Kabar  

Kenduri Literasi Metro Dorong Penguatan Ekosistem Literasi dan Lahirkan Antologi Cerpen Peta yang Hilang

Oleh. Raditio Wahid*

Metro, Lampung — Saung Baca Ruang Pojok Nusantara menggelar Diseminasi Kenduri Literasi Metro pada 27 September 2026 di Sekretariat Saung Baca Ruang Pojok Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang bincang karya sekaligus apresiasi bagi para pegiat literasi dan penulis yang terlibat dalam proses lahirnya antologi cerpen Peta yang Hilang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Erwin Wibowo, S.S., M.Pd., selaku Ketua Tim KKLP Balai Bahasa Provinsi Lampung; Eka Syafrianto, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca; para pegiat literasi dari unsur TBM, komunitas literasi, perpustakaan kelurahan, dan OPD; serta para penulis antologi Peta yang Hilang. Dalam sambutannya, Eka Syafrianto mengatakan bahwa pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak tanpa dukungan komunitas. Ia menilai dukungan komunitas telah turut mendorong pertumbuhan dan perkembangan literasi di Kota Metro. “Tanpa dukungan komunitas, pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak. Justru karena dukungan dari komunitas, Kota Metro semakin tumbuh dan berkembang dalam bidang literasi. Kami sangat mengapresiasi terbitnya buku ini,” ujar Eka.

Erwin Wibowo kemudian membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi kepada Saung Baca Ruang Pojok Nusantara yang telah mempersiapkan kegiatan secara maksimal, terlebih rangkaian kegiatan tersebut berlangsung secara maraton sejak Agustus hingga September. “Kami mengapresiasi usaha Saung Baca Ruang Pojok Nusantara yang telah mempersiapkan kegiatan ini secara maksimal. Kegiatan yang berlangsung secara maraton sejak Agustus hingga sekarang tentu membutuhkan kerja keras, dan kami sangat bergembira serta mengapresiasi terbitnya buku ini,” ujar Erwin.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Haul Sastra yang dipimpin oleh Toni Wijaya. Dalam suasana khusyuk, para peserta mengirimkan doa dan penghormatan kepada para sastrawan pendahulu Lampung, yakni Rifian Hadi Al Chepy, Syaiful Irba Tanpaka, Ahmad Yulden Erwin, Abdul Rouf, dan An. Zulkarnain, sebagai bentuk penghargaan atas jejak, karya, dan kontribusi mereka dalam perjalanan perkembangan sastra di Lampung. Setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, Erwin Wibowo menutup secara resmi seluruh rangkaian kegiatan Kenduri Literasi Metro 2026. Diseminasi menjadi bagian penting dari rangkaian Kenduri Literasi Metro 2026 karena tidak hanya menjadi momentum untuk memperkenalkan karya, tetapi juga menghadirkan ruang dialog mengenai perkembangan ekosistem literasi, sejarah dan sastra Kota Metro, proses kreatif kepenulisan, hingga upaya merawat bahasa dari perspektif Islam.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan empat narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang beragam. Keempatnya memberikan pandangan yang saling melengkapi mengenai literasi dan karya sastra.
Narasumber pertama, Solikhul Hadi dari Forum TBM Lampung, menyampaikan materi mengenai ekosistem literasi di Kota Metro.

Dalam pemaparannya, pembahasan diarahkan pada pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan berbagai unsur literasi untuk saling terhubung dan berkolaborasi. Komunitas literasi, taman bacaan masyarakat, lembaga pendidikan, penulis, serta berbagai pihak lainnya memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan gerakan literasi.

Pembahasan mengenai ekosistem literasi menjadi relevan karena perkembangan literasi tidak dapat hanya bertumpu pada satu komunitas. Diperlukan jejaring, kolaborasi, serta ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan para pegiat literasi saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Kenduri Literasi Metro menjadi salah satu ruang perjumpaan tersebut, sekaligus mempertemukan para pegiat literasi dengan para penulis dan pemerhati sastra.
Perspektif berbeda disampaikan oleh Ahmad Muzakki, seorang akademisi sekaligus sastrawan. Ia membahas genealogi Metro dari sudut pandang sastra.
Melalui perspektif sastra, Kota Metro tidak hanya dipandang sebagai sebuah wilayah administratif, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan pengalaman, ingatan, cerita, dan berbagai dinamika kehidupan masyarakat. Sastra dapat menjadi salah satu cara untuk membaca kembali sebuah kota melalui pengalaman manusia yang hidup di dalamnya.

Pembahasan tersebut memberikan perspektif kepada peserta bahwa karya sastra dapat menjadi medium untuk merekam berbagai sisi kehidupan dan perjalanan sebuah daerah. Kota, dengan segala sejarah dan perubahan sosialnya, dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis bagi seorang penulis.

Bagi para penulis Peta yang Hilang, pembahasan tersebut juga menjadi ruang refleksi bahwa karya yang mereka hasilkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi kultural yang merekam pengalaman dan imajinasi masyarakat pada suatu masa.
Narasumber ketiga, Hario Yodho Negoro, yang berperan sebagai penyelia naskah antologi Peta yang Hilang, memberikan apresiasi kepada para penulis yang telah berproses hingga menghasilkan karya bersama.

Ia menyampaikan bahwa keberanian untuk menulis dan menyelesaikan sebuah karya merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang penulis. Namun, menghasilkan karya sastra yang kuat membutuhkan proses yang panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan.
Para penulis perlu terus berlatih, membaca, melakukan pengamatan, serta memperkaya referensi. Semakin banyak membaca, semakin luas pula pengalaman dan referensi yang dapat digunakan untuk membangun sebuah karya.

Pesan tersebut menjadi penyemangat bagi para penulis Peta yang Hilang untuk tidak berhenti setelah menghasilkan karya pertama. Antologi yang telah diterbitkan bukan menjadi akhir dari proses, melainkan salah satu titik awal untuk terus menulis dan mengembangkan kemampuan kepenulisan.

Apresiasi yang diberikan Hario juga menjadi pengingat bahwa setiap karya memiliki proses panjang di belakangnya. Ada proses menemukan ide, menulis, membaca ulang, melakukan penyuntingan, menerima masukan, hingga akhirnya karya dapat dibaca oleh publik.

Sementara itu, narasumber keempat, Toni Wijaya, Ketua LESBUMI NU Kota Metro, membahas tema merawat bahasa dari sudut pandang Islam.
Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam penggunaannya. Karena itu, seorang penulis perlu memperhatikan bagaimana bahasa digunakan agar gagasan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan makna yang keliru.
Dalam konteks kepenulisan, Toni menekankan pentingnya memahami tata bahasa yang baik dan benar. Kemampuan menghasilkan karya tidak hanya ditentukan oleh gagasan, tetapi juga oleh kemampuan penulis dalam mengolah bahasa.

Pembahasan tersebut memberikan penguatan kepada para penulis bahwa proses kreatif perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berbahasa. Gagasan yang baik akan semakin kuat apabila disampaikan melalui bahasa yang tepat, jelas, dan mudah dipahami.

Dari perspektif Islam, merawat bahasa juga dapat dipahami sebagai bagian dari menjaga perkataan dan tulisan agar tetap membawa kemaslahatan. Karena itu, aktivitas menulis tidak hanya berkaitan dengan kreativitas, tetapi juga dengan tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan kepada pembaca.

Salah satu bagian penting dalam Diseminasi Kenduri Literasi Metro adalah keberadaan antologi cerpen Peta yang Hilang. Buku tersebut merupakan kumpulan karya yang lahir dari rangkaian Ngaji Bahasa, salah satu agenda dalam Kenduri Literasi Metro 2026.

Antologi ini menjadi bukti bahwa kegiatan literasi dapat diarahkan tidak hanya pada aktivitas membaca, tetapi juga pada proses menciptakan karya. Para peserta mendapatkan ruang untuk belajar, mengembangkan ide, menulis, mendapatkan masukan, dan pada akhirnya menghasilkan karya yang terdokumentasi dalam sebuah buku.

Kehadiran para penulis dalam kegiatan diseminasi juga memberikan kesempatan untuk merayakan proses tersebut. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta kegiatan literasi, tetapi sebagai orang-orang yang telah meninggalkan jejak karya melalui tulisan.

Diseminasi Kenduri Literasi Metro kemudian menjadi ruang untuk melihat karya dari berbagai sudut pandang. Dari ekosistem literasi, genealogi kota dalam perspektif sastra, proses kreatif kepenulisan, hingga tanggung jawab dalam merawat bahasa.

Diseminasi Kenduri Literasi Metro memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh melalui ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan pembaca, penulis, pegiat literasi, akademisi, dan pemerhati kebudayaan.
Melalui kegiatan tersebut, Saung Baca Ruang Pojok Nusantara tidak hanya menghadirkan kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai bagaimana literasi dapat dirawat dan dikembangkan di Kota Metro.

Antologi Peta yang Hilang menjadi salah satu hasil nyata dari proses tersebut. Di balik buku itu terdapat proses belajar, membaca, menulis, berdiskusi, menyunting, dan keberanian untuk mempublikasikan karya.

Pada akhirnya, Kenduri Literasi Metro bukan sekadar rangkaian kegiatan, tetapi sebuah upaya untuk membangun tradisi literasi yang mempertemukan gagasan, bahasa, sastra, dan karya. Dari ruang kecil di Sekretariat Saung Baca Ruang Pojok Nusantara, lahir perbincangan dan karya yang diharapkan dapat terus tumbuh menjadi bagian dari perjalanan literasi Kota Metro.

*pengelola Saung Baca Ruang Pojok

Penulis: Raditio WahidEditor: Heri
Exit mobile version