Kabar  

Play On Anak Krian Edisi 3, Buka Ruang bagi Anak untuk Mengenali Potensi dan Mengembangkan Bakat

Oleh, Moh. Makrus Sahlan

Setiap anak membutuhkan ruang untuk mencoba, berekspresi, dan mengenali potensi dirinya. Semangat inilah yang dihadirkan dalam kegiatan Play On Anak Krian Edisi 3 bertema “Kenali Potensimu, Tumbuhkan Bakatmu”, yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di fasilitas umum RT Kelurahan Krian dan kawasan Masjid Manarul Iman.

Diinisiasi bersama Jelajah Selindu dan Takmir Masjid Manarul Iman Krian, kegiatan ini menghadirkan lima ruang eksplorasi bagi anak, yakni Creative Corner, Story & Speaking, Nature & Green, Problem Solver, dan Performance. Melalui kegiatan bermain, berkarya, bercerita, hingga berkolaborasi, anak-anak diajak mencoba pengalaman baru sekaligus mengembangkan kemampuan di luar rutinitas belajar formal.

Play On Anak Krian juga hadir sebagai salah satu upaya menghadirkan alternatif kegiatan edukatif di tengah kebiasaan anak yang semakin banyak menghabiskan waktu dengan gawai. Melalui interaksi langsung dan aktivitas yang menyenangkan, kegiatan ini mendorong tumbuhnya kreativitas, simpati, empati, serta kemampuan bersosialisasi.

Mengajak Anak Keluar Rumah, Menemukan Pengalaman Baru

Di balik kegiatan tersebut, ada tantangan tersendiri yang dihadapi panitia, yaitu mengajak anak-anak datang pada Minggu pagi. Ketika sebagian anak masih menikmati waktu libur dengan tidur lebih lama, panitia berinisiatif mendatangi rumah mereka, membangunkan dengan penuh kasih sayang, dan membujuk mereka agar bersedia mengikuti kegiatan.

Fatimahtush Lembayun Sadiah, yang akrab disapa Bunda Ayun, mengatakan bahwa kepedulian terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak menjadi alasan utama untuk terus menggerakkan kegiatan ini.

“Karena mereka generasi masa depan penerus bangsa, siapa lagi kalau bukan kita yang peduli akan pendidikan dan tumbuh kembang mereka, selain kita yang memang peduli dengan dunia sosial dan literasi,” ungkap Bunda Ayun.

Ia berharap Play On Anak Krian dapat diselenggarakan secara rutin, menjangkau lebih banyak peserta, dan dipublikasikan secara lebih luas agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.

Belajar Tanpa Merasa Terbebani

Manfaat kegiatan ini juga dirasakan oleh para orang tua. Inka Santosa, orang tua Qisha, menilai Play On Anak Krian memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan minat dan mencoba hal baru tanpa tekanan.

“Anak-anak bisa belajar sambil bermain, ketemu teman baru, dan mencoba hal baru tanpa merasa terbebani,” tuturnya.

Menurut Inka, kegiatan serupa perlu terus dikembangkan dengan menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari seni dan literasi hingga eksperimen dan eksplorasi alam. Dengan begitu, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenali hal-hal yang mereka sukai sekaligus mengembangkan keterampilannya.

Pengalaman berkesan juga dirasakan Qisha Mutiara Syafia, pengisi sesi Public Speaking dan Cerita. Baginya, melihat anak-anak tertawa dan tersenyum bahagia menjadi pengalaman yang membekas sekaligus motivasi untuk terus berbagi.

“Banyak yang saya buat tertawa dan tersenyum gembira, dan itu motivasi besar bagi saya,” ungkapnya.

Qisha berpesan agar anak-anak tidak mudah menyerah ketika merasa gugup atau kurang percaya diri. Menurutnya, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

“Jangan menyerah dan sebarkan senyuman ke orang lain meskipun itu terlihat susah,” pesannya.

Pesan serupa disampaikan Khayra Drey Shaazia Hidayatullah, pengisi sesi Performance. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba dan menunjukkan kemampuan diri.

“Jangan takut mencoba dan teruslah percaya pada kemampuan diri sendiri,” pesannya kepada anak-anak.

Ruang Tumbuh yang Membutuhkan Pendampingan

Bagi orang tua, kegiatan seperti Play On Anak Krian bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi anak untuk bersosialisasi, bereksplorasi, dan mengaktualisasikan potensinya.

Reyni, salah satu orang tua peserta, menilai anak membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan orang lain sekaligus mengenali kemampuan dirinya.

Sementara itu, Kholidiyah Budiasri Azmah, orang tua Ardhani Hafizh Cahya Pradipta, mengingatkan bahwa perkembangan anak membutuhkan proses yang berkelanjutan. Koordinasi yang baik di antara para pendamping serta kesempatan bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan tampil secara individu juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan kegiatan anak tidak cukup diukur dari kemeriahan acara. Kualitas pendampingan, keleluasaan untuk bereksplorasi, dan keberlanjutan program turut menentukan manfaat yang dapat dirasakan anak.

Play On Anak Krian diharapkan dapat berkembang menjadi ruang tumbuh yang konsisten, tempat anak belajar mengenali minat, mengasah keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Anak ini bisa apa?”, melainkan, “Ruang apa yang sudah kita sediakan agar anak berani mencoba dan menemukan kemampuannya?”

Orang tua dapat memberikan kepercayaan, sekolah membuka kesempatan, komunitas bergerak bersama, dan pemerintah memperkuat dukungan. Sebab, masa depan anak tidak tumbuh dari nasihat semata, tetapi juga dari kesempatan nyata yang mereka peroleh hari ini.

Play On Anak Krian adalah langkah awal. Agar dampaknya semakin luas, gerakan ini perlu terus dilanjutkan melalui pendampingan yang konsisten dan kolaborasi berbagai pihak. Dengan menyediakan ruang yang aman, menyenangkan, dan terbuka bagi setiap anak, kita turut membantu mereka menumbuhkan potensi menjadi bekal untuk masa depan Krian.

Penulis: Moh. Makrus SahlanEditor: Heri
Exit mobile version