Sungai yang Mengalir Mundur: Kok Bisa Sih?

Judul: Sungai yang Mengalir Mundur

Penulis: Resna J. Nurkirana

Penyunting: Adhimas Prasetyo

Penerbit: Buruan & Co

Tahun: 2025

Salah satu kebiasaan saya ketika bepergian naik kereta atau naik pesawat selalu membawa satu atau dua buku di tas. Biasanya buku-buku yang saya bawa dalam perjalanan adalah buku-buku fiksi. Karena hemat saya, buku fiksi lebih ringan dibaca dan selesai dalam sekali perjalanan.

Buku kumpulan cerpen Resna J. Nurkirana yang berjudul Sungai yang Mengalir Mundur dibaca ketika hendak perjalanan ke Nusa Tenggara Timur. Dua belas kumpulan cerpen yang terhimpun, saya baca di bandara dan pesawat. Hingga pesawat landing, praktis saya sudah menamatkan bukunya Resna.

Bahasa yang dipakai oleh Resna dalam menuangkan gagasan pada cerpennya, cukup komunikatif dan mudah diterima oleh pembaca. Mungkin cerpen harusnya seperti ini, dibaca sekali duduk dan selesai.

Produk Sintaksis pada Cerpen Sungai yang Mengalir Mundur

Chomsky mengatakan bahwa bahasa adalah kumpulan dari kalimat, terdiri atas rentetan bunyi yang mengandung arti. Ketika seseorang sedang berbahasa, maka seseorang tersebut sedang menghasilkan bunyi-bunyi. Bunyi-bunyi itulah yang menjadi frasa, klausa, dan kalimat utuh. Atau dalam ilmu bahasa disebut dengan sintaksis. Dengan demikian, produk sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat yang dihasilkan oleh seseorang. Pada konteks cerpen ini dihasilkan oleh seorang Resna sebagai penulis.  

Pada cerpen yang berjudul Kamu, Tiur, dan Pak Bim, penulis membuka paragraf pertama dengan kumpulan klausa  dan kalimat yang bagi saya sebagai pembaca cukup indah.

Di sini, udara selalu berat. Asap rokok bercampur sisa alkohol menempel pada tubuh-tubuh beraroma parfum bunga. Di gang ini, setiap kupu-kupu menyembunyikan rahasia di balik kepakan sayapnya. Waktu seakan berhenti tak melaju, menggantung antara mimpi indah dan kenyataan pahit.       

Atau pada cerpen berjudul Membakar Penyamun penulis juga membangun paragraf pertama dengan indah.

Sepasang mata Bapak tengah disaput kekosongan. Sekarang Bapak tampak asing dan menyedihkan. Aku telah selesai mencari kebenaran, mencari jawaban atas ketakutan yang Bapak rahasiakan.

Pada pembukaan kedua cerpen yang saya kutip di atas, terlihat bahwa seorang penulis mengolah bunyi menjadi sintaksis yang kuat. Namun memang napasnya tidak terlalu panjang, sehingga kaitan gagasan dari satu paragraf ke paragraf lainnya begitu cepat. Maksud saya tidak terasa detail observasi sebuah ruang atau konteks konsep yang dibangun oleh seorang penulis. Sehingga cerpen ini masih terasa seperti sketsa. Belum menjadi gambar yang utuh dengan penuh warna.

Akan tetapi, keduabelas cerpen yang terkumpul pada antologi, konsep komunikasinya sama. Membangun ruang komunikasi yang cepat, produk sintaksis yang sama pada setiap cerpen, memainkan pola kalimat pendek, dengan imaji visual yang ketat. Jadi ada kemungkinan memang Resna, pada kumpulan cerpen Sungai yang Mengalir Mundur menggunakan teknik sketsa. Keluar dari pakem cerpen pada umumnya yang detail terhadap peristiwa, mendeskripsikan ruang dan dan waktu.

Cerpen-cerpen Resna menyimpan ruang kosong, di mana ruang tersebut dapat diinterpretasikan oleh pembaca. Sehingga pembaca terlibat dalam memproduksi arti, makna dari cerpen-cerpennya.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan cerpen Sungai yang Mengalir Mundur, karya Resna J. Nurkirana, pola komunikasi yang dibangun lewat sintaksis cukup komunikatif. Dan bagi saya, kumpulan cerpen ini dapat menjadi teman dalam perjalanan.

Terakhir saya akan mengakatakan, bukankah semestinya sungai berakhir di laut lepas? Simpan dulu jawabannya, silakan baca dulu cerpennya.

Salam.  

Loading

Penulis: Heri Maja Kelana