Kabar  

Rumah Baca Dikata, Ruang Belajar yang Tumbuh dari Masa Pandemi

Oleh. Munasyaroh

Di tengah pemukiman Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rumah Baca Dikata menjadi salah satu ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Tidak hanya menyediakan buku, rumah baca ini juga menghadirkan kelas belajar, kegiatan kreatif, layanan peminjaman buku, hingga ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi.

Rumah Baca Dikata berdiri pada 20 September 2020 dan merupakan bagian dari Komunitas Dikata Literasi Utama. Rumah baca ini didirikan oleh Dhia Imara dan dalam kegiatan sehari-hari dikelola bersama para Relawan Pengajar Muda Dikata.

Secara kelembagaan, Rumah Baca Dikata tercatat sebagai anggota Forum TBM dengan nomor 140623-10-2811 dan memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) 3329084J0000001.

Rumah Baca Dikata berada di bangunan milik pribadi pendiri yang menyatu dengan rumah. Ruang yang digunakan berukuran sekitar 5 x 6 meter. Meski tidak luas, ruang tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak hingga masyarakat lanjut usia.

Hadir Saat Anak-Anak Kehilangan Ruang Belajar

Komunitas Dikata Literasi Utama pertama kali diinisiasi pada 20 September 2020, ketika pandemi Covid-19 sedang membatasi berbagai aktivitas masyarakat. Pembatasan sosial membuat akses anak-anak terhadap pembelajaran di sekolah ikut berubah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Dikata menghadirkan Rumah Baca Dikata sebagai ruang belajar alternatif. Rumah baca ini dibangun sebagai wadah nirlaba agar anak-anak dan generasi muda tetap memiliki akses terhadap bahan bacaan, pendidikan, dan ruang kreatif.

Sejak awal, Dikata tidak hanya berfokus pada penyediaan buku. Komunitas ini juga ingin membuka akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan bermutu, menumbuhkan minat baca, serta menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkreasi dan mengembangkan potensi sesuai bakatnya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Komunitas Dikata Literasi Utama untuk menjadi komunitas yang edukatif, inovatif, dan berkontribusi.

Dalam menjalankan visinya, Dikata mewadahi aspirasi dan kreativitas para kontributor, memperluas akses masyarakat untuk berkarya, menjaga hubungan dengan pihak internal maupun eksternal, membuka akses pendidikan berbasis literasi, serta menjalankan berbagai program secara konsisten dan berkelanjutan.

Koleksi Lebih dari 3.000 Buku

Saat ini Rumah Baca Dikata memiliki sekitar 3.415 eksemplar buku. Koleksi tersebut menjadi salah satu fasilitas utama yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Layanan yang tersedia antara lain sirkulasi peminjaman buku, alat peraga dongeng, buku bacaan bermutu, layanan menggambar dan mewarnai, serta latihan soal.

Rumah Baca Dikata juga memiliki area recording Dikata Podcast yang menjadi ruang untuk kegiatan berbasis konten dan kreativitas. Segmen layanan tidak dibatasi pada anak-anak. Rumah baca ini terbuka untuk masyarakat umum, mulai dari anak-anak, orang muda, orang tua, hingga lansia.

Kelas Belajar Mingguan Terbuka untuk Masyarakat

Salah satu kegiatan yang paling diunggulkan adalah Kelas Belajar Mingguan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap pekan dengan pembelajaran berbasis Kurikulum Eco-Kreatif yang dikembangkan oleh Dikata.

Kurikulum tersebut memadukan pembelajaran dengan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Materi tidak hanya diarahkan pada pengetahuan, tetapi juga memberi ruang kepada peserta untuk belajar melalui kegiatan yang kreatif dan kontekstual. Kelas ini terbuka bagi masyarakat umum tanpa sistem pendaftaran. Siapa pun dapat datang dan mengikuti sesi yang tersedia.

Keunikan lainnya terletak pada keterlibatan Mentor Penggerak yang berbeda setiap bulan. Dengan demikian, peserta mendapatkan materi, pengalaman, dan perspektif yang beragam. Setiap bulan Dikata membuka kesempatan bagi mahasiswa maupun masyarakat umum di Brebes yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan untuk menjadi Mentor Penggerak. Rekrutmen dilakukan secara terbuka melalui formulir yang disediakan komunitas.

Mentor tidak terikat kontrak jangka panjang. Mereka cukup berkomitmen minimal satu jam mengajar pada sesi yang dipilih sesuai edisi bulan berjalan. Setelah menyelesaikan tugasnya, mentor bergabung dalam grup Alumni Mentor Penggerak.

Sebelum kelas berlangsung, tim Dikata menyelaraskan materi yang disiapkan mentor dengan Kurikulum Eco-Kreatif. Jadwal kelas dan profil mentor kemudian dipublikasikan melalui media sosial sehingga masyarakat dapat mengetahui kegiatan yang akan berlangsung.

Seluruh informasi dan dokumentasi kegiatan dapat diikuti melalui Instagram @dikataoffice dan @dikataorg.

Selain Kelas Belajar Mingguan, Rumah Baca Dikata menjalankan sejumlah program lain. Di antaranya Sekolah Literasi Inspiratif, Blusukan GEMA atau Gemar Membaca, Satgas Tanganbaik, dan Integrated Urban Farming Dikata.

Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas rumah baca tidak hanya berkutat pada membaca buku. Literasi dipadukan dengan pendidikan, kreativitas, kepedulian sosial, dan lingkungan.

Melalui berbagai program tersebut, Rumah Baca Dikata mencoba menyediakan ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus berkontribusi.

Bertumpu pada Kolaborasi

Dalam menjalankan program, Rumah Baca Dikata masih mengandalkan dukungan dari berbagai pihak. Program berjalan secara mandiri dan mendapat dukungan dari donatur serta sponsor yang membantu dalam bentuk dana maupun barang.

Donatur berasal dari individu maupun urunan relawan. Sementara itu, beberapa UMKM di sekitar rumah baca juga menjadi sponsor sesuai kebutuhan kegiatan. Di antaranya Jago Digital Printing, Era Fotocopy, dan Kedai Juragan 99.

Dikata juga menjalin kerja sama dengan Lazismu Kabupaten Brebes, khususnya dalam bidang pendidikan. Hubungan dengan sekolah juga dibangun untuk mendukung layanan sirkulasi peminjaman buku. Salah satunya dengan MTs Muhammadiyah Wanasari, yang berada di sekitar Rumah Baca Dikata.

Kolaborasi tersebut membantu koleksi buku tidak hanya tersimpan di rak, tetapi dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pembaca.

Tantangan Menjaga Kelas Tetap Berjalan

Sebagai komunitas yang menjalankan kegiatan secara mandiri, Rumah Baca Dikata masih menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah keterbatasan mitra strategis. Belum banyak kemitraan formal dengan instansi atau lembaga eksternal sehingga keberlangsungan sebagian program masih bergantung pada dukungan donatur dan sponsor.

Sistem Mentor Penggerak yang fleksibel juga memiliki tantangan tersendiri. Karena mentor hanya berkomitmen berdasarkan sesi, mempertahankan mentor yang sama dalam jangka panjang tidak selalu mudah.

Hal lainnya adalah pembiayaan kelas yang diberikan secara gratis kepada masyarakat. Kebutuhan bahan praktik dan operasional kegiatan masih bergantung pada kelancaran dukungan yang diterima.

Meski menghadapi keterbatasan tersebut, kegiatan tetap dijalankan dengan menyesuaikan sumber daya yang tersedia.

Mendapat Apresiasi di Tingkat Jawa Tengah

Perjalanan Rumah Baca Dikata dan Komunitas Dikata Literasi Utama juga mendapat sejumlah apresiasi.

Pada 2026, Komunitas Dikata Literasi Utama meraih penghargaan sebagai Komunitas Literasi Terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam menggalakkan gerakan budaya gemar membaca dari Gubernur Jawa Tengah.

Pendiri Komunitas Dikata, Kak Dhia Ima, juga menerima penghargaan Insan Pendidikan tingkat Kabupaten Brebes kategori Pegiat Literasi dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2023.

Pengalaman lain yang diperoleh komunitas antara lain mengikuti Workshop Taman Baca Ramah Anak tingkat nasional yang diselenggarakan Forum TBM bersama Kemenko PMK di Surakarta pada 2023.

Pada 2024, pendiri Komunitas Dikata menjadi narasumber utama dalam Program Bengkel Komunitas Literasi tingkat Kabupaten Brebes yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun yang sama, pendiri Dikata juga memberikan pelatihan kepada puluhan pegiat literasi di Kabupaten Brebes mengenai strategi pengembangan dan manajemen program untuk taman baca dan komunitas literasi.

Dikata juga mengikuti Diseminasi Penyemaian tingkat nasional sebagai perwakilan delegasi Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Pusat Kemendikbud di Jakarta pada 2024.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan komunitas dalam mengembangkan program literasi sekaligus berbagi pengetahuan dengan pegiat literasi lainnya. 

Penulis: MunasyarohEditor: Heri
Exit mobile version