaman meski sedang berada dalam kesulitan. Tempat mereka tetap merasa bisa belajar, bermimpi, dan berharap.

Cerita ini tidak hanya menggerakkan hati para relawan. Para penonton siaran langsung pun turut merasakan refleksi mendalam. Karena itulah, Kak Heri Djunaeri menyampaikan harapan agar tulisan-tulisan anak tersebut dapat diabadikan menjadi dokumentasi,sebuah catatan yang bisa dibaca dan dikenang di kemudian hari.

Saran tersebut disambut baik oleh Kak Putri. Ia juga memperkenalkan program Festival Pustaka Kampung Impian, sebuah pameran karya yang terbuka untuk umum. Dalam kegiatan itu, berbagai cerita dan karya dari desa dipamerkan sebagai bentuk keberlanjutan semangat literasi.

Di akhir sesi, Kak Heri kembali menggali pelajaran berharga dari pengalaman tersebut. Kak Putri menceritakan peristiwa yang menyentuh hatinya: seorang ibu duduk termenung di bawah pohon jambu, memandangi rumahnya yang tenggelam. Ketika relawan datang, ibu itu justru menyambut mereka dengan hangat. Ia mempersilakan duduk dan menyuguhkan buah jambu dari pohon yang masih tersisa.Di tengah kehilangan, ia tetap berbagi.

Kegiatan ditutup dengan pesan yang kuat dari Kak Putri untuk seluruh pegiat TBM di mana pun berada:

“Apapun yang kita alami, kita harus tetap ambil peran sekecil apapun. Meski hanya membagikan cerita dari lapangan. Kita perlu merawat solidaritas dan kebersamaan. Kita harus menjadi manusia yang lebih peka. Jika ada yang tidak nyaman, kita bisa menyadarinya. Ruang lingkup TBM mungkin kecil, tetapi ruang kecil itu harus kita maksimalkan dengan cara terbaik.”

Ketika pustaka hanyut, harapan tetap bertahan. Dan dari ruang sederhana itulah, masa depan kembali disemai.

Loading

Penulis: Yunita Nurmalasari Editor: Munasyaroh