Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Batam membuka tahun 2026 dengan menggelar Festival Batam Cinta Buku. Kegiatan yang dilaksanakan awal Februari ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem literasi sekaligus memperkenalkan TBM supaya lebih dekat kepada masyarakat.
Latar Belakang Kegiatan
Festival ini lahir dari rasa syukur sekaligus keprihatinan para pengurus Daerah Forum TBM Kota Batam Kepulauan Riau. Sekitar 22 TBM di Kota Batam telah menerima bantuan kurang lebih 1.000 buku dari pemerintah. Namun, pemanfaatannya dinilai belum maksimal.
Menurut Mintalit Imelda Ginting, Ketua PD Forum TBM Kota Batam, buku yang tersedia perlu diiringi dengan upaya mengenalkan kembali keberadaan TBM kepada masyarakat.
“Buku sudah ada. Tapi kalau masyarakat belum tahu TBM di sekitar mereka, maka buku itu belum sepenuhnya hidup,” ujarnya.
Karena itu, festival yang dilaksanakan di ruang publik One Batam Mall ini dirancang sebagai ruang temu antara TBM dan publik. Setiap TBM mendirikan stan kreatif yang menampilkan identitas, program, dan ciri khas masing-masing. Pengunjung dapat mengetahui lokasi dan aktivitas TBM di berbagai wilayah Batam seperti Bengkong, Batu Aji, hingga Sungai Panas.
Cinta Buku Berawal dari Proses Mengenal
Imelda menegaskan bahwa kecintaan terhadap buku tidak tumbuh secara instan.
“Cinta itu berawal dari kenal. Ketika masyarakat mengenal dan merasakan manfaat membaca, maka perlahan akan tumbuh rasa senang, bahkan cinta terhadap buku.”
Festival ini menjadi pintu awal untuk membangun kedekatan tersebut. Masyarakat tidak hanya melihat buku, tetapi juga bertemu langsung dengan para pengelola TBM yang menggerakkan literasi secara swadaya.
Kolaborasi yang Menguatkan
Festival Batam Cinta Buku 2026 merupakan kegiatan pembuka dalam kalender kerja PD Forum TBM Kota Batam tahun ini. sebelumnya, PD juga pernah mengadakan kegiatan serupa pada bulan Oktober dalam rangka Bulan Bahasa dengan titel Festival Batam Membaca.
Untuk tahun ini, sebanyak 23 TBM berpartisipasi aktif dalam festival Batam Cinta Buku ini. Setiap TBM berkontribusi melalui stan buku, pertunjukan, dan dukungan pendanaan.
Ketua panitia kegiatan adalah Ronald Sirait dari TBM Sayang Anak, yang juga merupakan salah satu Pengurus Daerah Forum TBM Kota Batam. Penunjukan ketua panitia dilakukan secara bergiliran di antara pengurus agar semua memiliki kesempatan berkontribusi.
Meski tidak memiliki anggaran tetap, panitia mampu menggandeng berbagai mitra. Dukungan datang dari Kantor Bahasa Kepulauan Riau, UPT Perpustakaan Batam, OJK, Bank Indonesia, Pemerintah Kota Batam, mitra percetakan kaos dan juga para sponsor lainnya.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh kuat ketika berbagai pihak terlibat bersama.
Indikator Keberhasilan
Imelda menilai keberhasilan kegiatan ini dari beberapa aspek.
Pertama, kekompakan panitia yang bekerja secara solid sejak persiapan hingga pelaksanaan.
Kedua, dukungan aktif dari instansi dan pemerintah yang menunjukkan pengakuan terhadap eksistensi TBM.
Ketiga, antusiasme TBM yang menampilkan stan kreatif dan penuh identitas.
Keempat, respons masyarakat yang sangat positif. Banyak orang tua membawa anak-anaknya dan mengikuti acara hingga selesai. Bahkan ada pengunjung yang terinspirasi untuk membuka taman baca di rumahnya setelah berdialog langsung dengan pengelola TBM.
Tantangan yang Dihadapi
Tantangan terbesar dalam kegiatan ini sebenarnya ada pada pendanaan. Forum TBM Kota Batam tidak memiliki anggaran tetap. Sebagian besar TBM bergerak secara mandiri dan sosial tanpa keuntungan finansial. Namun patut disyukuri, kegiatan berjalan dengan lancar.
![]()












