Kabar  

Dari Kelas Bahasa Inggris, Lahir TBM Lhee Club

Oleh. Munasyaroh

Di Gampong Meunasah Lhee, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, sebuah ruang belajar tumbuh dari kegiatan sederhana. Ruang itu kini dikenal sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lhee Club. Kehadirannya tidak hanya menyediakan akses buku bagi anak-anak, tetapi juga menjadi ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi bagi masyarakat.

TBM Lhee Club berada di kompleks Dayah Istiqamatuddin Babul Huda, sebuah pesantren harian tempat anak-anak belajar mengaji sepulang sekolah. TBM ini tidak memiliki lembaga induk. Sebagian besar anak yang mengikuti kegiatan Lhee Club merupakan santri di dayah tersebut.

Berawal dari Kelas Bahasa Inggris

Perjalanan Lhee Club bermula ketika Dinda Jouhana pindah dari Jakarta ke Aceh, tepatnya ke kampung suaminya, pada akhir 2021. Keluarga Dinda tinggal di kompleks Dayah Istiqamatuddin Babul Huda yang didirikan almarhum Bapak Merta pada awal 1990-an.

Dinda melihat sejumlah persoalan di lingkungan sekitar. Anak-anak memiliki aktivitas yang relatif terbatas setelah sekolah dan mengaji. Pada saat yang sama, terdapat segregasi yang cukup kuat antara anak laki-laki dan perempuan. Persoalan lain juga terlihat pada pengelolaan sampah yang belum berjalan dengan baik.

Dinda kemudian memilih memulai dari hal yang paling memungkinkan dilakukan. Ia membuka kelas Bahasa Inggris informal bagi beberapa santri yang tertarik. Kegiatan pertama berlangsung pada 7 Juni 2022.

Kelas Bahasa Inggris kemudian berlangsung rutin dua kali dalam seminggu. Metodenya sederhana, yaitu bermain, belajar, dan membaca.

Dalam prosesnya, Dinda menemukan persoalan lain. Setelah cukup lama mengikuti kelas Bahasa Inggris, ternyata ada anak yang masih belum lancar membaca meskipun sudah duduk di jenjang SMP. Temuan tersebut membuat fokus kegiatan ditata kembali. Kemampuan literasi dasar perlu menjadi perhatian terlebih dahulu.

Masalah berikutnya adalah keterbatasan buku. Anak-anak membutuhkan bahan bacaan untuk berlatih, sementara koleksi yang tersedia belum mencukupi.

Pada awal 2024, ketika berada di Jakarta, Dinda mengajak teman-temannya untuk mendonasikan buku yang nantinya dibawa ke Aceh. Respons yang diterima ternyata sangat besar. Ratusan buku berhasil dikumpulkan dan kemudian digunakan anak-anak untuk membaca. Saat itu, Dinda belum mengenal konsep TBM.

Mengenal Konsep TBM dan Resmi Berdiri

Pertengahan 2024 menjadi titik penting dalam perjalanan Lhee Club. Dinda berkenalan dengan pegiat literasi Pidie, Wulan, dan TBM Keranjang Pesisir. Dari perkenalan tersebut, Dinda mulai mengenal konsep Taman Bacaan Masyarakat.

Wulan juga membantu menghubungkan Lhee Club dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pidie. Proses tersebut kemudian mengantarkan Lhee Club menjadi TBM secara resmi pada 8 Oktober 2024 berdasarkan SK Camat.

Lhee Club mengambil nama dari Gampong Meunasah Lhee, tempat TBM ini berada. Dalam bahasa setempat, meunasah berarti mushola atau surau, sedangkan lhee berarti tiga. Nama tersebut berkaitan dengan sejarah kampung yang dahulu memiliki tiga surau.

Sementara itu, kata Club dipilih karena kegiatan awal Lhee Club merupakan kelas Bahasa Inggris informal. Penggunaan kata tersebut sekaligus menjadi cara untuk membiasakan anak-anak melihat dan menggunakan istilah Bahasa Inggris.

Nama Lhee Club akhirnya mempertemukan dua unsur. Lhee merepresentasikan identitas lokal, sedangkan Club membawa semangat untuk membuka ruang belajar yang lebih luas dan berorientasi global.

Lhee Club memiliki visi menjadi ekosistem belajar yang menyediakan ruang bersama dengan akses literasi, pendidikan lingkungan dan sosial, serta menjadi wadah inovasi yang inklusif di Kabupaten Pidie.

Visi tersebut diterjemahkan melalui tiga misi utama. Pertama, menyediakan perpustakaan yang mudah diakses masyarakat Pidie. Kedua, menyelenggarakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, terutama dalam bidang baca tulis, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Ketiga, mengupayakan ruang aman yang inklusif bagi masyarakat Pidie.

Saat ini Lhee Club telah memiliki 2.456 buku. Koleksi tersebut menjadi salah satu sumber utama dalam berbagai kegiatan literasi yang diselenggarakan.

Bangunan TBM berupa bale atau rumah panggung dengan satu ruangan dan satu beranda. Bangunan tersebut merupakan wakaf warga untuk kegiatan belajar di Dayah Istiqamatuddin Babul Huda. Tanah yang digunakan juga merupakan wakaf warga untuk dayah.

Fasilitas yang tersedia masih sederhana. Lhee Club memiliki satu unit laptop, satu kipas angin, satu rak buku hibah dari Badan Bahasa, dua rak buku besi, serta rak buku kayu yang menempel di dinding. Selain itu tersedia lima meja kayu, delapan bangku panjang, 15 meja lipat kecil, dua papan tulis, serta sekitar 10 jenis permainan, puzzle, dan kartu. Keterbatasan fasilitas tidak menghentikan kegiatan. Justru kondisi tersebut mendorong pengelola dan relawan untuk terus mencari cara agar ruang yang tersedia dapat digunakan secara maksimal.

Kelas Anak yang Beragam

Kegiatan anak menjadi salah satu program utama Lhee Club. Saat ini terdapat beberapa kelas rutin yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan literasi sekaligus kreativitas.

Book Circle merupakan kelas mengulas buku yang berlangsung satu kali dalam seminggu. Anak-anak bergiliran menceritakan kembali buku yang mereka baca selama satu minggu.

Ada pula Art & Craft, yaitu kelas membuat berbagai karya. Kegiatan dapat berupa menggambar, merajut, menjahit, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya.

Kelas Bahasa Inggris menjadi bagian dari kegiatan yang sudah dirintis sejak awal berdirinya Lhee Club. Kelas ini tetap berjalan sebagai salah satu program pembelajaran anak.

Lhee Club juga memiliki Kelas Jurnaling. Anak-anak mendapatkan pertanyaan atau prompt untuk mengekspresikan diri. Mereka dapat menuangkannya melalui tulisan, gambar, kolase, maupun bentuk ekspresi lainnya.

Sementara itu, Kelas Lingkungan mengajak anak-anak belajar memilah sampah dan memanfaatkan kembali sisa konsumsi agar dapat digunakan untuk keperluan lain.

Rangkaian kelas tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Lhee Club tidak hanya berfokus pada membaca buku. Literasi dikembangkan melalui membaca, berbicara, menulis, berkarya, mengenali lingkungan, dan belajar memahami diri.

Selain kelas anak, Lhee Club mengembangkan kegiatan untuk masyarakat umum melalui Lapak Literasi. Kegiatan ini berlangsung dua minggu sekali. Buku-buku dibawa ke ruang publik agar masyarakat dapat membaca dan meminjam koleksi yang tersedia. Kegiatan juga dilengkapi diskusi untuk mengulas buku yang sedang dibaca.

Lapak Literasi tidak selalu berbentuk kegiatan membaca. Pada kesempatan tertentu, kegiatan diisi dengan diskusi tentang isu sosial, menonton film dokumenter bersama, maupun kelas kreatif.

Program ini menjadi salah satu cara Lhee Club memperluas layanan. Jika pada awalnya Lhee Club lebih banyak melayani anak-anak, kini masyarakat umum juga dapat terlibat.

Kegiatan pengembangan kapasitas relawan juga berjalan secara rutin melalui Mentoring Relawan. Pertemuan mingguan digunakan untuk membahas berbagai aktivitas Lhee Club sekaligus meningkatkan keterampilan relawan.

Kelas Bahasa Inggris menjadi salah satu contoh kegiatan peningkatan kapasitas. Lhee Club juga berkolaborasi dengan mentor untuk menyelenggarakan kelas daring, seperti kelas media sosial dan kelas pemandu wisata.

Menguatkan Kolaborasi

Perjalanan Lhee Club tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Kolaborasi diawali dari para donatur pribadi yang hingga kini masih berkontribusi dalam pengembangan Lhee Club.

Saat ini Lhee Club bermitra dengan Mosa Coffee di Sigli, Pidie sebagai lokasi kegiatan Lapak Literasi. Lhee Club juga bekerja sama dengan SimonDhoni Studio, biro arsitek di Medan yang menyediakan desain untuk rencana perluasan bangunan Lhee Club.

Sebelumnya, Lhee Club telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah, antara lain Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pidie, Badan Bahasa Kemendikdasmen, dan Perpustakaan Nasional RI.

Kolaborasi juga dilakukan dengan berbagai komunitas di Pidie dan daerah lain. Di antaranya berbagai TBM anggota Forum TBM Pidie, Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Pidie, Caladium Art Studio Sigli, Komunitas Beulangong Tanoh Sigli, Komunitas Aneuk Muda Lambroeh Sigli, Sophie’s Sunset Library Banda Aceh, Sekolah Perkasa Alam Banda Aceh, Gramedia Banda Aceh, Habitus History Banda Aceh, Chiccraft Library Banda Aceh, Komunitas Hebat Medan, Peribumi Jakarta, Buibu Baca Buku Book Club Jakarta, Yayasan Litara Jakarta, Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta, Gulali Festival Jogja, Sahabat Alam Cilik Malang, serta berbagai pihak lainnya.

Tantangan di Tengah Masyarakat

Pengembangan kegiatan literasi di Lhee Club tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah segregasi antara laki-laki dan perempuan yang cukup kuat di wilayah tersebut. Kondisi ini membuat Lhee Club masih sering mengalami kesulitan mengajak anak laki-laki untuk terlibat dalam kegiatan.

Tantangan lain berkaitan dengan cara masyarakat memandang kegiatan literasi. Masyarakat setempat umumnya lebih mengutamakan kegiatan keagamaan dan ibadah. Akibatnya, kegiatan literasi, terutama yang berkaitan dengan seni dan budaya, belum selalu dianggap sebagai kebutuhan penting.

Keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan fasilitas yang masih sederhana, Lhee Club harus terus mencari cara kreatif dan inovatif agar kegiatan tetap dapat berjalan.

Meraih Apresiasi pada 2025

Upaya Lhee Club mendapatkan apresiasi pada tahun 2025. Lhee Club meraih Juara 3 Penyelenggaraan Perpustakaan Umum, Kategori Perpustakaan Masyarakat Terbaik di Wilayah I Sumatra yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.

Pada tahun yang sama, Lhee Club juga menjadi Penerima Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat Apresiasi Bagi Komunitas Literasi dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Apresiasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Lhee Club dalam mengembangkan kegiatan literasi berbasis masyarakat di Kabupaten Pidie.

Lapak Literasi Spesial Kemerdekaan

Kegiatan terbaru Lhee Club berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026 di Mosa Coffee, Sigli, Pidie. Lapak Literasi kali ini dibuat dalam edisi khusus karena masih berada dalam suasana peringatan kemerdekaan. Lhee Club membawa koleksi buku bertema Indonesia ke lokasi kegiatan.

Peserta mengikuti kegiatan membaca senyap atau silent reading bersama. Setelah membaca, peserta berdiskusi mengenai buku yang dipilih dan membicarakan kondisi Indonesia terkini.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana Lapak Literasi dapat menjadi ruang pertemuan antara buku, pembaca, dan percakapan tentang lingkungan sosial di sekitar.

Menuju Lhee Club yang Lebih Mandiri

Lhee Club telah menyiapkan sejumlah program baru yang akan mulai dijalankan pada bulan depan. Salah satu fokusnya adalah menggali sejarah Pidie dan merancang tur jalan kaki atau walking tour. Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat Pidie mengenal sejarah dan budaya lokal sekaligus menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para pendatang.

Lhee Club juga mulai menyiapkan berbagai kegiatan usaha untuk membangun kemandirian finansial. Rencananya mencakup pembuatan merchandise, penyelenggaraan kelas kreatif berbayar, serta produksi zine dan buku.

Rencana lain adalah menggalang kolaborasi untuk memperbaiki dan memperluas bangunan TBM Lhee Club. Rencana tersebut akan mengacu pada desain yang telah dibuat oleh SimonDhoni Studio dari Medan.

Meski demikian, program baru tersebut tidak menggantikan kegiatan yang selama ini telah berjalan. Kelas rutin anak seperti Bahasa Inggris, Book Circle atau ulasan buku, kelas menulis, seni dan kerajinan, serta kelas lingkungan tetap dilaksanakan. Lapak Literasi dua mingguan dan Mentoring Relawan juga tetap menjadi bagian dari kegiatan Lhee Club.

Dari Ruang Kecil untuk Gerakan yang Lebih Luas

Saat ini TBM Lhee Club dikelola oleh Dinda Jouhana sebagai pendiri sekaligus ketua, bersama 12 relawan, yaitu Aban Al Hafi, Aulia Ikhsani, Amelia Suri Inanda, Anissa Fadya Saputri, Cut Mutia, Fauzaya, Haya Ryana Ramadhani, Khalil MUbarat, Liza Febriyani, Miftahul Jannah, Tarkiratun Naisa, dan Tuti Fhariyanti.

Lhee Club tercatat sebagai anggota Forum TBM dengan nomor 011624.01-4469 dan memiliki NPP 1107184J0000001.

Perjalanan Lhee Club memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan dapat tumbuh dari kebutuhan yang ditemukan langsung di lingkungan sekitar. Bermula dari kelas Bahasa Inggris informal untuk beberapa santri pada 2022, kegiatan tersebut berkembang menjadi ruang literasi yang menyediakan buku, kelas anak, kegiatan lingkungan, ruang kreatif, Lapak Literasi, serta pengembangan kapasitas relawan.

Dengan identitas yang berakar pada Gampong Meunasah Lhee dan semangat untuk membuka akses belajar yang lebih luas, Lhee Club terus mengembangkan perannya di Kabupaten Pidie. Informasi dan kegiatan terbaru Lhee Club dapat diikuti melalui Instagram @lheeclub.

Loading

Penulis: MunasyarohEditor: Heri