Oleh. Atep Kurnia
N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman en Stroink adalah toko buku dan percetakan di Semarang sejak 1 Oktober 1904. Perusahaan ini didirikan Henricus Uden Masman (1871–1951) dan Jan Stroink (1870–1941.
H. Uden Masman lahir di Winsum, Friesland, pada 17 April 1871, sebagai anak Dirk Theodorus Uden Masman dan Margaretha Jacoba Hoitsema. Jejaknya di Hindia tercatat sejak 1894. Deli courant (26 September 1894) memberitakan kedatangannya di Penang pada 25 September dengan kapal Sumatra dari Singapura. Pada April 1895, atas usul E. W. Petersen, ia diangkat sebagai kassier-boekhouder pada Delische Spaarbank. Pada Oktober tahun yang sama ia menjadi kepala percetakan Deli Courant di Soekaradjaalaan No. 2. Pada 1897, De locomotief menyebut Masman sebelumnya bekerja pada G. C. T. Van Dorp & Co. sebelum berangkat ke Transvaal, Afrika Selatan. Surat kabar De Volksstem di Pretoria bahkan memberitakan rencana pengirimannya ke Eropa untuk mengurus peralatan bagi instalasi percetakan baru dalam rangka perluasan perusahaan.
Setelah kembali ke Hindia, Masman mengembangkan usaha sendiri di Semarang. Pada 3 Mei 1902, A. Bisschop mengangkatnya sebagai kuasa usaha. Pada 16 Mei 1903 diberitakan berdirinya toko buku dan percetakan milik H. Uden Masman di Kerkhofstraat, Semarang. Pada September 1903, Masman mengumumkan kedatangan huruf-huruf baru dan perlengkapan percetakan melalui kapal Prinses Sophie. Ia juga menerima pesanan buku Iets voor Allen. Pada Oktober 1903, ia menerbitkan katalog kecil Iets voor uilen yang menawarkan roman, karya sastra, buku anak-anak, dan berbagai buku lainnya. Toko tersebut menjual buku, pena dan kartu pos bergambar Semarang serta daerah sekitarnya. Pada awal 1904, koleksinya diperluas dengan kartu pos dari Eropa dan Hindia yang menampilkan kota, desa, bangunan, pemandangan, pakaian, dan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Jan Stroink telah mempunyai pengalaman panjang dalam bidang taman bacaan. Ia lahir di Zwolle pada 12 Februari 1870, sebagai anak Joan Herbert Herman Stroink dan Sara Johanna Doijer. Sejak 1899 ia tercatat sebagai direktur Leesgezelschap Kramat dan direktur Leesgezelschap Orde pada 1904–1913. Keduanya taman bacaan yang menyediakan berbagai bacaan berbahasa Belanda, Prancis, Jerman, dan Inggris. Stroink juga memiliki pengalaman di lingkungan pemerintahan. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië (19 Agustus 1920), misalnya, memberitakan pengangkatannya sebagai Hoofd van het Bevolkingskantoor. Ia menikah dengan Maria Elisabeth van Dorsser di Semarang pada 5 September 1906.
Pengalaman keduanya kemudian bertemu dalam pembentukan perusahaan baru. Pada 1 Oktober 1904, Masman dan Stroink bergabung sebagai sekutu. Saat itu disebutkan Stroink telah bekerja selama tujuh tahun di toko buku G. Kolff & Co. di Noordwijk, Batavia. Dari kerja sama tersebut lahirlah Boekhandel en Drukkerij Masman en Stroink. Perusahaan ini bergerak dalam perdagangan buku, percetakan buku dan komersial, penjilidan, dan sebagainya. Pada Desember 1904 diberitakan akta pendiriannya telah memperoleh persetujuan. Pada awal 1905 perusahaan berbentuk N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman en Stroink, dengan modal f50.000 yang terbagi atas 500 saham masing-masing senilai f100. Masman dan Stroink masing-masing memiliki 150 saham dan ditetapkan sebagai direktur pertama.
Pada tahun-tahun awal, perusahaan menggabungkan perdagangan buku, penerbitan, percetakan, serta produksi barang bergambar. Pada 1904 perusahaan menawarkan kalender Schoon-Indië 1905 yang memuat 365 gambar dari Jawa dan daerah luar Jawa, katalog St. Nicholas, serta seri kartu pos Semarang dan Candi. Pada 1905 Masman & Stroink mencetak Java Ren-Kalender dan menerbitkan koleksi kartu pos Hindia dengan foto karya fotografer Adofs. Saat itu, Van der Heyden, yang sebelumnya merupakan kepala percetakan G. Kolff & Co., kemudian diangkat menjadi kepala percetakan Masman & Stroink.
Perkembangan awal tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan dalam kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Pada Januari 1906, H. Uden Masman meninggalkan firma dan berangkat ke Eropa, sedangkan H. J. P. Bremmer masuk sebagai sekutu baru. Perusahaan kemudian memperkuat fasilitas produksinya dengan menambah mesin cetak dan lineermachine. Meskipun Masman tidak lagi terlibat langsung dalam pengelolaan harian perusahaan di Semarang, namanya tetap menjadi bagian dari identitas Masman & Stroink.
Pada 1907–1908 kegiatan penerbitan Masman & Stroink kian beragam. Pada 1907 perusahaan menjadwalkan penerbitan Indische Planten en haar geneeskracht karya Kloppenburg-Versteegh, yang direncanakan dilengkapi atlas berwarna. Perusahaan itu juga menghasilkan lukisan ubin bergambar HBS Semarang dan berbagai buku kerja sekolah. Pada 1908 diterbitkan Het Atjehvraagstuk en hoe dat thans nog kan worden opgelost karya J. J. B. Fanoy. Katalog kalender terus diedarkan, termasuk katalog kalender 1908 yang dicetak sebanyak 25.000 eksemplar. Pada tahun yang sama perusahaan mencetak Ons huis in Indië karya Nyonya J. M. J. Catenius-van der Meijden, salah satu buku panduan rumah tangga kolonial.
Perkembangan tersebut berlanjut hingga dasawarsa berikutnya. Masman & Stroink kemudian menerbitkan Student Hidjo (1919) karya Mas Marco Kartodikromo (1890–1932). Novel ini pertama kali dimuat dalam surat kabar Sinar Hindia pada 1918. Saat itu Marco sedang menjalani hukuman satu tahun di penjara sipil-militer Weltevreden karena perkara delik pers. Dalam pengantarnya, Marco menjelaskan bahwa selama berada di penjara ia tetap dapat menghasilkan karya, antara lain Student Hidjo, Sair Rempah-Rempah, dan Matahariah. Novel tersebut menggambarkan kehidupan kaum muda, yakni generasi terdidik yang memperoleh pendidikan Barat dan memasuki kehidupan kelas menengah perkotaan, serta memperlihatkan perjumpaan antara kebiasaan tradisional dan berbagai unsur modern dalam kehidupan Hindia.
Pada periode yang sama, pengelolaan perusahaan mengalami beberapa kali perubahan. Catatan tahun 1910 dan 1915 masih mencatat J. Stroink sebagai pimpinan. Pada 1920 kepemimpinan beralih kepada H. J. P. Bremmer, sedangkan pada 1925–1935 perusahaan dipimpin J. T. Smal. Antara 1930 dan 1935, kepemilikan perusahaan tercatat berada pada N.V. Semarangsche Administratie Maatschappij, dan status tersebut masih tercatat pada 1940.
Sementara itu, H. Uden Masman mengembangkan kegiatan percetakan dan penerbitan di Belanda. Ia mendirikan N.V. Electrische drukkerij- en uitgeversmaatschappij De Atlas di Den Haag dan berhubungan erat dengan H. F. Tillema (1870-1952), pejabat kolonial Belanda, penulis, dan ahli kesehatan masyarakat di Hindia. Masman menangani pencetakan sejumlah karya Tillema. Pada 2 Desember 1922, misalnya, diberitakan Masman memberikan dukungan teknis dan menangani pencetakan jilid terakhir Kromoblanda. Pada 1930 ia menulis riwayat Tillema yang dimuat dalam Bataviaasch nieuwsblad dan De locomotief dalam rangka peringatan ulang tahun ke-60 Tillema.
Memasuki 1930-an, Masman & Stroink di Semarang telah berkembang menjadi perusahaan percetakan dengan fasilitas produksi yang lebih lengkap. Pada 1932 perusahaan menangani kebutuhan tipografis majalah Widoeri dan mencetak buku peringatan sepuluh tahun Bioskop Pathé Theater. Fasilitas perusahaan dipindahkan dari Kerkstraat ke kompleks yang lebih luas di Blindespekstraat. Di tempat baru tersebut, percetakan, penyusunan huruf, penjilidan, pembuatan garis, dan ekspedisi ditempatkan dalam satu kompleks. Perusahaan menggunakan dua mesin Heidelberg dan satu mesin Poly otomatis dengan kapasitas masing-masing menghasilkan sekitar 3.600 cetakan per jam serta mempekerjakan sekitar 85 pekerja pribumi. Pada 1933 perusahaan mencetak edisi jubileum ke-35 S.S.V. “Go Ahead”.
Pada 1934 nama resminya tercatat sebagai N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman en Stroink. Setahun kemudian, bidang usahanya mencakup percetakan buku dan komersial, pembuatan klise, studio iklan bioskop, desain, dan percetakan offset. Produk yang dihasilkan kian beragam, meliputi kartu nama, poster berwarna, label, kemasan, dan berbagai bahan reklame.
Menjelang Perang Dunia II, Masman & Stroink tetap menjalankan kegiatan penerbitan dan percetakan. Di antara produksinya terdapat buku Perang Woeker (1939) karya R. Soegih, peta Finlandia, dan Internatio Agenda (1940). Aktivitas perusahaan terus berlangsung hingga masa pendudukan dan perang, meskipun kondisi industri percetakan mengalami perubahan akibat situasi politik dan ekonomi.
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan masih menjalankan kegiatan percetakan di Semarang. Pada 1946 Masman & Stroink mencetak surat kabar Het Midden ketika De Locomotief belum dapat menggunakan mesin cetaknya sendiri. Perusahaan juga membantu penyelamatan dan pengamanan mesin percetakan De Locomotief dalam situasi pascaperang. Pada 15 Mei 1950, para pekerjanya memperoleh kenaikan upah sebesar 10 persen, sementara jam kerja mingguan dikurangi dari 42 menjadi 40 jam.
Jan Stroink telah meninggal lebih dulu di Den Haag pada 14 Maret 1941 dalam usia 71 tahun. H. Uden Masman meninggal kemudian di Loenen pada 4 Januari 1951 dalam usia 79 tahun. Nekrologinya menyebut Masman sebagai pendiri Drukkerij en Uitgeversmaatschappij Masman en Stroink dan mencatat kegiatan penerbitan serta kehidupannya di Belanda setelah meninggalkan Hindia.
Sumber Pustaka:
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 03-07-1933; 02-03-1936; 19-12-1939; 13-02-1940; Bataviaasch nieuwsblad, 16-05-1903; 26-08-1899; 20-09-1899; 04-06-1904; 21-06-1904; 05-12-1913; 06-12-1913; 04-10-1904; 26-07-1930; De Gooi- en Eemlander, 05-01-1951; De Indische mercuur, 07-02-1905; De locomotief, 27-02-1897; 06-07-1903; 29-08-1903; 16-09-1903; 23-09-1903; 10-10-1903; 30-10-1903; 12-12-1903; 21-01-1904; 24-02-1904; 27-02-1904; 02-01-1905; 07-03-1905; 16-10-1905; 18-10-1905; 24-01-1906; 02-04-1906; 18-10-1906; 04-02-1907; 14-06-1907; 18-11-1907; 29-04-1908; 08-08-1930; 05-02-1932; 21-03-1932; 26-07-1932; 15-09-1934; 14-10-1935; 02-03-1936; 10-02-1939; 16-03-1948; 17-01-1949; 15-05-1950; De Preanger-bode, 25-08-1904; 16-10-1905; Deli courant, 26-09-1894; 01-05-1895; 02-10-1895; 02-12-1922; fy.wikipedia.org, genealogieonline.nl; greetsgenealogie.nl; Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 27-09-1904; 04-10-1904; 19-11-1904; 07-03-1905; 24-01-1906; 19-08-1920; Nieuwsblad voor den boekhandel, 04-11-1904; Nobuto Yamamoto, Censorship in Colonial Indonesia, 1901-1942 (2019: 114); Soerabaijasch handelsblad, 03-05-1902; 26-09-1904; Takashi Shiraishi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 (1990: 30-31); Vrij Nederland, 28-08-1993, Ewald Vanvugt, “De donkere kant van Tempo Doeloe”; Address Book / directory Nederlands-Indië.
![]()












