Oleh. Ahmad Ardabily-Syahrul Mubarok
PEKALONGAN — Pelaksanaan Festival Literasi Kabupaten Pekalongan tahun 2026 menjadi panggung bagi Pengurus Daerah Forum Taman Bacaan Masyarakat (PD FTBM) Kabupaten Pekalongan untuk menunjukkan peran aktifnya dalam menggerakkan literasi masyarakat. Berlangsung di Gedung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Pekalongan, FTBM Kab. Pekalongan dipercaya membuka stand pameran khusus yang menyajikan koleksi buku-buku menarik, mulai dari literatur langka hingga karya-karya kontemporer.
Tak hanya pameran fisik, FTBM Kab. Pekalongan juga memegang peran sentral dalam mengisi rangkaian workshop edukatif. Pada Senin (24/8/2026), FTBM dipercaya mengisi materi mengenai penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk penulisan jurnal akademik bertajuk “AI untuk Jurnal Akademik: Antara Kebutuhan dan Etika”.
Sesi ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Yoga Rifai Hamzah (Digital Strategist & Ketua PD FTBM Kab. Pekalongan) dan Muhammad Burhan (Jurnalis & Ketua Bidang Program FTBM Kab. Pekalongan), serta dipandu oleh M. Achyar Pranoto dari Bidang Litbang FTBM Kab. Pekalongan selaku moderator.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Rabu (26/8/2026) hari ini melalui sesi mendalam mengenai rentang literasi digital. Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari unsur pelajar, mahasiswa, hingga guru mengikuti jalannya workshop dengan penuh antusiasme.
Burhan: “AI Jangan Jadi Mesin Plagiarisme Gaya Baru!”
Dalam sesi workshop akademik pada Senin lalu, Muhammad Burhan melontarkan kritik keras dan provokatif terkait maraknya penggunaan AI di dunia pendidikan. Menurut jurnalis yang juga menjabat Ketua Bidang Program FTBM Kab. Pekalongan ini, batas antara kemudahan teknologi dan kemalasan intelektual kini semakin samar.
“Jangan bangga punya karya ilmiah atau jurnal yang tebal kalau isinya cuma hasil ‘salin-tempel’ nalar mesin tanpa ada keringat pemikiran sendiri! AI itu diciptakan untuk memperluas cakrawala riset, bukan jadi alat ‘pencucian intelektual’ atau mesin plagiarisme gaya baru. Kalau akademisi, guru, dan mahasiswa kita cuma pasrah menyerahkan analisisnya ke AI, kita sedang merayakan kematian tradisi berpikir kritis di lembaga pendidikan kita sendiri,” tegas Muhammad Burhan dengan nada memprovokasi kesadaran akademis peserta.
Yoga Rifai: Menjadikan AI Partner Berpikir, Bukan Pengganti Nalar
Senada dengan Burhan, dalam pemaparan literasi digital pada Rabu (26/8), Yoga Rifai Hamzah membawakan topik bertajuk “Kita Terlalu Digital untuk Disebut Melek Digital: Literasi Digital di Era Algoritma, AI, dan Banjir Informasi”. Yoga mengingatkan bahwa aktivitas berinternet dan penggunaan AI saat ini tidak lagi netral.
“Bisa menggunakan teknologi belum tentu berarti melek digital. Saat ini kita tidak sekadar menggunakan internet, melainkan hidup di dalam sistem algoritma yang terus merekam jejak data perilaku, preferensi, dan emosi kita. AI bukan mesin pembuat jawaban mutlak yang mengambil alih proses berpikir kita, melainkan sparring partner untuk menantang argumentasi dan menguji daya kritis. Di era ketika informasi dan jawaban sangat murah, modal paling berharga dari seorang pembelajar adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat dan memegang teguh etika,” papar pendiri TBM Rumah Baca Pintar tersebut.
Sinergi Strategis: Apresiasi Tinggi dari Dinarpus Pekalongan
Langkah dan terobosan yang disajikan FTBM Pekalongan—mulai dari pameran buku langka hingga edukasi etika AI dan literasi digital—mendapat apresiasi hangat dari pemerintah daerah. Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, Indria Madyawati, SE, MM, menegaskan pentingnya kolaborasi antara dinas dan komunitas TBM dalam menjawab tantangan zaman.
“Tantangan gerakan literasi saat ini bukan lagi sekadar memberantas buta aksara atau menghadirkan fisik buku, melainkan membangun kedaulatan kognitif masyarakat di tengah gempuran disinformasi dan perkembangan AI. Hadirnya koleksi buku langka dan kontemporer di stand FTBM serta sesi materi yang disampaikan Mas Yoga, Mas Burhan, dan tim FTBM sangat relevan dengan kebutuhan pelajar, mahasiswa, dan pendidik kita saat ini. Melek digital adalah kemampuan warga untuk tetap memegang kendali atas pikiran dan keputusannya sendiri. Dinarpus Kabupaten Pekalongan sangat mengapresiasi peran aktif FTBM dan berkomitmen terus memperkuat sinergi agar TBM di daerah mampu menjadi benteng kedaulatan berpikir warga,” tegas Indria Madyawati.
TBM Sebagai Ruang Rebut Kembali Pikiran
Di akhir sesi yang interaktif, Yoga mengajak seluruh penggerak TBM dan elemen pendidikan yang hadir untuk memperluas ruang lingkup gerakan literasi. TBM tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku cetak, tetapi juga pusat pendidikan kritis bagi masyarakat dalam merespons arus teknologi.
“Teknologi adalah alat yang luar biasa, tetapi majikan yang sangat buruk. Mari manfaatkan AI dan media sosial, namun jangan pernah menyerahkan kedaulatan cara berpikir kita kepada algoritma. Tugas gerakan TBM adalah memastikan manusia tetap mampu memilih, mempertanyakan, dan berpikir sendiri,” tutupnya.
![]()












