Oleh. Hasan Achari*
BUKITTINGGI — Ada satu pertanyaan yang paling dinanti para pegiat literasi dalam Dialog Program Gerakan Literasi di Bukittinggi: apakah program bantuan 1.000 buku akan kembali bergulir?
Pertanyaan itu mengemuka dalam dialog yang digelar Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumatera Barat bersama Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Sumatera Barat dalam rangka Pekan Literasi Bung Hatta 2026, Minggu (9/8/2026).
Bertempat di Aula UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, dialog berlangsung selama sekitar dua setengah jam. Sebanyak 35 pengurus TBM dan pegiat literasi dari berbagai daerah hadir dan berdialog langsung dengan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Prof. E. Aminudin Aziz, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat Jumaidi, serta Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Hatta Leksi Hedrifa.
Sebanyak delapan perwakilan peserta mendapat kesempatan menyampaikan pengalaman, tantangan, sekaligus gagasan tentang bagaimana gerakan literasi terus tumbuh di akar rumput.
Dalam dialog tersebut, keberlanjutan program bantuan 1.000 buku menjadi salah satu perhatian utama. Program yang dihentikan pada 2026 sebagai bagian dari kebijakan efisiensi anggaran itu dinilai telah memberi dorongan bagi tumbuhnya gerakan TBM di berbagai daerah.

Ketua Forum TBM Sumatera Barat Hasan Achari Harahap menyampaikan, saat ini terdapat 210 TBM yang tergabung dalam Forum TBM Sumbar. Menurutnya, dukungan pemerintah tidak hanya menambah koleksi bacaan, tetapi juga menjadi pemantik semangat para pegiat untuk terus bergerak mendampingi masyarakat.
“Intervensi pemerintah melalui bantuan buku menjadi salah satu pemicu semangat para pegiat TBM untuk terus bergerak dan membersamai masyarakat,” ujar Hasan.
Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas literasi tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi dilanjutkan melalui pendampingan dan penguatan kapasitas pengelola TBM.
Hasan juga mengusulkan agar Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dikelola perpustakaan daerah dapat membuka ruang bagi kegiatan penguatan kapasitas pengelola TBM. Menurutnya, petunjuk teknis program perlu memberi kesempatan kepada para pegiat di lapangan untuk terlibat dalam kegiatan bimbingan teknis maupun pengembangan program literasi.
Menanggapi aspirasi tersebut, Prof. E. Aminudin Aziz mengapresiasi dedikasi para pegiat TBM dan Relima Sumatera Barat yang terus bekerja di tengah masyarakat.
Perpusnas, kata dia, berkomitmen mendengar masukan dari komunitas sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kebijakan literasi nasional. Usulan pemanfaatan DAK untuk kegiatan bimbingan teknis dan penguatan kapasitas pengelola TBM juga akan menjadi catatan untuk pertimbangan program 2027.
Mengenai program bantuan 1.000 buku, Prof. Aminudin menyampaikan bahwa program tersebut akan diupayakan kembali bergulir pada 2027, meskipun jumlah buku yang diberikan kemungkinan tidak lagi mencapai 1.000 eksemplar.
Pernyataan tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi para pegiat literasi. Bagi mereka, keberlanjutan program bukan sekadar tentang jumlah buku yang diterima, tetapi tentang menjaga energi gerakan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
Dialog di Bukittinggi akhirnya memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah membutuhkan komunitas untuk menjangkau masyarakat, sementara komunitas membutuhkan dukungan kebijakan agar gerakan yang tumbuh dari bawah dapat terus bertahan dan berkembang.
Sebab, literasi bukan hanya tentang menghadirkan buku, tetapi tentang menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk membaca, belajar, berdiskusi, dan tumbuh bersama.
Salam Literasi
*Ketua PW Sumatra Barat
![]()












