Liburan minggu ini antara lain saya gunakan untuk membaca buku Jef Last, nama lengkapnya Josephus Carel Franciscus (1898–1972), penyair, penulis, dan penerjemah asal Belanda. Konon, Jef pernah tinggal di Singaraja antara tahun 1950–1953. Di Bali, ia menjadi guru di sekolah lanjutan.
Di dalam kulit buku ditulis bahwa Jef berteman baik dengan murid-muridnya. Bila tiba musim liburan, dia dan murid-muridnya kerap melakukan pengembaraan di rimba raya. Di saat-saat itu, ia akan dengan asyiknya mendengarkan musik dan kisah-kisah yang dituturkan murid-muridnya kala malam tiba. Konon, Jef bahkan pernah berhubungan akrab dengan Sukarno dan Moh. Hatta.
Hasil tinggal di Bali itu membuat Jef bisa menulis buku-buku yang berlatar belakang Bali. Di antaranya, I Bontot en I Koese. De avonturen van twee Balische jongens (1958) bersama Udeyana Pandji Tisna, dan Tjoebek in het tijgerbos, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Fauzia Tisnamijaya menjadi Cubek di Rimba Raya (Djambatan, 1978).
Cubek di Rimba Raya setebal 162 halaman dan termasuk kategori bacaan anak umur 10-15 tahun ini saya baca dalam beberapa hari. Tampaknya tokoh-tokohnya sama dengan yang ada dalam buku I Bontot en I Koese, karena nama Bontot, Kuse, Dayu, Kriye, dan Dayu muncul pula dalam Cubek di Rimba Raya. Latar waktunya juga sepertinya sama, sekitar tahun 1950, setelah Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda. Karena diceritakan seorang komisaris polisi baru saja ditugaskan dinas di Denpasar, datang dari Pulau Jawa.
Kisah di dalam buku ini berkaitan dengan petualangan anak-anak Bali ke dalam rimba raya, sehingga dengan demikian mencerminkan kehidupan Jef Last sendiri bersama murid-muridnya semasa tinggal di Bali. Salah satu yang menarik dari petualangan itu adalah upaya menangkap harimau, yang konon dikatakan yang terakhir yang ada di Bali. Harimau tersebut disebutkan sempat tertembak pada masa Jepang. Dengan keterangan tersebut, saya pikir menegaskan keyakinan bahwa latar buku ini memang benar terjadi pada tahun 1950-an, meski bukunya diterbitkan dalam bahasa Belanda pada tahun 1972.
Hal yang sangat menarik lainnya adalah Cubek di Rimba Raya menampilkan realisme magis, melalui tokoh anak yang aneh, Cubek, yang bisa berkomunikasi dan memerintah hewan-hewan, mulai dari anjing, monyet, buaya, hingga harimau. Namun, di sisi lain, cerita ini juga menekankan keinginan untuk melawan ketakhayulan dan irasionalitas, serta pentingnya memelihara kesehatan menurut takaran alam modern.
Sebagai jalan untuk memerangi irasionalitas dan kejorokan, yang dikedepankan di dalam buku Cubek di Rimba Raya adalah pentingnya mengedepankan pendidikan menurut ukuran modern dalam kerangka melawan kebodohan, kegelapan pikiran. Bila dibaca dari sisi sejarah, tentu saja upaya-upaya tersebut berurat dan berakar sebagai bagian dari proyek pemeradaban bangsa bumiputra pada masa penjajahan Belanda.
Dengan demikian, saya sendiri beranggapan bahwa Cubek di Rimba Raya merupakan kompromi Jef Last untuk memadukan cara berpikir masyarakat Bali dengan cara berpikir Barat, yang menjadi titik awal bagi proses kreatifnya. Hal ini mirip dengan Sanoesi Pane yang ingin menggabungkan tokoh Arjuna maupun Faust, dalam dramanya Manusia Baru (1940).***
![]()












