14 Februari 2026, melalui layar zoom dari berbagai daerah di Indonesia, para pengelola Taman Bacaan Masyarakat, Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah Forum TBM hadir dalam Webinar Nasional dan Konsolidasi Program Kerja Bidang Program dan Kemitraan yang diselenggarakan oleh PP Forum TBM. Kegiatan ini mengusung tema “Temani, Bersamai, Maknai: Ciptakan Ruang Aman untuk Anak Indonesia!”
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini bukan sekadar agenda daring, melainkan momentum konsolidasi gerakan literasi berbasis TBM agar semakin responsif terhadap isu perlindungan dan kesehatan mental anak.
Pada sesi pertama, Joana Zettira bersama Aris Munandar berbicara mengenai TBM sebagai ruang ekonomi kreatif.
Joana menegaskan bahwa langkah awal yang kerap terlewat oleh banyak pengelola Taman Bacaan Masyarakat adalah mengenali dirinya sendiri, memetakan kekuatan, sumber daya, serta potensi lokal yang dimiliki. Menurut Joana Zettira, TBM tidak dapat bertumbuh hanya dengan mengandalkan bantuan eksternal, kemandirian justru lahir dari kemampuan membaca aset yang sudah ada di sekitarnya, baik itu relawan, jaringan komunitas, ruang yang tersedia, kedekatan dengan warga, maupun kekayaan budaya lokal.
Ia menjelaskan bahwa pemetaan potensi ini menjadi dasar untuk merancang program yang relevan dan berkelanjutan. TBM yang memahami karakter wilayahnya akan lebih mudah menentukan kegiatan, apakah fokus pada literasi anak, penguatan keluarga, pelatihan keterampilan, atau ruang ekspresi kreatif remaja. Dengan pendekatan tersebut, TBM tidak sekadar menjalankan kegiatan, tetapi membangun ekosistem belajar yang tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat.
Lebih jauh, Joana menekankan bahwa kemandirian TBM bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu berdiri kuat sehingga kemitraan yang terjalin menjadi setara dan strategis. “Ketika kita tahu apa yang kita miliki, kita tidak hanya meminta dukungan, tetapi menawarkan kolaborasi,” ungkapnya, menegaskan bahwa pemetaan potensi adalah fondasi menuju TBM yang berdaya, berkelanjutan, dan berdampak luas.
Senada dengan hal tersebut, Aris Munandar memperkuat bahwa gerakan Taman Bacaan Masyarakt tidak berdiri dalam unit-unit yang terpisah, melainkan berada dalam satu ekosistem besar PP Forum TBM yang saling terhubung dari tingkat pusat (PP), wilayah (PW), hingga daerah (PD). Ia menekankan pentingnya melihat Forum TBM sebagai satu kesatuan identitas gerakan, sehingga arah kerja, narasi, dan pengembangannya berjalan selaras.
Menurutnya, proses profiling atau penyusunan profil kelembagaan menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. Profil yang kuat, memuat data kegiatan, dampak program, jejaring, serta potensi lokal, akan menjadikan TBM lebih siap membangun kemitraan yang setara dan profesional. Dengan profiling yang baik, TBM tidak hanya hadir sebagai komunitas berbasis relawan, tetapi sebagai mitra yang memiliki kapasitas, rekam jejak, dan nilai tawar yang jelas di hadapan lembaga pemerintah, dunia usaha, maupun organisasi sosial lainnya.
Aris menambahkan bahwa kesatuan identitas dan kekuatan data inilah yang akan mendorong Forum TBM melangkah lebih jauh, dari sekadar gerakan literasi komunitas menjadi jaringan sosial edukatif yang mampu merancang program bersama, memperluas dampak, dan memastikan keberlanjutan ruang-ruang belajar di tengah masyarakat.
Ketika Isu Literasi Bertemu Kesehatan Mental Anak
Memasuki sesi kedua, diskusi bergeser pada realitas yang lebih mendesak: meningkatnya tantangan kesehatan mental anak di tengah perubahan sosial, tekanan digital, dan minimnya ruang aman di lingkungan sekitar.
Narasumber Devy Nia Pradhika dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengangkat tema “Darurat Kesehatan Mental Anak: Peran Komunitas dalam Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak.”
Ia menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga masyarakat sipil, termasuk komunitas literasi. TBM dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan anak-anak dalam suasana nonformal yang lebih cair dan penuh kepercayaan.
Perspektif yang lebih praktis dan kontekstual bagi kerja-kerja Taman Bacaan Masyarakat disampaikan oleh Annisa Kurniati melalui materinya, “Dari Ruang Baca Menjadi Ruang Aman: Strategi Deteksi Dini dan Pendampingan.” Ia mengajak para pengelola TBM untuk melihat kembali fungsi ruang baca, bukan hanya sebagai tempat buku disusun dan dipinjam, tetapi sebagai ruang sosial tempat anak-anak merasa diterima, didengar, dan dihargai.
Annisa menjelaskan bahwa dalam keseharian TBM, interaksi yang terbangun sebenarnya telah membuka peluang besar untuk menghadirkan ruang dialog. Anak-anak yang datang tidak selalu membaca, tetapi juga cerita, kegelisahan, bahkan persoalan yang kerap tidak menemukan tempat di rumah maupun sekolah. Di sinilah TBM dapat menjadi ruang ama, ruang yang memberi kesempatan anak berbicara tanpa takut.
Melalui kegiatan literasi kreatif seperti menulis bebas, membaca nyaring, menggambar cerita, atau diskusi ringan, TBM dapat menjadi tempat anak mengekspresikan diri secara sehat. Aktivitas-aktivitas tersebut bukan hanya mengasah kemampuan literasi, tetapi juga membantu anak mengenali emosi, membangun rasa percaya diri, dan menemukan cara menyampaikan perasaan mereka.
Webinar ini memperlihatkan bahwa literasi memiliki makna yang lebih luas dari sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah proses memanusiakan, mendengar cerita anak, memahami kegelisahan mereka, dan menghadirkan ruang yang aman untuk bertumbuh.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, TBM diposisikan sebagai jangkar komunitas: tempat nilai kebersamaan, empati, dan kebermaknaan dipelihara.
Webinar ditutup oleh Epilog Budaya dari seorang Den Hasan, Dalang Wayang Kali dan seorang pegiat TBM dari Jepara.
Moderator yang memimpin jalannya diskusi adalah Eko Endri Wiyono dan MC Kiki Masduki.
![]()












