Kabar  

TBM Didorong Menjadi Ruang Ketiga untuk Memperkuat Literasi dan Kepercayaan Diri Anak

JAKARTA — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) didorong untuk memperkuat perannya sebagai ruang belajar alternatif yang tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, dan keterampilan sosial anak. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) mengenai hasil Programme for International Student Assessment (PISA).

Dalam diskusi tersebut, Helmi menyampaikan bahwa persoalan literasi anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan merefleksikan isi bacaan. Menurutnya, masih ditemukan anak-anak yang mampu membaca teks, tetapi belum dapat memahami makna serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Selain kemampuan membaca, Helmi menyoroti pengaruh teknologi terhadap kebiasaan belajar anak. Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menyelesaikan tugas sekolah dinilai menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penguatan budaya membaca. Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri anak agar berani berbicara dan menyampaikan pendapat.

Sementara itu, Anggi Afriansyah menempatkan persoalan literasi sebagai isu publik yang tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Ia menjelaskan bahwa TBM memiliki peluang untuk berkontribusi dalam membangun minat baca, rasa ingin tahu, kemampuan bernalar, dan kemandirian anak.

Anggi mendorong TBM untuk menjalankan peran sebagai ruang ketiga (third space), yaitu ruang di luar rumah dan sekolah yang memungkinkan anak membaca, berdiskusi, berefleksi, serta mengembangkan pemikiran kritis. Menurutnya, kegiatan TBM perlu melampaui pencatatan jumlah pengunjung, koleksi, dan kegiatan, dengan memperhatikan perubahan yang dialami anak-anak sebagai pengguna layanan.

Ia juga menekankan pentingnya menyediakan bacaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak serta mendorong kegiatan diskusi yang dapat meningkatkan kemampuan memahami informasi. Dalam pandangannya, TBM dapat berkontribusi terhadap penguatan literasi masyarakat melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pandangan lain disampaikan Syaeful Cahyadi yang mengingatkan bahwa TBM memiliki karakteristik dan latar belakang yang beragam. Sebagian TBM lahir dari keresahan personal masyarakat dan berkembang melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti perpustakaan, sanggar seni, maupun sanggar sastra. Karena itu, ia mempertanyakan arah pengembangan TBM apabila terlalu diarahkan untuk mengikuti pola pendidikan formal.

Menurut Syaeful, TBM sebaiknya tetap mempertahankan karakter sebagai ruang nonformal yang menyenangkan bagi anak. Selain menjadi tempat membaca dan belajar, TBM perlu menyediakan ruang bagi anak untuk bermain, berekspresi, mengembangkan minat, serta memperoleh dukungan terhadap berbagai gagasan dan cita-cita mereka.

Ia membagikan pengalaman mengelola ruang belajar di Dusun Jelekongan, Sleman, yang kemudian berkembang menjadi perpustakaan. Dalam pengalamannya, TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam dan membaca buku, tetapi juga sebagai ruang pertemuan yang mempertemukan anak-anak dengan orang lain yang dapat mendukung perkembangan mereka.

Syaeful mencontohkan bagaimana TBM dapat membantu anak-anak yang memiliki keinginan mengikuti lomba menulis puisi atau membuat film. Melalui pendampingan dan jejaring, anak-anak diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi serta membangun keberanian dalam mewujudkan keinginannya.

Diskusi tersebut memperlihatkan adanya beragam pandangan mengenai hubungan antara hasil PISA dan peran TBM. Para narasumber menekankan bahwa data PISA dapat menjadi bahan refleksi, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan seluruh pengalaman, kebiasaan, dan kontribusi TBM di masyarakat.

Dalam pembahasan lanjutan, Helmi menegaskan pentingnya bagi TBM untuk membaca perubahan lingkungan dan menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan anak-anak. Di sisi lain, ciri khas masing-masing TBM tetap perlu dipertahankan agar pengembangan program tidak menghilangkan identitas serta konteks lokal komunitas.

Melalui diskusi ini, TBM dipandang memiliki peluang untuk memperkuat kontribusi dalam pendidikan dan literasi masyarakat, baik melalui pengembangan kemampuan membaca maupun penciptaan ruang yang mendukung kepercayaan diri, kreativitas, dan partisipasi anak.

Diskusi berjalan lancar dipimpin oleh moderator dari Rumah Baca Anak Nagari, Kak Sri.

Loading